- Sebanyak 110 anak tewas akibat proyektil canggih menghantam fasilitas militer di selatan Iran.
- Pengamat militer menduga amunisi yang digunakan adalah rudal jelajah Tomahawk yang dimiliki AS.
- Rudal Tomahawk adalah rudal jelajah jarak jauh subsonik, diproduksi RTX untuk serangan presisi darat.
Suara.com - Sebanyak 110 anak dilaporkan tewas setelah sebuah proyektil canggih menghancurkan fasilitas pangkalan militer yang berdampingan dengan area pendidikan di selatan Iran.
Data dari pemerintah setempat menyebutkan bahwa mayoritas korban meninggal dunia merupakan anak-anak.
Kantor berita Mehr merilis video yang menunjukkan detik-detik mengerikan saat senjata pemusnah itu menghantam sasarannya.
Para pengamat militer menekankan bahwa jenis amunisi yang digunakan adalah rudal jelajah jarak jauh tipe Tomahawk.
Identifikasi ini menjadi krusial karena teknologi Tomahawk hanya dioperasikan secara resmi oleh militer Amerika Serikat.
Lalu, apa itu rudal Tomahawk?
Melansir berbagai sumber, Rudal Tomahawk (BGM-109) adalah rudal jelajah (cruise missile) subsonik jarak jauh, segala cuaca, yang diproduksi oleh RTX.
Dirancang untuk serangan presisi terhadap sasaran darat bernilai tinggi, rudal ini diluncurkan dari kapal permukaan atau kapal selam dengan jangkauan 1.250–2.500 km, serta mampu terbang rendah untuk menghindari radar.
Rudal ini dikenal akurat, digunakan untuk menyerang target darat, pertahanan udara, dan jaringan listrik. Rudal ini terbang dengan kecepatan subsonik (sekitar 885 km/jam) di ketinggian rendah, membuatnya sulit dideteksi.
Baca Juga: Begini Cara Kerja Drone MQ-9 Reaper AS yang Ditembak Jatuh Militer Iran
Untuk sistem pandu, rudal tersebut menggunakan kombinasi GPS, radar Terrain Contour Matching (TERCOM), dan Digital Scene Matching Area Correlation (DSMAC) untuk presisi tingkat tinggi.
Rudal ini juga dirancang untuk diluncurkan dari tabung torpedo kapal selam, sel peluncur vertikal kapal permukaan (VLS), atau peluncur darat.
Sedangkan untuk hulu ledak, umumnya membawa hulu ledak konvensional seberat 453 kg (1.000 pon), namun desain aslinya memungkinkan penggunaan hulu ledak nuklir, meskipun sekarang lebih difokuskan pada peran konvensional.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Media Italia Bongkar Ada Kontrak Lebih dari Rp25 T di Balik Hibah Kapal Induk Giuseppe Garibaldi
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Pilihan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
Terkini
-
The East Palace: Kisah Epik Perebutan Takhta dengan Balutan Horor yang Nagih
-
Kondisi Terkini Hotel Sultan: Lengang, Dipagari Beton dan Dijaga Kendaraan Taktis Polisi
-
Suami Guru di Tanjungbalai Jadi Tersangka Kasus Pencabulan, Terancam 9 Tahun Penjara
-
Wakil Jaksa Agung Bantah Rotasi Pejabat Kejagung Buntut Kasus Febrie Adriansyah, Tapi Penyegaran
-
Desain KDMP Dinilai Melenceng, Berisiko Jadi Proyek Politik Pemerintah
-
Prancis Bak Neraka Bocor, 20 Ribu Warlok dan Turis Dievakuasi Akibat Kebakaran Hutan Ekstrem
-
Here We Go! Daftar Resmi Pemain Timnas Indonesia untuk Piala AFF 2026: Bertabur Bintang
-
Pembangunan Daerah Terus Berjalan, Dasco - Cucun Terima Dialog APKASI
-
KPK Buka Peluang Periksa Nusron Wahid Terkait Kasus Bupati Kuansing
-
Bukan Cedera, Ini Alasan Debut Mariano Peralta Bersama Persib Tertunda