News / Internasional
Kamis, 19 Maret 2026 | 12:27 WIB
Direktur CIA, John Ratcliffe mengungkap fakta baru terkait perang melawan Iran. Menurut Ratcliffe, Iran meminta bantuan intelijen kepada Rusia dan China, serta negara-negara yang jadi musuh AS. (Radio Free Europe)
Baca 10 detik
  • Direktur CIA, John Ratcliffe, menyatakan Iran meminta bantuan intelijen dari Rusia, China, dan musuh AS di Washington.
  • Pernyataan itu disampaikan dalam sidang Komite Intelijen Senat terkait ancaman global di tengah serangan AS dan Israel.
  • Rusia secara resmi membantah keras laporan bahwa mereka memberikan data intelijen atau teknologi militer kepada Iran.

Suara.com - Direktur CIA, John Ratcliffe mengungkap fakta baru terkait perang melawan Iran. Menurut Ratcliffe, Iran meminta bantuan intelijen kepada Rusia dan China, serta negara-negara yang jadi musuh AS.

Pernyataan itu disampaikan saat sidang Komite Intelijen Senat tentang ancaman global di Washington.

Ratcliffe mengatakan permintaan tersebut terjadi di tengah serangan udara yang terus dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

“Iran meminta bantuan intelijen dari Rusia, dari China, dan dari negara-negara lain yang menjadi lawan Amerika Serikat,” ujarnya dalam sidang terbuka seperti dilansir dari The Hill.

Ia menolak menjelaskan secara rinci apakah bantuan tersebut benar-benar diberikan. “Apakah negara-negara itu memberikan bantuan atau tidak, itu akan dibahas dalam sesi tertutup,” kata Ratcliffe kepada anggota Senat.

Dalam sidang yang sama, Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard juga ditanya mengenai laporan bahwa Rusia memberikan dukungan intelijen, termasuk citra satelit, kepada Iran.

Ia tidak membantah, namun menyatakan informasi tersebut hanya bisa dibahas dalam pertemuan rahasia.

“Jika ada pertukaran intelijen, itu lebih tepat dibicarakan dalam sesi tertutup,” kata Gabbard.

Gabbard menambahkan Pentagon menilai bantuan yang mungkin diterima Iran sejauh ini belum mengubah kemampuan operasional Teheran di medan konflik.

Baca Juga: Timnas Iran Tidak Mundur dari Piala Dunia 2026, Boikot AS Tetap Jalan!

Sementara itu, utusan khusus AS untuk Timur Tengah Steve Witkoff mengatakan Rusia membantah telah memberikan intelijen kepada Iran untuk menyerang pasukan Amerika.

“Dalam percakapan dengan Presiden Trump, pihak Rusia mengatakan mereka tidak membagikan intelijen. Itu pernyataan mereka,” ujarnya dalam wawancara televisi.

Hubungan Iran dengan Rusia sebelumnya diakui cukup erat oleh Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, yang menyebut kedua negara memiliki kemitraan yang sangat baik.

Namun ia menolak mengonfirmasi apakah Moskow benar-benar memberikan bantuan intelijen kepada Teheran.

Sementara itu, Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menegaskan laporan tersebut tidak benar.

“Laporan itu adalah fake news,” kata Peskov menanggapi berita Wall Street Journal yang menyebut Moskow memperluas kerja sama militer dengan Teheran.

Load More