- Presiden Prabowo pada 13 Maret 2026 mengklaim memiliki data intelijen pendanaan pengamat politik untuk menyerang pemerintah.
- Idrus Marham mengingatkan kritik harus etis, berlandaskan kebangsaan, serta objektif, bukan karena kepentingan terselubung.
- Idrus Marham menilai tim komunikasi pemerintah belum maksimal menjelaskan program kerja secara komprehensif kepada publik.
Suara.com - Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan pernyataan mengejutkan terkait dinamika kritik terhadap pemerintah.
Dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jumat (13/3/2026), Presiden mengaku telah mengantongi data intelijen mengenai pihak-pihak yang diduga mendanai sejumlah pengamat politik untuk menyerang kebijakan pemerintah.
Menanggapi situasi tersebut, Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar, Idrus Marham, menekankan pentingnya menjaga etika dalam berdemokrasi.
Idrus mengingatkan bahwa meski kritik adalah hak setiap warga dalam demokrasi, cara penyampaiannya tidak boleh mengabaikan nilai-nilai kejujuran.
“Sekarang ini banyak orang yang berjuang atas nama keadilan tetapi dilakukan secara tidak adil. Berjuang demokrasi tetapi dengan cara yang tidak demokratis. Mengusung nilai tetapi dengan cara yang tidak bernilai,” kata Idrus kepada wartawan, Selasa (17/3/2026).
Menurutnya, setiap sikap kritis yang muncul dalam ruang publik seharusnya dilandasi oleh semangat untuk memajukan bangsa dan tetap patuh pada falsafah negara.
“Sikap kritis dalam proses demokratisasi sejatinya dijalankan atas dasar komitmen kebangsaan untuk kemajuan Indonesia, taat asas, dipandu oleh ideologi dan falsafah Pancasila serta aturan perundang-undangan, juga rasional, objektif, logis, dan faktual,” ujarnya.
Mengenai dugaan adanya aliran dana kepada pihak-pihak tertentu untuk melakukan kritik, Idrus menilai hal tersebut memang patut diwaspadai sebagai bentuk kepentingan yang terselubung.
“Kalau ada dana diberikan kepada seseorang tentu tidak mungkin tanpa tujuan. Pasti ada komitmen di balik itu. Ini patut dicurigai ada kepentingan tertentu,” tambahnya.
Baca Juga: Prabowo Ingin Tertibkan Pengamat, Legislator PDIP Singgung Risiko Pilihan Rakyat
Kendati begitu, Idrus menyarankan agar pemerintah tetap mengedepankan cara-cara persuasif dan tidak menggunakan tindakan keras dalam menghadapi kritik.
“Pemerintah tidak perlu represif. Yang penting mengajak semua pihak menyadari bahwa Indonesia ini rumah besar kita bersama yang harus kita rawat,” tuturnya.
Ia juga berharap agar penilaian terhadap kinerja pemerintah dilakukan secara adil tanpa dilandasi sentimen pribadi.
“Jangan karena kebencian kepada seseorang lalu membuat kita menjadi tidak adil dalam menilai,” tegas Idrus.
Di sisi lain, Idrus juga menyoroti kinerja tim komunikasi pemerintah. Ia menilai para pembantu presiden, terutama juru bicara, belum optimal dalam membedah program pemerintah ke hadapan publik.
“Secara faktual narasi yang dibangun dalam komunikasi politik para pembantu presiden, lebih khusus juru bicara presiden, untuk menjelaskan secara komprehensif dan terintegrasi program pemerintah belum maksimal,” pungkasnya.
Berita Terkait
-
Prabowo Ingin Tertibkan Pengamat, Legislator PDIP Singgung Risiko Pilihan Rakyat
-
Mengapa Kritik Ekonom Disebut 'Noise' Oleh Prabowo dan Purbaya?
-
Purbaya Akui Prabowo Bolehkan Batas Defisit APBN Lebihi 3 Persen, Tapi Ada Syaratnya
-
Prabowo Dorong Percepatan Program Perumahan untuk Atasi Ketimpangan Sosial
-
Amnesty International Soroti Pernyataan Prabowo soal Pengamat, Ingatkan Bahaya Label Tidak Patriotik
Terpopuler
- Aliansi BEM Bersatu: Mobil Fortuner Tiyo Ardianto Tercatat Milik Adik Letjen Purn Setyo Sularso
- Milk Cleanser Viva untuk Umur Berapa? Ini Penjelasan dan 5 Pilihan Variannya
- 6 Sepatu Adidas Samba Lagi Diskon 50 Persen di Website Resmi, Kesempatan Langka Separuh Harga
- 4 Cushion Terbaik untuk Usia 40 Tahun ke Atas, Anti Crack Samarkan Garis Halus Seharian
- Merasa Dibohongi, Elza Syarief Mundur sebagai Pengacara Tersangka Korupsi MBG Sony Sonjaya
Pilihan
-
'Sempurna Hanya Milik Allah!' Massa Gelar Aksi Damai Minta MBG Lanjut dan Sikat Koruptornya!
-
Link Live Streaming Portugal vs Kongo: Panggung Sesungguhnya CR7?
-
Demo Pakai Daster ke Istana, Aliansi Perempuan Tuntut Prabowo Turunkan Harga BBM dan Setop MBG
-
BREAKING NEWS: Kantor Dinas Pendidikan Sulsel Digeledah Kejati
-
Prediksi Argentina vs Aljazair: Head to Head, Susunan Pemain dan Fakta Menarik
Terkini
-
MBG Disebut Langgar HAM, Natalius Pigai Tuding Komnas HAM Tak Paham Aturan
-
Bansos Aman! Gus Ipul Jamin Efisiensi Anggaran Tak Pangkas Bantuan Rakyat
-
Penderita Fatty Liver Rasakan Manfaat Antrean Online Mobile JKN Saat Berobat
-
'Disentil' Sahroni di DPR, KPK Langsung Naikkan Usulan Anggaran dari Rp762 M jadi Rp989 M
-
Legislator Gerindra 'Semprot' Komnas HAM: Sebut MBG Langgar HAM Itu Keliru!
-
Evaluasi Haji 2026 di Hambalang: Prabowo Minta Fasilitas Hotel Ditata, Ongkos Dipangkas
-
Murid Sekolah Rakyat Lampaui Target, Kemensos Ajukan Tambahan Anggaran hingga Rp8 Triliun
-
Pigai Minta Tambahan Rp492,9 Miliar untuk Kementerian HAM, DPR Hanya Setujui Rp224,9 Miliar
-
Siapkan Dana Pendidikan Anak Tanpa Cemas, BRI Multiguna Tawarkan Pembiayaan Fleksibel
-
Kadistamhut DKI: Pungli di Pemakaman Jakarta Libatkan RT Hingga RW