- Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno, menegaskan krisis iklim butuh komitmen politik kuat untuk penanganan cepat dan berdampak.
- Indonesia mencatat kenaikan suhu ekstrem pada Maret 2026, menunjukkan kondisi telah menjadi krisis iklim nyata.
- Eddy mendorong pengesahan RUU Pengelolaan Perubahan Iklim sebagai fondasi kebijakan iklim nasional terstruktur.
Suara.com - Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno menegaskan bahwa krisis iklim yang semakin nyata di Indonesia tidak cukup direspons dengan wacana semata. Ia menilai, komitmen politik menjadi kunci utama untuk memastikan upaya penanganan berjalan cepat, terarah, dan berdampak nyata.
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya suhu ekstrem di sejumlah wilayah. Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat suhu tertinggi di Indonesia pada 18 Maret 2026, dengan Jakarta mencapai 35,6 derajat Celsius, disusul Ciputat 35,5 derajat Celsius dan Tangerang 35,4 derajat Celsius.
“Pasca COVID-19 lima tahun yang lalu, saya telah menyerukan pentingnya penanganan masalah iklim yang menyebabkan kenaikan suhu bumi akibat emisi karbon, lonjakan polusi, dan laju deforestasi yang tinggi,” ujar Eddy dalam keterangannya di Jakarta, Senin.
Ia menegaskan bahwa kondisi saat ini tidak lagi layak disebut sebagai perubahan iklim, melainkan sudah masuk fase krisis iklim. Menurutnya, indikatornya terlihat jelas dari kenaikan suhu yang belum pernah terjadi sebelumnya, meningkatnya polusi udara, serta lambatnya laju reforestasi yang tertinggal dari deforestasi.
Dalam konteks ini, Eddy menilai bahwa tantangan terbesar bukan lagi pada kurangnya data atau kesadaran, melainkan pada bagaimana komitmen politik diterjemahkan menjadi kebijakan konkret.
“Pentingnya komitmen politik dan pelaksanaan program mitigasi, adaptasi, serta edukasi harus berjalan bersamaan agar seluruh elemen masyarakat bisa terlibat,” ujarnya.
Ia juga menyinggung bahwa dukungan politik sebenarnya telah disampaikan oleh Presiden Prabowo Subianto dalam berbagai forum, baik di dalam maupun luar negeri. Namun, menurutnya, komitmen tersebut perlu diikuti dengan implementasi yang konsisten lintas sektor.
Eddy menekankan bahwa aksi iklim tidak bisa dilakukan secara parsial. Upaya di hulu seperti perlindungan hutan harus berjalan seiring dengan langkah di hilir, termasuk pengelolaan sampah, penggunaan transportasi publik berbasis listrik, dan perubahan perilaku masyarakat.
Ia juga menyoroti aspek ekonomi dalam penanganan krisis iklim. Menurutnya, investasi pada edukasi dan pencegahan jauh lebih efisien dibandingkan biaya besar yang harus ditanggung akibat bencana lingkungan.
Baca Juga: Peneliti LIPI Sebut Dinamika Politik 'Keluarga Solo' sebagai Perilaku Menyimpang
“Memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pengelolaan sampah hingga penanaman pohon akan jauh lebih ekonomis ketimbang menanggung biaya rekonstruksi akibat bencana alam,” katanya.
Sebagai langkah konkret, Eddy mendorong percepatan pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Pengelolaan Perubahan Iklim yang telah masuk dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas 2026. Ia menilai, regulasi tersebut akan menjadi fondasi penting dalam memastikan arah kebijakan iklim nasional lebih terstruktur dan mengikat.
“Saya berharap kita bisa segera membahas dan mengesahkannya karena penanganan krisis iklim tidak akan efektif tanpa legislasi yang kuat,” ujarnya.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa krisis iklim bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan telah berkembang menjadi krisis yang lebih luas.
“Legislasi ini kelak akan menyelamatkan Indonesia dari berbagai bencana alam berikutnya, karena krisis iklim sesungguhnya merupakan krisis peradaban,” kata Eddy.
Di tengah suhu yang terus meningkat dan risiko bencana yang semakin nyata, pernyataan ini menegaskan satu hal: tanpa komitmen politik yang kuat dan konsisten, upaya menghadapi krisis iklim berisiko tertinggal dari laju perubahan itu sendiri.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Hantavirus Masuk Singapura? Dua Penumpang Kapal MV Hondius Diisolasi
-
Berada di MV Hondius, Youtuber Ruhi Cenet Bongkar Fakta Ngeri saat Hantavirus Tewaskan 3 Orang
-
Sambut HUT ke-499, Jakarta Gelar Car Free Day di Jalan Rasuna Said Minggu Pagi, Cek Titik Parkirnya!
-
Kemensos Bentuk Tim Khusus untuk Mendalami Pengadaan Sepatu Sekolah Rakyat
-
Kutuk Aksi Cabul Ashari di Ponpes Pati, Gus Ipul: Jangan Jadikan Pesantren Kedok!
-
Soroti Kasus Kiai Cabul di Pati, KSP Dudung: Lindungi Korban, Tindak Tegas Pelakunya!
-
Prabowo 'Pamer' Proyek 100 GW Surya RI di ASEAN, Ingatkan Ancaman Krisis Energi
-
Cegah Kelelahan dan Dominasi Elit, Titi Anggraini Desak Pemisahan Pemilu Nasional-Daerah
-
Kepala Daerah dan PPPK Tak Perlu Khawatir, Pelaksanaan Pasal 146 UU HKPD Akan Diatur Melalui UU APBN
-
Prabowo di KTT ASEAN: Dunia Sedang Genting, BIMP-EAGA Harus Lebih Adaptif dan Berdampak