-
Blokade Iran di Selat Hormuz melumpuhkan 95 persen arus pengiriman minyak mentah global saat ini.
-
Donald Trump memberikan ultimatum 48 jam kepada Iran untuk membuka blokade atau menghadapi kehancuran infrastruktur.
-
Konflik ini memicu lonjakan harga operasional kapal tanker dan mengancam keamanan infrastruktur informasi dunia.
Data menunjukkan sekitar 20 persen aliran minyak dan gas alam cair (LNG) global melewati titik ini pada situasi normal.
Namun, sejak awal Maret, tercatat ada 24 insiden keamanan yang menimpa kapal-kapal yang melintas di zona tersebut.
Tercatat ada delapan pelaut yang kehilangan nyawa serta belasan lainnya mengalami luka-luka atau dinyatakan hilang dalam konflik ini.
Volume pengiriman jatuh hingga 95 persen, di mana biasanya terdapat 120 kapal melintas setiap harinya kini hanya tersisa sedikit.
Kondisi ini berdampak langsung pada 20.000 pekerja sektor maritim mulai dari awak kapal hingga petugas pelabuhan lepas pantai.
Sekitar 3.200 unit kapal besar kini terjebak di sekitar wilayah tersebut tanpa kepastian kapan bisa melanjutkan perjalanan mereka.
Biaya logistik membengkak hebat dengan kenaikan harga bahan bakar kapal mencapai angka 90 persen dalam waktu singkat.
Satu hambatan paling mematikan bagi Angkatan Laut AS adalah kemungkinan adanya ladang ranjau bawah laut yang dipasang Iran.
Ranjau laut merupakan senjata sederhana namun sangat destruktif yang mampu menghentikan seluruh aktivitas navigasi kapal tanker raksasa.
Baca Juga: Panik Diserang Balik Iran, Israel Tiba-tiba Ingat HAM dan Minta Tolong Dunia
Proses pembersihan ranjau membutuhkan waktu berminggu-minggu dan menempatkan personel militer pada risiko kematian yang tinggi.
Selain ranjau, Iran mengandalkan taktik serbuan cepat menggunakan ratusan kapal lincah yang dilengkapi dengan roket dan drone.
Militer Amerika mencoba meredam taktik ini dengan mengerahkan jet tempur A-10 untuk memburu kapal-kapal cepat milik Garda Revolusi.
Strategi paling ekstrem yang muncul di meja perundingan Washington adalah rencana untuk menduduki Pulau Kharg secara paksa.
Pulau tersebut merupakan jantung dari aktivitas ekspor minyak Iran yang menjadi sumber pendanaan utama militer mereka.
Namun, serangan amfibi yang melibatkan ribuan personel Marinir dikhawatirkan akan menyeret Amerika ke dalam lubang perang yang lebih dalam.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Motor Eropa Siap Sikat CBR150R dan R15, Harganya Cuma Segini
- Promo Alfamart Hari Ini 6 Mei 2026, Serba Gratis hingga Tukar A-Poin dengan Produk Pilihan
- 5 Sepatu Lokal Versatile Mulai Rp100 Ribuan, Empuk Buat Kerja dan Jalan Jauh
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Zulkifli Hasan Target PAN Banten Tiga Besar di Tanah Jawara
-
Usai Jalani Sidang di Jakarta, Ammar Zoni Kembali Dipindah ke Lapas Super Maksimum Nusakambangan
-
Prabowo Janji Renovasi Puskesmas dan Sekolah di Miangas
-
Ada Semangat dan Kehidupan Baru dari Balik Pintu Huntara
-
Satgas PRR Salurkan Rp1,9 T Hadirkan Ruang Kelas Nyaman di Wilayah Terdampak
-
Bantargebang Terancam Overload, Warga Jakarta Wajib Pilah Sampah dari Rumah Mulai Besok
-
Penggerebekan Besar di Hayam Wuruk, Polda Metro Jaya Bongkar Jaringan Judi Online Internasional
-
Pecah! Prabowo Joget Tabola Bale Bareng Warga Miangas Usai Hadiri KTT ASEAN
-
Brimob Bersenjata Lengkap Kepung Hayam Wuruk: Markas Judi Online Jaringan Internasional Terendus
-
Cegah Tawuran, Kolong Flyover Pasar Rebo Disulap Jadi Sasana Tinju dan Skate Park