News / Internasional
Senin, 23 Maret 2026 | 16:45 WIB
Ilustrasi peternakan (Pinterest/Joey bekah)

Suara.com - Padang rumput yang selama ini menjadi tulang punggung peternakan dunia perlahan menyusut akibat krisis iklim. Dampaknya bukan hanya pada ternak, tapi juga mengancam ketahanan pangan global.

Sebuah penelitian terbaru dalam jurnal PNAS mengungkapkan bahwa perubahan iklim dapat mengurangi luas lahan yang cocok untuk penggembalaan ternak di seluruh dunia sebesar 36 persen hingga 50 persen pada akhir abad ini. Fenomena ini menjadi sorotan karena sistem penggembalaan berbasis padang rumput saat ini mencakup sepertiga dari seluruh permukaan Bumi.

Dikutip dari green queen, para peneliti dari Potsdam Institute for Climate Impact Research (PIK) menjelaskan bahwa peningkatan emisi gas rumah kaca menjadi pemicu utama di balik penyusutan ini. Dampak dari krisis iklim ini diprediksi akan mengancam ketahanan pangan global serta memengaruhi ratusan juta peternak, terutama di wilayah-wilayah yang secara ekonomi rentan.

Identifikasi Ruang Iklim Aman bagi Ternak

Dalam studi tersebut, tim ahli mengidentifikasi ruang iklim yang aman untuk hewan ternak seperti sapi, domba, dan kambing. Ruang ini dinilai berdasarkan beberapa variabel lingkungan yang krusial, antara lain suhu udara, tingkat curah hujan, kelembapan, hingga kecepatan angin.

Selama ini, sistem penggembalaan dunia telah berkembang dalam parameter lingkungan yang cukup spesifik, yakni pada suhu berkisar -3°C hingga 29°C, curah hujan tahunan antara 50 hingga 2.628 mm, kelembapan 39-67%, serta kecepatan angin satu hingga enam meter per detik.

Peneliti dari PIK dan Barcelona Supercomputing Center, Maximilian Kotz menyatakan bahwa perubahan kondisi lingkungan ini akan mempersempit ruang bagi peternakan tradisional untuk bertahan dan berkembang.

Dampaknya Bagi Benua Afrika

Laporan ini menekankan bahwa benua Afrika akan memikul beban paling berat akibat dari pergeseran iklim ini. Diperkirakan, sekitar 110 hingga 140 juta peternak serta 1,4 hingga 1,6 miliar hewan ternak akan terdampak secara langsung. Dalam skenario emisi rendah, luas padang rumput di Afrika diprediksi menyusut sebesar 16%. Namun, angka ini bisa melonjak hingga 65 persen jika ekspansi bahan bakar fosil terus berlanjut.

Baca Juga: Studi: 58 Persen Orang Lebih Utamakan Lingkungan daripada Pertumbuhan Ekonomi

Wilayah-wilayah seperti dataran tinggi Ethiopia, Lembah Celah Afrika Timur, serta Cekungan Kalahari dan Kongo diperkirakan akan mengalami pergeseran zona suhu ke arah selatan. Karena daratan benua Afrika berakhir di Samudra Antartika, maka sabuk suhu yang sesuai untuk penggembalaan tersebut pada akhirnya akan meluas, menyebabkan hilangnya lahan karena melampaui batas daratan.

Tantangan Adaptasi dan Peran Protein Alternatif

Ironisnya, industri peternakan saat ini menyumbang hampir seperlima dari emisi global dan menggunakan 80% lahan pertanian dunia.

Sektor peternakan ini bisa menjadi salah satu pendorong utama perubahan iklim jika dampaknya diukur menggunakan metrik terbaru. Saat ini, sektor tersebut justru terpuruk akibat dampak perubahan iklim itu sendiri, yang memicu penurunan populasi ternak, berkurangnya pasokan, serta lonjakan harga daging ke level paling tinggi.

Asisten profesor University of Groningen, Prajal Pradhan menyebutkan bahwa skala perubahan iklim tersebut terlalu besar dan menantang untuk diatasi hanya dengan strategi adaptasi tradisional, seperti mengganti spesies hewan atau memindahkan lokasi penggembalaan.

Sebagai solusinya, studi ini menyarankan percepatan produksi protein alternatif, seperti produk berbasis nabati atau pola makan vegan. Sebuah makalah penting dari tahun 2023 menunjukkan bahwa produk berbasis nabati mampu mengurangi emisi, polusi air, dan penggunaan lahan hingga 75 persen lebih efisien dibandingkan konsumsi daging konvensional.

Load More