-
Amerika Serikat memerintahkan pengerahan ribuan pasukan militer menuju kawasan konflik di Timur Tengah.
-
Pentagon mempertimbangkan opsi operasi darat ke Iran meski keputusan akhir belum ditetapkan resmi.
-
Pakistan bertindak sebagai mediator diplomatik antara AS dan Iran guna menghentikan perang tersebut.
Operasi militer pada 28 Februari tersebut mengakibatkan kerusakan infrastruktur yang parah dan memakan korban jiwa warga sipil.
Pemerintah Iran tidak tinggal diam dan memberikan balasan setimpal terhadap wilayah Israel serta basis militer Amerika.
Seluruh pangkalan militer AS yang tersebar di wilayah Timur Tengah menjadi target serangan balasan dari pihak Iran.
Di tengah desing peluru dan ledakan rudal, sebuah inisiatif diplomatik muncul ke permukaan melalui laporan media.
Amerika Serikat dikabarkan telah mengirimkan dokumen berisi 15 poin rencana perdamaian untuk meredam bara konflik.
Dokumen rahasia tersebut berisi langkah konkret mengenai program nuklir Iran serta sistem rudal balistik mereka.
Keamanan jalur perdagangan maritim di Selat Hormuz juga menjadi poin krusial dalam draf perdamaian yang diusulkan.
The New York Times mengungkapkan bahwa proses komunikasi ini melibatkan peran Pakistan sebagai jembatan penghubung utama.
Marsekal Lapangan Syed Asim Munir yang menjabat Kepala Angkatan Darat Pakistan muncul sebagai sosok mediator penting.
Baca Juga: Serangan Balik, Iran Hujan Rudal Israel Hingga 12 Orang Tewas
Islamabad menyatakan kesiapan penuh untuk menjadi fasilitator pertemuan jika kedua belah pihak bersedia duduk bersama.
Pada Senin kemarin, Presiden Donald Trump secara resmi mengumumkan penghentian sementara serangan militer selama lima hari.
Gencatan senjata singkat ini dikhususkan pada target infrastruktur energi dan pembangkit listrik yang berada di Iran.
"Sangat baik dan produktif," ujar Donald Trump menggambarkan hasil pembicaraan yang dilakukan selama dua hari terakhir.
Pihak Teheran sendiri mengakui telah menerima pesan diplomatik dari beberapa negara sahabat terkait permintaan negosiasi ini.
Meskipun demikian, Iran tetap membantah adanya komunikasi langsung secara tatap muka dengan pemerintah Washington.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Promo Alfamart Hari Ini 7 Mei 2026, Body Care Fair Diskon hingga 40 Persen
- 5 Pilihan HP Android Kamera Stabil untuk Hasil Video Minim Jitter Mei 2026, Terbaik di Kelasnya
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Update Kericuhan Lukas Enembe: 14 Orang Diperiksa, Polisi Data Puluhan Kendaraan yang Rusak
-
Momen Akrab Presiden Prabowo Dialog di Atas Perahu: Borong Keluhan Nelayan Gorontalo
-
Nelayan Tak Boleh Dilupakan, Prabowo Janjikan Perbaikan Kesejahteraan Nasional
-
Prabowo di Gorontalo: Indonesia Kuat, Tak Panik Hadapi Gejolak Dunia karena Swasembada Pangan
-
Prabowo soal MBG: Sekolah yang Butuh Segera Diberi, yang Tidak Perlu Tidak Dipaksakan
-
Anies Baswedan dan Najelaa Shihab Soroti Bahaya AI bagi Pelajar: Otak Bisa Malas Berpikir
-
Ketua DPD Golkar DKI Sebut Jakarta Darurat Sampah, Warga Diminta Mulai Bergerak dari Rumah
-
Prabowo Genjot Ekonomi Biru, Nelayan Disiapkan Jadi Kekuatan Baru Indonesia
-
Terungkap! Ratusan WNA Operator Judi Online di Hayam Wuruk Ternyata Direkrut 'Veteran Kamboja'
-
Menuju Target Nasional Pengurangan Sampah 2029, Ini Kebiasaan yang Harus Digencarkan di Rumah