- Menteri Perang AS, Pete Hegseth, menyatakan Rusia tidak boleh ikut campur dalam perang AS dan Israel melawan Iran.
- Pernyataan ini disampaikan saat konferensi pers Pentagon pada Selasa (10/3/2026) setelah dialog Trump-Putin.
- Rusia membantah tudingan berbagi intelijen dengan Iran mengenai posisi aset militer Amerika Serikat di Timur Tengah.
Suara.com - Menteri Perang Amerika Serikat, Pete Hegseth, menegaskan Rusia tidak seharusnya ikut campur dalam perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers Pentagon pada Selasa (10/3/2026) waktu setempat.
Pernyataan Hegseth muncul sehari setelah Presiden Donald Trump berbicara melalui telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Percakapan tersebut disebut menyinggung konflik global yang sedang berlangsung.
“Saya tidak ikut dalam pembicaraan itu, tetapi mereka yang hadir mengatakan percakapan tersebut sangat kuat,” kata Hegseth dikutip dari NY Post.
Ada pengakuan bahwa terkait konflik ini, Rusia seharusnya tidak terlibat.”
Laporan sebelumnya menyebut Kremlin diduga memberikan informasi intelijen kepada Iran mengenai posisi aset militer Amerika di Timur Tengah.
Informasi itu diyakini membantu Teheran melakukan serangan terhadap sistem pertahanan AS.
Namun tudingan tersebut dibantah oleh pihak Rusia. Utusan khusus AS, Steve Witkoff, mengatakan Moskow telah menyangkal laporan tersebut secara langsung kepada Washington.
Baca Juga: Hilang dari Publik, Media Iran Rilis 5 Indikator Benjamin Netanyahu Tewas
“Kami bisa menerima pernyataan mereka,” kata Witkoff kepada CNBC.
“Dalam pembicaraan dengan presiden kemarin, Rusia mengatakan mereka tidak berbagi intelijen. Itu yang mereka sampaikan.”
Sementara itu, Presiden Trump mengungkap isi percakapannya dengan Putin dalam konferensi pers di Florida Selatan.
Ia mengatakan pemimpin Rusia tersebut mengaku terkesan dengan kekuatan militer Amerika dalam operasi melawan Iran.
“Kami membicarakan hal itu dengan Presiden Putin. Dia sangat terkesan dengan apa yang dia lihat,” ujar Trump. “Iran sebelumnya memiliki militer yang cukup kuat.”
Meski demikian, Putin secara terbuka tetap menunjukkan dukungan terhadap Iran.
Ia bahkan mengucapkan selamat kepada pemimpin baru Iran, Mojtaba Khamenei, yang menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei.
Kontributor: Adam Ali
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Kulkas 1 Pintu Anti Bunga Es dan Hemat Listrik, Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Tok! Panja DPR Sepakati RUU Polri: Usia Pensiun Bintara 59 Tahun, Perwira 60 Tahun
- Resmi! Chatib Basri Dapat Jabatan Baru Hari Ini
- Beda Cushion Wardah Colorfit Hijau dan Krem: Intip Harga, Kandungan, dan Manfaatnya
- 5 HP Android dengan Kualitas Setara iPhone 13 Pro dan iPhone 13 Pro Max
Pilihan
-
Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
-
Namanya Terseret Isu Dugaan Korupsi BGN, Yahya Golkar: Semua Anggota Komisi IX DPR Tak Terlibat!
-
Perhatian! Harga Pertamax Naik Jadi Rp 16.250/Liter
-
Susunan Pemain Timnas Indonesia vs Mozambik di FIFA Matchday Malam Ini
-
Menkes Budi Gunadi Sadikin Susul Chatib Basri dan Luhut ke Istana
Terkini
-
Jabatan Kapolri Kini Bisa Diperpanjang Sesuai Kebutuhan Presiden, Ini Bunyi Pasal Terbaru UU Polri
-
Kantongi 5 Alat Bukti, Bareskrim Polri Jerat Founder PT DSI Sebagai Tersangka Baru
-
Nama Pimpinan Masuk Polemik Kasus BGN, KPK Klarifikasi Yayasan Fitroh Tak Terkait Dapur MBG
-
Nama Fitroh Disebut Masuk BAP Kasus MBG, KPK Tegaskan Pimpinannya Tak Kenal Sony Sonjaya
-
Kejagung Pelajari Pengajuan Justice Collaborator Sony Sonjaya di Kasus Korupsi MBG
-
Pemerintah Diminta Tidak Perkeruh Ekonomi dengan Regulasi yang Membingungkan
-
Prabowo Jawab Kritik Sering ke Luar Negeri: Dulu Pak Jokowi Jarang Lawatan Juga Disalahkan
-
BTN JAKIM 2026 Hadirkan Race Expo di Balai Kartini dengan Promo Menarik dan Brand Ternama
-
Pemerintah Persilakan Kejagung Usut Siapapun Terlibat Korupsi BGN, Tak Peduli Jabatannya
-
Uang Pengganti Membengkak Jadi Rp13,4 Triliun, Kerry Riza Tak Terima dan Ajukan Kasasi