News / Nasional
Kamis, 19 Maret 2026 | 12:15 WIB
Ilustrasi Teror Air Keras. (Suara.com)
Baca 10 detik
  • Aktivis KontraS, Andrie Yunus, menjadi korban penyiraman air keras yang menyebabkan luka bakar serius di beberapa bagian tubuhnya.
  • Air keras adalah zat korosif yang merusak jaringan tubuh dengan cepat, menimbulkan nekrosis, dan dampak permanen seperti yang dialami Novel Baswedan.
  • Bahan kimia korosif ini mudah didapat di Indonesia karena kegunaan luas dan minimnya penegakan hukum serta pengawasan distribusi.

Suara.com - Kasus penyiraman air keras kembali mengguncang publik setelah menimpa aktivis KontraS, Andrie Yunus. Serangan brutal yang terjadi di ruang publik ini bukan hanya meninggalkan luka fisik serius, tetapi juga mengingatkan bahwa air keras merupakan salah satu bentuk kekerasan paling berbahaya.

Dari kejadian ini, muncul pertanyaan mendasar: sebenarnya apa itu air keras, dan seberapa besar dampaknya bagi tubuh manusia?

Serangan air keras bukan sekadar tindak kekerasan biasa. Dalam literatur global, praktik ini dikenal sebagai acid attack atau chemical assault, yakni penyiraman bahan kimia korosif seperti asam sulfat atau alkali kuat ke tubuh korban.

Efeknya bekerja cepat. Dalam hitungan detik, zat ini langsung merusak jaringan tubuh dengan menghancurkan protein, memicu kematian jaringan (nekrosis), dan menembus hingga lapisan lebih dalam seperti otot. Luka yang ditimbulkan bukan hanya luka bakar biasa, tetapi kerusakan permanen.

Pakar kesehatan masyarakat dan lingkungan, Dicky Budiman, menegaskan dampaknya sangat serius.

"Air keras ini sifatnya korosif dan bekerja sangat cepat menghancurkan jaringan tubuh. Jadi dengan cara menghancurkan protein jaringan, mengakibatkan nekrosis atau kematian jaringan, juga menembus kulit hingga jaringan lebih dalam, termasuk ke otot," jelas Dicky.

Saking berbahayanya, cairan air keras kerap disebut sebagai agen cedera paling merusak. Hal itu lantaran tingkat kerusakan yang timbul sangat cepat, bahkan hanya dalam hitungan detik.

Dari Aktivis KontraS hingga Novel Baswedan, Ada Luka yang Tetap Membekas

Kasus penyiraman air keras kembali terjadi dan menimpa aktivis KontraS, Andrie Yunus. Serangan dilakukan oleh pelaku tak dikenal yang menyiramkan cairan kimia langsung ke tubuh korban di ruang publik.

Baca Juga: Terekam CCTV! Eksekutor Penyiram Andrie Yunus Ganti Baju Usai Beraksi, Diduga Kena Air Keras

Akibatnya tidak main-main. Andrie mengalami luka bakar sekitar 24 persen, dengan bagian tubuh terdampak meliputi wajah, mata, dada, dan tangan. Luka tersebut membuatnya harus menjalani perawatan intensif, sekaligus menunjukkan betapa cepat dan brutalnya efek air keras terhadap tubuh manusia.

Serangan ini mengingatkan publik pada kasus yang dialami Novel Baswedan saat masih menjadi penyidik KPK pada 2017. Air keras yang disiramkan ke wajahnya menyebabkan mata kiri Novel mengalami kerusakan permanen dan tidak dapat dipulihkan.

Dua peristiwa ini memperlihatkan pola yang sama: serangan menyasar wajah, bagian tubuh paling rentan, dengan dampak yang tidak hanya fisik, tetapi juga psikologis dan sosial dalam jangka panjang.

Infografis Teror Air Keras. (Suara.com/Syahda)

Luka Seketika, Dampak Seumur Hidup

Secara medis, efek air keras tergolong ekstrem. Zat korosif bekerja dengan menghancurkan jaringan tubuh secara cepat, menyebabkan luka bakar kimia berat. Kulit bisa melepuh, meleleh, hingga mengalami nekrosis.

Area wajah, kepala, dan mata menjadi sasaran paling rentan. Dalam sejumlah studi kesehatan masyarakat, sekitar 40 persen kasus acid attack menyasar bagian ini. Akibatnya, korban berisiko mengalami kebutaan permanen, kerusakan kornea, bahkan kehilangan kelopak mata.

“Selain disfigurasi permanen, korban sering membutuhkan operasi rekonstruksi berulang, mirip dengan penanganan luka bakar akibat ledakan kimia,” jelas Dicky.

Tak berhenti di situ, pada kasus berat, korban juga bisa mengalami komplikasi sistemik seperti infeksi, syok akibat luka bakar, hingga gagal organ. Di luar aspek fisik, trauma psikologis dan stigma sosial sering kali membayangi korban dalam jangka panjang.

"Karena itu, dari perspektif kesehatan publik, acid attack ini termasuk bentuk kekerasan yang memiliki dampak kesehatan jangka panjang yang sangat berat," ucapnya.

Mudah Didapat, Minim Pengawasan

Di Indonesia, air keras bukanlah satu jenis zat tunggal. Istilah ini merujuk pada berbagai bahan kimia korosif yang sebenarnya legal dan digunakan luas dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari pembersih saluran air, cairan toilet, hingga bahan industri dan baterai.

Karena kegunaannya yang luas, bahan ini dijual bebas di toko kimia, toko bangunan, bahkan platform daring. Harganya relatif murah, mudah dibawa, dan tidak mencolok—menjadikannya “senjata” yang mudah diakses.

Menurut Dicky, persoalan utamanya bukan sekadar ketersediaan, melainkan lemahnya pengawasan.

"Regulasi sebetulnya banyak, tapi kelemahan mendasar dan klasik di semua sektor adalah law enforcement. Jadi penerapan dari aturan itu yang penuh kolusi, korupsi, yang akhirnya banyak penyimpangan dan kelemahan. Ini yang menimbulkan banyak masalah di negara kita,” kritik Dicky.

Padahal, sejumlah negara telah lebih dulu memperketat aturan. Di Australia dan Inggris, misalnya, penjualan bahan korosif dibatasi, mulai dari larangan untuk anak di bawah umur, pembatasan konsentrasi, hingga kewajiban pencatatan identitas pembeli. Bahkan, membawa bahan korosif di ruang publik tanpa alasan jelas dapat dikenai sanksi.

Dari perspektif kesehatan publik, langkah serupa dinilai mendesak diterapkan di Indonesia. Mulai dari pengawasan distribusi, pembatasan kadar bahan berbahaya, registrasi penjualan, hingga kontrol ketat terhadap penjualan online.

Tanpa pengawasan yang kuat, air keras akan terus menjadi ancaman—sebuah “senjata murah” dengan dampak yang tidak pernah sederhana.

Load More