- Indonesia menyepakati pembelian sistem rudal supersonik BrahMos dari India guna memodernisasi pertahanan maritim nasional.
- Rudal BrahMos Mach 3 ini memberi Indonesia keunggulan strategis untuk mengendalikan jalur suplai energi vital China.
- Akuisisi ini membawa potensi risiko sanksi AS melalui CAATSA, meskipun Washington cenderung melunak terhadap pembeli rudal tersebut.
Mengunci "Leher" Pasokan Energi China
Analisis mendalam dari para pakar menunjukkan bahwa BrahMos memberikan Indonesia keunggulan strategis yang belum pernah ada sebelumnya.
Melalui penempatan rudal anti-kapal berbasis darat, Indonesia kini memiliki kendali atas titik-titik krusial maritim (chokepoints) yang sangat vital bagi ekonomi China.
Dalam artikel di The Strategist, peneliti Alfin Basundoro dan Trystanto Sanjaya berargumen Indonesia memiliki pengungkit strategis yang signifikan terhadap China.
Sebab, kata dia, perdagangan dan impor energi negeri itu sangat bergantung pada jalur laut yang melewati perairan Indonesia.
Jalur-jalur tersebut, terutama Selat Malaka serta rute kepulauan seperti Selat Sunda, Lombok, dan Makassar, membawa sebagian besar perdagangan maritim dan pasokan energi China dari Timur Tengah ke Asia Timur.
Karena memblokir atau mengganggu rute-rute ini akan berdampak parah pada ekonomi dan rantai pasokan China, maka Beijing dipaksa untuk menjaga hubungan baik dengan Jakarta.
Ketergantungan ini memberi Indonesia keleluasaan lebih besar untuk melawan tekanan China dalam perselisihan terkait Natuna tanpa membahayakan hubungan ekonomi secara serius.
Risiko Sanksi AS
Baca Juga: Minyak Dunia Tembus USD 120, APBN 2026 Terancam Jebol? Cek Faktanya
Namun, akuisisi BrahMos bukan tanpa kendala. Peneliti Andi Ashar menunjukkan Indonesia mungkin menghadapi kesulitan dalam mengintegrasikan BrahMos dengan sistem radar pantai buatan Barat atau Combat Management Systems (CMS) yang ada di kapal perang TNI.
Memiliki banyak penyedia senjata memperumit logistik dan interoperabilitas, yang berpotensi memengaruhi efektivitas tempur.
Selain itu, bayang-bayang sanksi Amerika Serikat melalui Countering America’s Adversaries Through Sanctions Act (CAATSA) tetap menghantui.
Mengingat Rusia memegang 49,5 persen saham di BrahMos Aerospace, Indonesia secara teknis berisiko terkena sanksi.
Apalagi kekinian Presiden AS Donald Trump dikenal sebagai sosok yang keras dan gemar memberikan sanksi kepada negara-negara yang dinilainya mengancam.
Hal serupa pernah terjadi saat Indonesia terpaksa membatalkan pembelian 11 jet tempur Su-35 Rusia pada Desember 2021.
Mantan Kepala Staf Angkatan Udara, Marsekal Fadjar Prasetyo, saat itu menekankan bahwa dengan "hati yang berat" Indonesia harus mengambil keputusan pembatalan tersebut.
Meskipun demikian, posisi AS tampaknya akan melunak. Washington sejauh ini belum menjatuhkan sanksi CAATSA kepada India dan Filipina yang sudah lebih dulu mengoperasikan BrahMos.
Hal ini kemungkinan besar karena pengadaan rudal tersebut sejalan dengan kepentingan Amerika Serikat untuk membendung ekspansi China di kawasan Indo-Pasifik.
Tag
Berita Terkait
-
Minyak Dunia Tembus USD 120, APBN 2026 Terancam Jebol? Cek Faktanya
-
Pertempuran Udara: Iran Tembak Jatuh Pesawat Tanker AS di Langit Irak
-
AS Akui Tentaranya Tak Berdaya Kawal Kapal Tanker Lewati Selat Hormuz
-
Spanyol Berani Lawan Gertakan Trump: Kami Tidak Takut!
-
Update Korban Serangan AS-Israel: 414 Wanita dan Anak Iran Tewas, Bayi 8 Bulan Jadi Korban
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Sayembara Rp10 Juta Dedi Mulyadi Dikritik UGM, Dinilai Cermin Gagalnya Negara Jamin Keamanan
- Tak Terima Disita, Pemilik Emas dan Uang Sitaan Kejagung di Kasus Febrie Bakal Ajukan Praperadilan
- Serum Viva untuk Flek Hitam Warna Apa? Ini 2 Varian Terbaiknya
- 5 Rekomendasi Parfum Aroma Vanilla di Alfamart, Wangi Mewah Tahan Lama untuk Harian
Pilihan
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
-
Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
-
Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
Terkini
-
Bank Sumsel Babel Perkuat Pembiayaan UMKM, Dukung Target 100.000 Sultan Muda Sumsel
-
Intimidasi Satpam MRT Usai Terobos Lampu Merah, 3 Polisi Arogan Polda Jabar Di Patsus 21 Hari
-
Polres Tangsel Buka-bukaan Soal Kasat Narkoba dan 6 Anggotanya Diringkus Bareskrim Polri
-
Cegah Ledakan Sampah Saat Kemarau, DLH dan Damkar Tangsel Kolaborasi Semprot TPA Cipeucang
-
Hattrick Mewah Mitchell Baker Bawa Indonesia Bantai Kamboja 5-1 di Piala AFF 2026
-
Pendaki Gunung Dempo yang Bikin Geger karena Senapan Angin Berhasil Dievakuasi
-
Hasil Akhir: Awal Sempurna Piala AFF 2026, Timnas Indonesia Gasak Kamboja 5-1
-
Akademisi Binus: Dugaan Korupsi Eks Jampidsus Bernilai Besar, Penanganannya Tak Boleh Istimewa
-
Tren Belanja Parfum Berubah, Pengalaman Mencoba Aroma Kini Jadi Daya Tarik
-
Bukan Sekadar Cantik, Makeup Kini Dituntut Praktis dan Nyaman Dipakai Seharian