- Negara-negara Eropa utama seperti Jerman dan Italia menolak permintaan militer AS di Selat Hormuz karena bukan perang mereka.
- Penolakan ini muncul setelah Iran merespons serangan AS-Israel dengan melumpuhkan lalu lintas tanker minyak vital dunia.
- Uni Eropa mencari solusi diplomatik, termasuk mereplikasi kesepakatan ekspor gandum untuk menjamin navigasi aman tanker minyak.
Suara.com - Gelombang penolakan dari negara-negara sekutu Amerika Serikat (AS) terus bermunculan terkait permintaan Presiden Donald Trump untuk memberikan dukungan militer di Selat Hormuz.
Sejumlah negara Eropa secara tegas menyatakan tidak memiliki rencana dalam waktu dekat untuk mengirim kapal perang guna membuka blokade jalur vital tersebut.
Desakan Trump muncul setelah Iran merespons serangan gabungan AS-Israel dengan mengerahkan drone, rudal, dan ranjau laut yang melumpuhkan lalu lintas tanker minyak dunia. Namun, sekutu utama AS di Eropa tampaknya enggan terseret lebih jauh ke dalam konflik tersebut.
Jerman dan Italia: "Ini Bukan Perang Kami"
Jerman memimpin penolakan dengan pernyataan keras dari Menteri Pertahanan Boris Pistorius. Ia mempertanyakan efektivitas pengiriman kapal fregat Eropa ke wilayah yang bahkan sulit dikendalikan oleh Angkatan Laut AS yang jauh lebih kuat.
"Ini bukan perang kami, kami tidak memulainya," tegas Pistorius di Berlin, Senin (16/3/2026), dikutip via reuters.
Senada dengan itu, juru bicara pemerintah Jerman, Stefan Kornelius, menekankan bahwa AS maupun Israel tidak pernah berkonsultasi dengan Eropa sebelum memulai perang. Ia juga mengingatkan bahwa Washington sejak awal menyatakan bantuan Eropa tidak diperlukan.
Dari Milan, Wakil Perdana Menteri Italia Matteo Salvini juga menegaskan posisi negaranya. "Italia tidak sedang berperang dengan siapa pun.
Mengirim kapal militer ke zona perang berarti ikut serta dalam peperangan tersebut," ujarnya. Spanyol juga menyatakan hal serupa, dengan menolak tindakan apa pun yang dapat memicu eskalasi konflik.
Baca Juga: Iran Ringkus 500 Mata-mata Musuh, Terlibat Bocorkan Data Serangan Pasca Gugurnya Khamenei
Meskipun enggan terlibat dalam pertempuran langsung, beberapa negara menunjukkan sikap yang lebih diplomatis:
Inggris: Perdana Menteri Keir Starmer menyatakan kesediaan untuk bekerja sama dalam rencana kolektif demi menjamin kebebasan navigasi. Ia mengisyaratkan penggunaan sistem pemburu ranjau otonom milik Inggris, namun tetap menekankan bahwa negaranya tidak ingin terseret dalam perang yang lebih luas.
Denmark: Menteri Luar Negeri Lars Lokke Rasmussen menyarankan agar Eropa tetap terbuka terhadap kemungkinan kontribusi selama tujuannya adalah deeskalasi, meskipun Denmark tidak menyetujui peperangan yang sedang terjadi.
Belanda: Menteri Luar Negeri Tom Berendsen menyebutkan bahwa setiap keputusan militer di Teluk membutuhkan waktu lama untuk disusun kerangka kerjanya dan saat ini belum ada keputusan resmi yang diambil.
Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, mengungkapkan bahwa pihaknya sedang berdiskusi dengan PBB untuk mereplikasi kesepakatan ekspor gandum yang pernah digunakan saat perang Ukraina-Rusia. Skema ini diharapkan bisa menjadi solusi jalur aman bagi tanker minyak di Selat Hormuz.
Selain itu, Uni Eropa juga sedang mempertimbangkan untuk mengubah mandat misi angkatan laut Aspides—yang saat ini beroperasi di Laut Merah untuk melawan Houthi—agar cakupannya diperluas hingga ke Selat Hormuz.
Berita Terkait
-
Amerika Serikat Akhirnya Akui 200 Tentara Jadi Korban Rudal Kiamat Iran
-
Hujan Rudal Iran Tak Kunjung Reda, Warga Israel Akui Tak Lagi Bisa Tidur Nyenyak
-
Detik-detik Rudal Iran Hantam Tel Aviv, Rezim Zionis Kocar-kacir
-
Viral! Walkot Muslim Kebanggaan Netizen Indonesia Panen Hujatan Setelah Bertemu Komunitas Yahudi
-
Ledakan Dahsyat di UEA! Rudal Iran Hancurkan Gudang Peluru AS di Al Dhafra
Terpopuler
- 5 Parfum Wanita Tahan Lama di Alfamart untuk Silaturahmi Anti Bau
- 5 Mobil Murah 3 Baris Under 1500cc tapi Jagoan Tanjakan: Irit Bensin dan Pajak Ramah Rakyat Jelata
- Danantara Indonesia dan PLN Salurkan 5.000 Paket Perlengkapan Sekolah ke Tiga Provinsi di Indonesia
- 5 Kejanggalan Video Benjamin Netanyahu Terbaru, PM Israel Beneran Tewas?
- Media Iran Yakin Benjamin Netanyahu Sudah Meninggal Dunia, Video Ini Jadi Bukti
Pilihan
-
AFC Resmi Coret Timnas Malaysia, Vietnam Lolos ke Piala Asia 2027
-
Iran Tolak Main di AS! Minta FIFA Pindahkan Laga Piala Dunia 2026 ke Meksiko
-
Arus Mudik H-4 Idulfitri, 100 Ribu Orang Sudah Berangkat dari Stasiun Gambir
-
Pertama di Dunia! Malaysia Robek-robek Perjanjian Dagang dengan AS, Indonesia?
-
Analisis Militer: Iran Pakai Strategi 'Vietnam Kedua' yang Bikin AS Putus Asa
Terkini
-
Prabowo Ingin Tertibkan Pengamat, Legislator PDIP Singgung Risiko Pilihan Rakyat
-
Bukan Program Unggulan, Ini Pos Anggaran yang Potensi Kena Pemangkasan
-
Kisah 'Militan' 10 Rekan Sekantor Kompak 'War' Tiket Demi Mudik Berjamaah ke Semarang
-
Israel Targetkan Ali Larijani, Tangan Kanan Pemimpin Iran Diklaim Tewas
-
Purbaya Borong Kain Batik di Pasar Beringharjo Yogyakarta, Sebut Pasar Tradisional Tidak Mati Suri
-
4 Juta Warga DKI Tak Mudik, Kemenpar Dorong Tren Mudik ke Jakarta Saat Libur Lebaran
-
Warga Israel: Netanyahu dan Pejabat Aman Tentram, Kami Tiap Detik Bisa Mati Dirudal
-
Bantargebang Sudah Kritis, Pramono Anung Bakal Sanksi Warga Jakarta yang Tak Pilah Sampah
-
Sadis! Pasutri di Cirebon Habisi Nyawa Tukang Pijat Hamil 8 Bulan Demi Uang Rp83 Ribu
-
Pemulihan Pascabanjir Aceh Jelang Idul Fitri Disorot Media Asing