- Analis militer menganggap keputusan AS-Israel berperang dengan Iran ceroboh karena berisiko menjadi 'Vietnam Kedua' yang merugikan Amerika.
- Meskipun serangan awal AS-Israel berhasil secara taktis, Iran memicu "Jebakan Eskalasi" untuk menyeret AS pada konflik strategis.
- Iran menerapkan 'Eskalasi Horizontal' dengan memperluas konflik ke negara Teluk untuk menaikkan biaya perang bagi Amerika Serikat.
Suara.com - Sejumlah analis militer menilai Amerika Serikat ceroboh saat memutuskan bersama Israel untuk membuka perang melawan Iran. Sebab, negeri para Mullah tersebut bisa menjadi 'Vietnam kedua' yang mempermalukan tentara Pakde Sam.
Konfrontasi bersenjata antara koalisi AS-Israel melawan Iran kini memasuki fase yang sangat krusial dan berbahaya.
Meskipun Washington dan Yerusalem mencatatkan sejumlah keberhasilan taktis di lapangan, para analis militer mulai mencium aroma kegagalan strategis yang serupa dengan pengalaman pahit AS di Vietnam.
Iran tampaknya sengaja merancang konflik ini untuk menjadi rawa yang dalam, mahal, dan melelahkan bagi militer Amerika.
Di atas kertas, serangan udara AS dan Israel terlihat sangat efektif. Mereka berhasil melumpuhkan sejumlah tokoh kunci rezim Teheran, termasuk Ayatollah Ali Khamenei, dan menghancurkan fasilitas militer strategis.
Namun, kemenangan di permukaan ini justru menyembunyikan ancaman yang lebih besar: "Jebakan Eskalasi" atau escalation trap.
Di sinilah Iran memainkan perannya untuk mengubah perang ini menjadi "Vietnam Kedua" bagi Amerika.
Memahami Jebakan Eskalasi
Robert Pape, sejarawan AS terkemuka yang ahli dalam keterbatasan kekuatan udara, memperingatkan bahwa keberhasilan awal dalam sebuah kampanye militer sering kali menyesatkan.
Baca Juga: Donald Trump Naik Pitam, Keir Starmer Bersikeras Inggris Ogah Bantu AS Lawan Iran
Menurutnya, serangan awal mungkin terlihat sempurna secara teknis, namun gagal mencapai tujuan politik jangka panjang.
“Apa yang kita lihat pada serangan awal adalah kesuksesan taktis hampir 100 persen,” ujar Robert Pape, dikutip dari The Guardian, Selasa (17/3/2026),
Namun, ia menambahkan bahwa masalah besar muncul ketika keberhasilan itu tidak diikuti oleh kesuksesan strategis, yang akhirnya menyeret penyerang ke tahap berbahaya.
“Masalahnya adalah ketika hal itu tidak membawa kesuksesan strategis... Anda akan sampai pada tahap kedua dari jebakan tersebut. Penyerang masih memiliki dominasi eskalasi, sehingga ada upaya untuk melipatgandakan kekuatan, yang kemudian menaiki tangga eskalasi dan itu tetap tidak menghasilkan kesuksesan strategis," jelasnya.
Ia melanjutkan, "Kemudian Anda mencapai tahap ketiga, yang merupakan krisis nyata, di mana Anda mempertimbangkan opsi-opsi yang jauh lebih berisiko. Saya akan mengatakan kita berada di tahap kedua, dan di ambang tahap ketiga."
Tahap ketiga yang dimaksud sering kali melibatkan pengiriman pasukan darat secara besar-besaran, sebuah langkah yang secara historis menjadi awal dari bencana militer AS di Asia Tenggara puluhan tahun silam.
Tag
Berita Terkait
-
Donald Trump Naik Pitam, Keir Starmer Bersikeras Inggris Ogah Bantu AS Lawan Iran
-
Hidup di Garis Depan Perang! Kakek Israel Ogah Mengungsi: Suara Rudal seperti Drum Orkestra
-
Trump Ancam Serang Kuba, Presiden Miguel Daz Canel Siapkan 'Neraka' untuk Pasukan AS
-
AS Desak Militer Jepang, Korsel, China hingga Eropa Buka Selat Hormuz, Realistis atau Sia-sia?
-
Donald Trump dan Israel Bahas Perluasan Operasi Darat di Lebanon Selatan, Singgung Hizbullah
Terpopuler
- 5 Parfum Wanita Tahan Lama di Alfamart untuk Silaturahmi Anti Bau
- 5 Mobil Murah 3 Baris Under 1500cc tapi Jagoan Tanjakan: Irit Bensin dan Pajak Ramah Rakyat Jelata
- Danantara Indonesia dan PLN Salurkan 5.000 Paket Perlengkapan Sekolah ke Tiga Provinsi di Indonesia
- 5 Kejanggalan Video Benjamin Netanyahu Terbaru, PM Israel Beneran Tewas?
- Media Iran Yakin Benjamin Netanyahu Sudah Meninggal Dunia, Video Ini Jadi Bukti
Pilihan
-
Timur Tengah Memanas, RI Resmi Setop Seluruh Penerbangan Internasional!
-
Israel Klaim Tewaskan Ali Larijani, Pimpinan Keamanan Tertinggi Iran
-
AFC Resmi Coret Timnas Malaysia, Vietnam Lolos ke Piala Asia 2027
-
Iran Tolak Main di AS! Minta FIFA Pindahkan Laga Piala Dunia 2026 ke Meksiko
-
Arus Mudik H-4 Idulfitri, 100 Ribu Orang Sudah Berangkat dari Stasiun Gambir
Terkini
-
Prabowo Kantongi Data Intelijen Soal Pengamat, Idrus Marham: Kritik Harus Rasional dan Obyektif
-
Timur Tengah Memanas, RI Resmi Setop Seluruh Penerbangan Internasional!
-
Viral Teori Donald Trump Time Traveler! Sketsa 100 Tahun Picu Spekulasi Liar Netizen
-
Israel Klaim Tewaskan Ali Larijani, Pimpinan Keamanan Tertinggi Iran
-
Prabowo Ingin Tertibkan Pengamat, Legislator PDIP Singgung Risiko Pilihan Rakyat
-
Bukan Program Unggulan, Ini Pos Anggaran yang Potensi Kena Pemangkasan
-
Kisah 'Militan' 10 Rekan Sekantor Kompak 'War' Tiket Demi Mudik Berjamaah ke Semarang
-
Israel Targetkan Ali Larijani, Tangan Kanan Pemimpin Iran Diklaim Tewas
-
Purbaya Borong Kain Batik di Pasar Beringharjo Yogyakarta, Sebut Pasar Tradisional Tidak Mati Suri
-
4 Juta Warga DKI Tak Mudik, Kemenpar Dorong Tren Mudik ke Jakarta Saat Libur Lebaran