News / Internasional
Rabu, 18 Maret 2026 | 16:49 WIB
Pengamat hubungan internasional senior, Pitan Daslani. (tangkap layar)
Baca 10 detik
  • Pengamat Pitan Daslani menilai AS kewalahan menghadapi Iran karena perbedaan karakter bangsa serta biaya perang mahal versus senjata murah Iran.
  • Iran kuat karena kemandirian teknologi dan sumber daya manusia ahli nuklir asli Persia, tidak mengandalkan tenaga ahli dari luar negeri.
  • Pitan menyindir Indonesia yang fokus pada fisik dan hedonisme, sementara melupakan pembangunan karakter bangsa yang dimiliki Iran.

Suara.com - Pengamat hubungan internasional senior, Pitan Daslani, membeberkan alasan mengapa Amerika Serikat (AS) dan Israel tampak kewalahan menghadapi Iran dalam konflik bersenjata yang kini tengah memanas. Menurutnya, kekuatan Iran bukan sekadar pada rudal, melainkan pada karakter bangsa yang belum dimiliki sepenuhnya oleh Indonesia.

Dalam kanal YouTube Abraham Samad Speak Up, Pitan menyebut Iran sebagai bangsa yang memiliki “martabat” (dignity) luar biasa meski telah ditekan sanksi internasional sejak 1979.

Senjata Murah Iran vs Patriot AS yang Mahal

Pitan mengungkapkan betapa tidak proporsionalnya ongkos perang bagi Amerika. Ia membocorkan estimasi Pentagon bahwa perang selama 18 bulan bisa membangkrutkan AS dengan biaya mencapai 3 triliun dolar.

“Repotnya Amerika itu adalah apa? Untuk meluncurkan satu rudal anti-rudal Patriot misalnya, itu satu peluru harganya 4 miliar dolar. Sedangkan Iran punya drone itu hanya 20.000 dolar. Secara kalkulasi ekonomi rugi ini,” ujar Pitan kepada mantan Ketua KPK, Abraham Samad, dikutip Rabu (18/3/2026).

Rahasia SDM: Ahli Nuklir Asli Persia

Satu hal yang membuat Pitan kagum adalah kemandirian teknologi Iran. Berbeda dengan banyak negara yang mengandalkan tenaga ahli asing, Iran sepenuhnya menggunakan sumber daya manusia dari dalam negeri.

“Semua ilmuwan nuklir Iran asli, bukan orang luar. Kenapa itu bisa terjadi? Karena dia benar-benar ingin mengembangkan potensi SDM sendiri, tidak outsource, tidak mengembangkan dari luar,” tegasnya.

Sentil Karakter Bangsa Indonesia

Baca Juga: PMI Siap Kirim Bantuan Medis ke Iran, Jusuf Kalla: Kami Pertimbangkan Beli Obat di Pakistan

Pitan kemudian membandingkan kondisi tersebut dengan Indonesia. Ia menyoroti fenomena “pamer hedonisme” dan rendahnya rasa bangga terhadap produk dalam negeri, termasuk di kalangan pejabat.

Ia juga menyinggung bagaimana para ahli terbaik Indonesia, seperti mantan tim teknis BJ Habibie, justru lebih dihargai di luar negeri—misalnya di industri pesawat seperti Embraer di Brasil—dibandingkan di dalam negeri.

“Kita sibuk membangun fisik, tapi lupa membangun karakter bangsa. Bangun jiwa dulu, baru bangun badan. Selama ini kita terbalik, badan dulu dibangun, fisik sampai pamer hedonisme macam-macam, tapi jiwanya ambruk, karakternya ambruk,” sindir Pitan.

Ia bahkan melontarkan pertanyaan reflektif terkait konsistensi rasa cinta tanah air, baik di kalangan generasi muda maupun pejabat.

“Coba lihat generasi sekarang, lebih instan dan kebarat-baratan. Apakah dia bangga jadi orang Indonesia? Kita harus tanya itu. Jangankan generasi, apakah para pejabat kita benar-benar bangga jadi Indonesia?” ucapnya.

Menurut Pitan, hal ini berbeda dengan Iran yang dinilai memiliki kebanggaan tinggi terhadap identitas nasional. Rasa bangga terhadap produk dalam negeri menjadi fondasi kuat ketahanan negara di tengah tekanan global.

Load More