News / Internasional
Selasa, 10 Maret 2026 | 15:59 WIB
Ilustrasi - Anggota Satuan Aerospace Pasukan Garda Revolusi Islam Iran memberi hormat di base rudal bawah tanah dengan unit pelontar di lokasi yang dirahasiakan, di foto yang tidak bertanggal dari Fars News. [Fars News]
Baca 10 detik
  • Iran merancang konsep "decentralised mosaic defence" agar militernya tetap bisa beroperasi penuh meski komandan senior gugur atau ibu kota hancur dibombardir.
  • Teheran menolak peperangan singkat dengan mengubah konflik menjadi perang panjang yang menguras logistik serta finansial musuh, salah satunya lewat drone Shahed.
  • Konsep "fourth successor" memastikan setiap posisi krusial memiliki empat pengganti untuk mencegah kelumpuhan negara saat menghadapi serangan pemenggalan.

Ketimpangan biaya militer inilah yang pada akhirnya berhasil mengubah elemen waktu menjadi senjata strategis untuk menguras batas kesabaran dan kondisi finansial pihak penyerang.

Puncak dari skenario perang panjang ini terwujud dalam kebijakan suksesi kepemimpinan berlapis yang kini dikenal luas oleh para analis sebagai "fourth successor".

Sebelum kematiannya, sang Pemimpin Tertinggi dilaporkan telah menginstruksikan pembentukan empat nama calon pengganti sekaligus untuk disiapkan pada setiap posisi sipil maupun militer yang krusial.

Langkah pencegahan ekstrem ini sengaja diambil agar skenario pembunuhan massal terhadap tokoh-tokoh kunci tidak akan pernah bisa menciptakan kelumpuhan sistemik di dalam pemerintahan.

Bahkan, sebuah lingkaran dalam yang sangat rahasia juga telah diberi wewenang penuh untuk mengambil deretan keputusan darurat apabila jalur komunikasi dengan petinggi negara benar-benar terputus.

Semua lapisan pertahanan ini menjadi bukti kuat bahwa sistem mereka memang tidak pernah dirancang untuk memenangkan pertempuran singkat, melainkan untuk memastikan negara tetap bisa memberikan perlawanan usai melewati kehancuran total.

Load More