- Serangan AS dan Israel terhadap Iran sejak 28 Februari menyebabkan Selat Hormuz berbahaya, menaikkan harga minyak dunia hingga di atas 100 dolar AS per barel.
- Setidaknya 19 kapal tanker telah diserang di perairan tersebut, memaksa 700 kapal tertahan dan mengganggu pasokan minyak ke negara-negara Asia.
- Ajakan Presiden Trump kepada sekutu untuk mengawal tanker ditolak tegas oleh Jepang dan Australia, sementara upaya pengamanan dinilai sulit.
Suara.com - Harga minyak dunia bergerak naik sejak Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari lalu. Perang yang sudah memasuki pekan ketiga membuat Selat Hormuz, perairan sempit di Teluk Persia tempat 20 persen minyak dunia diangkut, terlalu berbahaya untuk dilewati kapal-kapal tanker minyak.
Sejak hari pertama perang, setidaknya 18 kapal tanker sudah terkena serangan dan bahkan terbakar di perairan tersebut. Iran bersumpah tak akan membiarkan satu tetes pun minyak keluar dari Teluk selama AS dan Israel melancarakan serangan ke wilayahnya.
Alhasil negara-negara tujuan utama minyak Teluk, seperti India, Pakistan, Vietnam, Korea Selatan hingga Jepang kini kesulitan mendapatkan pasokan minyak mentah.
Presiden AS Donal Trump di sisi lain mendesak India, Jepang, Korea Selatan, Inggris, Prancis dan bahkan China untuk mengerahkan kapal perang mereka mengawal kapal-kapal tanker di Selat Hormuz. Tujuannya jelas agar harga minyak turun dan bahkan kembali ke normal.
Belasan kapal diserang
Hingga pekan ini sudah setidaknya 19 kapal diserang di Teluk. Dua tanker di perairan Irak pada Rabu lalu terbakar hebat setelah dihantam proyektil tak dikenal. Sementara sebuah kapal pengangkut minyak milik AS, Safesea Vishnu yang hendak mengantar minyak ke India terbakar ditabrak sebuah speed boat berpeledak.
Selain itu ada juga kapal berbendera Thailand Mayuree Naree yang terbakar dihantam Iran di Selat Hormuz. Tiga orang awak dikabarkan terperangkap di ruang mesin akibat serangan tersebut.
Menurut perusahaan intelijen maritim Kpler, saat ini masih ada sekitar 700 kapal yang tertahan di Teluk Persia. Sekitar 400 di antaranya adalah kapal tanker dengan muatan sekitar 200 juta barel minyak.
Sebelum perang ada lebih dari 100 kapal melewati Selat Hormuz. Di hari-hari awal perang, jumlah itu turun ke 70 per hari dan berkurang lagi menjadi belasan. Kini hanya dua atau tiga kapal yang lolos dari Selat Hormuz, mereka adalah kapal-kapal pengangkut minyak Iran dengan tujuan China.
Baca Juga: Pertamina Sebut Dua Kapalnya Masih Terjebak di Selat Hormuz, Gimana Kondisinya?
Harga minyak naik
Awal pekan ini harga minyak dunia naik ke 104 dolar AS per barel, sudah jauh di atas harga normal yang berkisar di 60 - 70 dolar AS per barel. Alhasil harga BBM di dunia juga ikut naik, tak terkecuali di Amerika Serikat.
Jepang pada pekan ini mengumumkan mulai mengeluarkan stok dari cadangan minyak raksasanya. Pakistan beberapa negara di Asia Selatan mulai menerapkan penghematan drastis, dengan meliburkan sekolah, menerapkan kuliah online, dan memaksa para pegawai bekerja dari rumah. Gaji para pejabat juga ikut dipotong.
AS juga mulai merasakan dampaknya. Harga BBM di AS kini sudah beranjak mendekati 4 dolar AS per galon dan sebelumnya berkisar di angka 2 dolar. Para konsumen di AS sudah menjerit dan ini mengancam Partai Republik, partai asal Trump, yang akan menghadapi pemilu tengah periode (midterm election).
Trump pada akhir pekan kemarin mengancam negara-negara sekutu, terutama anggota NATO, jika mereka menolak bekerja sama untuk mengamankan Selat Hormuz. Ia mengatakan para anggota NATO akan menghadapi masa depan yang buruk jika menolak mengikut ajakan Trump untuk mengawal kapal-kapal di Selat Hormuz.
Apa jawaban negara-negara ke Trump?
Sejauh ini belum ada satu pun negara yang mengiyakan desakan Trump untuk mengerahkan kapal perang ke Selat Hormuz. Jepang adalah yang paling tegas menolak. Perdana Menteri Sanae Takaichi mengatakan pihaknya akan mencari solusi mandiri dan legal untuk mengatasi krisis di Selat Hormuz.
India juga mengatakan memilih untuk berdiskusi dan bernegosiasi dengan pihak-pihak yang terlibat dalam konflik di Teluk untuk mencari solusi terkait pasokan minyak. Australia, salah satu sekutu AS, sudah menegaskan tak akan mengirim kapal perang ke Selat Hormuz.
Sementara Prancis, Inggris dan Korea Selatan mengatakan masih mempertimbangkan ajakan Trump tersebut.
China di sisi lain enggan menjawab ajakan Trump. Beijing menegaskan bahwa semua pihak bertanggung jawab atas pasokan energi dunia yang stabil dan akan memperkuat komunikasi dengan semua pihak untuk menurunkan eskalasi di Teluk.
Memangnya bisa kapal perang AS dkk buka Selat Hormuz?
Jonathan Schroden, analis pertahanan dari lembaga think tank Centre for Naval Analyses, kepada The Economist mengatakan membuka pelaran bebas di Selat Hormuz bukan perkara mudah, jika bukan mustahil.
Ia mengatakan pertahanan Iran yang berlapis-lapis dan kendali atas daratan di pinggir Selat Hormuz memberikan keuntungan besar bagi Teheran. Ia mengibaratkan pertahanan Iran seperti mengupas bawang.
"Pertama Anda akan menghadapi serangan misil lalu drone dan kemudian kapal cepat sebelum menghadapi ancaman ranjau laut," ia mewanti-wanti.
Para analis mengatakan AS boleh saja unggul secara teknologi, tapi perang di perairan sempit akan membuat militer Amerika terjepit. Drone dan misil tak butuh waktu lama untuk mencapai target.
Belum lagi kapal perang punya kelemahan mendasar. Jika tanker memiliki lambung ganda sehingga lebih sukar ditembus misil, kapal perang biasanya hanya punya lambung tunggal dan mudah diledakkan rudal.
Pada 1980an, ketika kapal-kapal perang Amerika mengawal tanker-tanker Kuwait di tengah Perang Iran - Irak, kapal perang AS justru berlayar di belakang kapal tanker agar terhindar dari ranjau.
AS dan sekutunya memang memiliki teknologi drone laut penyapu ranjau. Tapi peranti ini belum pernah terbukti di medan perang.
Ilmuwan di Massachusetts Institute of Technology Caitlin Talmadge mengatakan AS harus belajar dari kesalahan Angkatan Laut Inggris saat hendak memaksa membuka blokade Selat Dardanela dalam Perang Dunia I. Ketika itu kapal-kapal Inggris ditenggelamkan Otoman dan puluhan ribu prajurit tewas.
Talmadge mengingatkan dalam pertempuran di selat sempit, pasukan bertahan akan menarik kapal-kapal musuh mendekat ke daratan agar lebih mudah dihabisi dengan misil dan drone.
"Beberapa persenjataan memang sudah berubah - saya lebih khawatir soal proyektil ketimbang ranjau - tapi konsepnya sama saja," kata Talmadge.
Talmadge juga mengingatkan Iran saat ini berbeda dengan di dekade 1980an dalam perang melawan Irak. Saat ini rezim penguasa Iran menghadapi ancaman hidup mati dan akan melakukan apa saja untuk menghadapi agresi AS serta Israel.
Artinya sangat mungkin Iran akan meningkatkan eskalasi dan menghantam negara-negara tetangganya di Teluk dengan serangan skala besar, yang pada akhirnya akan membuat harga minyak dunia melonjak alih-alih turun. [Al Jazeera/The Guardian/The Japan Times/The Economist]
Tag
Berita Terkait
-
Donald Trump dan Israel Bahas Perluasan Operasi Darat di Lebanon Selatan, Singgung Hizbullah
-
Bocor! Surat Rahasia Hamas ke Mojtaba Khamenei: Negara-negara Arab Mengkhianati Palestina
-
Sebut Negara Gagal, Donald Trump Sesumbar Bisa Lakukan Apa Saja pada Kuba
-
Menlu Iran Abbas Araghchi: Tak Ada Gencatan Senjata, Pembalasan Akan Terus Berlanjut!
-
Trump Desak Bantuan Pengamanan Selat Hormuz, Jepang dan Australia Ogah Kirim Kapal Militer
Terpopuler
- Gaji Rp 8,2 M Belum Dibayar, Aktivis-Influencer Sedunia Tuntut Badan Propaganda Israel
- 5 Parfum Wanita Tahan Lama di Alfamart untuk Silaturahmi Anti Bau
- 65 Kode Redeem FF Terbaru 14 Maret 2026: Sikat Evo Scorpio, THR Diamond, dan AK47 Golden
- Promo Alfamart 14-18 Maret 2026: Diskon Sirop dan Wafer Mulai Rp8 Ribuan Jelang Lebaran
- Kisah Unik Pernikahan Mojtaba Khamenei dan Zahra yang Gugur Dibom Israel-AS
Pilihan
-
Amerika Serikat Akhirnya Akui 200 Tentara Jadi Korban Rudal Kiamat Iran
-
6 Fakta Kecelakaan Bus Haryanto Tabrak 5 Mobil Pemudik di Tol Batang
-
Puncak Mudik Bakauheni Diprediksi 18-19 Maret 2026, ASDP Ingatkan Pemudik Segera Beli Tiket
-
Belajar dari Pengalaman, Jukir di Jogja Deklarasi Anti Nuthuk saat Libur Lebaran
-
Kisah Fendi, Bocah Gunungkidul yang Rela Putus Sekolah Demi Rawat Sang Ibu
Terkini
-
Konflik AS-Iran Belum Mereda, Harga Bertahan di atas 100 Dolar AS
-
Kiat Hemat Menuju Kampung Halaman lewat Mudik Bareng Pertamina 2026
-
Tagihan Kartu Kredit Membengkak? Ini Cara 'Selamat' dari Beban Akhir Bulan dengan Cicilan BRING BRI
-
Dirut PLN Pastikan Sistem Kelistrikan Nasional Andal Sepanjang Idulfitri 1447 H
-
Satu Tahun Danantara Indonesia, Presiden Minta Perkuat Fondasi untuk Masa Depan Generasi Indonesia
-
BRI Gelar Aksi Sosial Ramadan 1447 Hijriah, 8.500 Anak Yatim Terima Santunan Nasional
-
ADRO Siapkan Rp4 Triliun untuk Buyback Saham, Boy Thohir Ungkap Rencananya
-
Skandal BNI, Kronologi Hilangnya Uang Jemaat Gereja di Rantauprapat Rp 28 Miliar
-
BSI Siapkan Rp45 Triliun Uang Tunai dan Layanan Digital Selama Libur Lebaran
-
Emas Antam Lebih Murah Lagi Hari Ini, Harganya Turun Rp 4.000