News / Internasional
Jum'at, 13 Maret 2026 | 14:46 WIB
Selat Hormuz
Baca 10 detik
  • Iran menyerang berbagai kapal tanker internasional dan mewajibkan izin melintas di Selat Hormuz.

  • Serangan proyektil menyebabkan korban jiwa dan kerusakan kapal dari berbagai negara di wilayah.

  • Teheran mengancam blokade minyak total terhadap Amerika Serikat, Israel, dan sekutu-sekutu mereka.

Suara.com - Situasi keamanan di perairan Selat Hormuz saat ini sedang berada dalam kondisi yang sangat genting dan berbahaya.

Ketegangan yang melibatkan Iran dengan Washington serta Tel Aviv memicu rentetan insiden kekerasan di jalur neraka tersebut.

Operasi militer yang menyasar kapal-kapal komersial dilaporkan semakin intensif terjadi dalam kurun waktu beberapa hari terakhir ini.

Pihak berwenang dari Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC secara terbuka telah mengeluarkan instruksi yang sangat ketat.

Laksamana Alireza Tangsiri selaku Komandan Angkatan Laut IRGC menegaskan bahwa kontrol penuh atas wilayah perairan berada di tangan mereka.

Dampak dari memanasnya suhu politik ini merembet hingga ke wilayah kedaulatan tetangga Iran yakni negara Irak.

Aksi sabotase udara dilaporkan telah menghantam dua unit kapal tanker minyak yang sedang berada di laut Irak.

Laporan resmi menyebutkan bahwa serangan yang terjadi pada hari Kamis tersebut mengakibatkan jatuhnya korban jiwa di lokasi.

Letnan Jenderal Saad Maan selaku juru bicara militer setempat mengonfirmasi adanya satu kru yang tewas dalam kejadian itu.

Baca Juga: Kesal dengan Israel, Kim Jong Un Kepikiran soal Perang Nuklir

Petugas penyelamat berhasil mengevakuasi sebanyak 38 orang lainnya yang terjebak dalam insiden di kawasan pelabuhan Al Faw.

Pemerintah Irak menyatakan keberatan yang sangat keras atas tindakan militer yang merusak stabilitas keamanan di wilayah teritorial mereka.

Ia menegaskan serangan itu merupakan pelanggaran kedaulatan Irak karena terjadi di dalam perairan teritorial Irak.

Baghdad kini sedang mempertimbangkan langkah-langkah strategis untuk merespons insiden yang merugikan industri minyak mereka tersebut.

Selain tanker minyak, kapal pengangkut barang milik perusahaan Thailand juga tidak luput dari sasaran serangan udara Iran.

Kapal kargo bernama Mayuree Naree dilaporkan mengalami kebakaran hebat di bagian buritan saat melintasi jalur distribusi energi tersebut.

Laksamana Muda Parach Rattanachaiphan memberikan rincian mengenai kondisi kapal yang memiliki bobot mencapai 30.000 ton tersebut secara detail.

"Kapal kargo Thailand Mayuree Naree, dengan bobot 30.000 ton, diserang dari udara pada Rabu pagi," kata Rattanachaiphan.

Aksi kekerasan di laut ini juga berdampak pada kapal Safesea Vishnu yang terdaftar di bawah bendera Kepulauan Marshall.

Kapal lainnya yang menjadi sasaran adalah Zefyros yang sebelumnya diketahui baru saja melakukan pengisian bahan bakar di Irak.

Pihak keamanan pelabuhan menemukan indikasi adanya korban jiwa dari warga negara asing dalam rangkaian serangan beruntun ini.

Hingga saat ini tim evakuasi masih terus bekerja keras menyisir perairan untuk mencari pelaut yang dinyatakan hilang misterius.

Data intelijen maritim menunjukkan bahwa Safesea Vishnu dioperasikan oleh grup transportasi yang memiliki basis operasional di Amerika Serikat.

Sementara itu kapal Zefyros yang berbendera Malta kini menjadi perhatian internasional setelah data nama awak kapalnya diserahkan kepada media.

Kapal Express Room yang berlayar menggunakan bendera Liberia menjadi target proyektil Iran karena dianggap melanggar aturan navigasi lokal.

Pihak IRGC menuduh kapal tersebut sengaja tidak mengindahkan instruksi dari pos pemantauan keamanan yang mereka dirikan di sepanjang selat.

Mayor Jenderal Ali Mohammad Naeini menyatakan bahwa tindakan tegas diambil karena kapal tersebut menolak untuk berhenti sesuai prosedur.

Negara di Asia Timur seperti Jepang juga ikut merasakan dampak dari ketegangan bersenjata yang sedang berlangsung di Timur Tengah.

Kapal kontainer One Majesty dilaporkan mengalami kerusakan setelah terkena hantaman benda yang diduga kuat sebagai proyektil militer Iran.

Insiden terhadap kapal Jepang ini terjadi di area sekitar 46 kilometer dari Ras Al Khaimah yang masuk dalam wilayah UEA.

Beruntung seluruh kru kapal asal Jepang tersebut dinyatakan selamat dan kapal sedang diarahkan menuju pelabuhan yang lebih aman.

Teheran kini secara resmi telah memasukkan kapal-kapal kargo milik Inggris ke dalam daftar sasaran militer yang dianggap sah untuk dihancurkan.

Keputusan ini diambil setelah militer Iran mencatat adanya aktivitas intensif dari kapal-kapal Inggris di kawasan Teluk dalam waktu singkat.

Iran memberikan peringatan keras bahwa mereka akan memutus rantai pasokan energi bagi siapapun yang beraliansi dengan Amerika Serikat.

Ebrahim Zolfaqari menekankan bahwa blokade minyak akan diberlakukan secara total jika eskalasi perang terus meningkat di kawasan tersebut.

Strategi pertahanan Iran saat ini difokuskan untuk melawan dominasi kekuatan militer Barat yang mulai masuk ke wilayah Selat Hormuz.

Teheran menyatakan kesiapan tempur mereka dalam menghadapi kemungkinan intervensi langsung dari armada laut milik Amerika Serikat di masa depan.

Pejabat militer Iran menegaskan bahwa mereka memiliki kendali penuh atas durasi dan cara mengakhiri konflik yang sedang terjadi saat ini.

Kehadiran kapal induk Gerald Ford milik militer AS menjadi sorotan utama dalam persiapan taktik pertahanan yang disusun oleh militer Iran.

Pernyataan ini merupakan pesan psikologis sekaligus peringatan fisik terhadap militer AS dan Israel agar segera menghentikan serangan mereka.

Konflik ini dikhawatirkan akan memicu krisis energi dunia jika ekspor minyak dari kawasan tersebut benar-benar dihentikan total oleh Iran.

Dunia internasional kini sedang memantau dengan cermat setiap perkembangan yang terjadi di Selat Hormuz demi stabilitas ekonomi global ke depannya.

Load More