- Serangan rudal pada 28 Februari di sekolah putri Shajareh Tayyebeh, Minab, Iran, menewaskan lebih dari 170 orang.
- Penyelidikan awal militer Amerika Serikat mengindikasikan kesalahan intelijen penargetan berdasarkan data usang.
- Iran menuding koalisi AS dan Israel, sementara PBB meminta pelaku menyelidiki insiden tersebut tanpa menyebutkan nama.
Suara.com - Serangan rudal yang menghantam sekolah putri di kota Minab, Iran, menjadi insiden paling mematikan sejak pecahnya perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Lebih dari 170 orang, sebagian besar siswi dan guru, dilaporkan tewas setelah bangunan sekolah Shajareh Tayyebeh runtuh akibat ledakan pada 28 Februari.
Pemerintah Iran menuding koalisi Amerika Serikat dan Israel sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyebut serangan itu sebagai kejahatan terhadap warga sipil.
“Sekolah perempuan dihancurkan dan anak-anak tak berdosa terbunuh. Kejahatan terhadap rakyat Iran ini tidak akan dibiarkan tanpa balasan,” tulis Araghchi dalam pernyataannya dilansir dari Aljazeera
Sekolah yang berada di Provinsi Hormozgan itu terletak dekat fasilitas militer Garda Revolusi Iran.
Ledakan terjadi sekitar pukul 10.45 waktu setempat, saat aktivitas belajar sedang berlangsung, menyebabkan atap bangunan dua lantai runtuh menimpa siswa dan guru.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyebut serangan tersebut sebagai kejahatan kemanusiaan dan meminta Dewan Keamanan PBB segera bertindak.
Sayangnya protes keras Iran kepada PBB seprti dianggap 'angin lalu'. Organisasi yang katanya menjaga perdamaian dunia ini tidak berani secara terang benderang menyebut AS sebagai pelakunya.
Baca Juga: AS Bunuh Ali Khamenei, Menteri Olahraga Iran: Kami Mundur dari Piala Dunia 2026
Pernyataan yang disampaikan pihak PBB pun terkesan normatif.
Panel ahli di bawah PBB dalam pernyataan awalnya menyebut mereka sangat terganggu dengan serangan brutal ke sekolah putri Iran tersebut.
“Komite sangat khawatir oleh laporan serangan terhadap infrastruktur sipil, termasuk sekolah dan rumah sakit, yang melukai dan membuat trauma anak-anak serta merenggut banyak nyawa muda.” kata pernyataan Komite Hak Anak PBB seperti dilansir dari Reuters.
“Anak-anak harus dilindungi dari perang.” tambah mereka.
Kantor HAM PBB juga meminta pihak yang berada di balik serangan untuk menyelidiki insiden tersebut, tetapi tidak menyebut secara langsung siapa pelakunya.
PBB meminta “kekuatan di balik serangan mematikan terhadap sekolah putri di Iran untuk menyelidiki dan membagikan hasilnya.”
Berita Terkait
-
AS Bunuh Ali Khamenei, Menteri Olahraga Iran: Kami Mundur dari Piala Dunia 2026
-
Tiarap! Eks Intel US Army Bongkar Jenis Drone Kamikaze Iran Bisa Hantam Jantung AS
-
Investigasi Militer Amerika Akui Kesalahan Fatal: Rudal Tomahawk Hantam Sekolah di Iran
-
Blunder Pejabat AS, Iran Tertawakan Klaim Bohong Antek Zionis Berani Masuk Selat Hormuz
-
India Kiamat Makanan Panas karena Perang AS - Iran, Rakyatnya Dilarang Ngopi
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Sayembara Rp10 Juta Dedi Mulyadi Dikritik UGM, Dinilai Cermin Gagalnya Negara Jamin Keamanan
- Tak Terima Disita, Pemilik Emas dan Uang Sitaan Kejagung di Kasus Febrie Bakal Ajukan Praperadilan
- Serum Viva untuk Flek Hitam Warna Apa? Ini 2 Varian Terbaiknya
- 5 Rekomendasi Parfum Aroma Vanilla di Alfamart, Wangi Mewah Tahan Lama untuk Harian
Pilihan
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
-
Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
-
Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
Terkini
-
Hattrick Mewah Mitchell Baker Bawa Indonesia Bantai Kamboja 5-1 di Piala AFF 2026
-
Beri Kepastian Lahan bagi Masyarakat, Kemenhut Realisasikan 3,11 Juta Hektare TORA
-
Pendaki Gunung Dempo yang Bikin Geger karena Senapan Angin Berhasil Dievakuasi
-
Hasil Akhir: Awal Sempurna Piala AFF 2026, Timnas Indonesia Gasak Kamboja 5-1
-
Akademisi Binus: Dugaan Korupsi Eks Jampidsus Bernilai Besar, Penanganannya Tak Boleh Istimewa
-
Tren Belanja Parfum Berubah, Pengalaman Mencoba Aroma Kini Jadi Daya Tarik
-
Bukan Sekadar Cantik, Makeup Kini Dituntut Praktis dan Nyaman Dipakai Seharian
-
Tak Ada di KUHAP, Penanganan Kasus Eks Jampidsus Tak Boleh Diberi Perlakuan Istimewa
-
Aroma Persaingan Pileg 2029 Mulai Terasa, Waketum PAN Soroti Keberanian Kaesang Nyaleg di Jateng
-
Viral Kabar Ajudan Febrie Adriansyah Ditembak Orang Misterius, Polisi: Hoaks