-
Amerika Serikat menawarkan proposal 15 poin guna mengakhiri konflik bersenjata dengan Iran.
-
Pakistan berperan sebagai mediator utama untuk memfasilitasi gencatan senjata selama satu bulan.
-
Operasi militer Epic Fury tetap berjalan meski proses diplomasi sedang diupayakan Washington.
Sebagai kompensasi atas kepatuhan Iran, Amerika menjanjikan penghapusan seluruh sanksi ekonomi yang selama ini berlaku.
Gedung Putih bahkan bersedia mendukung pengembangan program energi nuklir sipil di wilayah fasilitas Bushehr.
Langkah ini mengejutkan karena sebelumnya lokasi tersebut masuk dalam daftar target serangan militer Israel.
Hal menarik lainnya adalah tidak adanya poin yang menuntut penggantian kekuasaan atau perubahan rezim.
Kebijakan ini menandakan kesediaan Trump membiarkan pemerintahan saat ini bertahan namun dalam posisi lemah.
Saluran media Israel, Channel 12, mengabarkan adanya rencana gencatan senjata selama satu bulan penuh.
Masa jeda ini akan dimanfaatkan kedua belah pihak untuk merumuskan kesepakatan yang lebih permanen.
Marsekal Lapangan Syed Asim Munir dari Pakistan dipercaya menjadi tokoh sentral dalam proses mediasi ini.
Sosok yang disebut Trump sebagai "marsekal lapangan favoritnya" ini memiliki jaringan luas di internal Iran.
Baca Juga: Misteri Negosiator Rahasia, Klaim Damai Donald Trump Dibantah Mentah-mentah oleh Teheran
Munir dilaporkan terus menjalin kontak dengan Mohammad Bagher Ghalibaf yang menjabat sebagai Ketua Parlemen Iran.
Upaya damai ini mendapatkan dukungan penuh dari negara-negara regional seperti Turki dan juga Mesir.
Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menyatakan kesiapan negaranya menjadi lokasi pertemuan tingkat tinggi tersebut.
“Dengan persetujuan dari AS dan Iran, Pakistan siap dan merasa terhormat untuk menjadi tuan rumah guna memfasilitasi pembicaraan yang bermakna dan tuntas untuk penyelesaian komprehensif atas konflik yang sedang berlangsung,” tulis Shehbaz Sharif.
Pernyataan resmi tersebut diunggah melalui media sosial dan dikutip kembali oleh berbagai media internasional.
Meskipun jalur dialog telah dibuka, operasi militer koalisi di lapangan nyatanya masih terus berkecamuk.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Promo Alfamart Hari Ini 7 Mei 2026, Body Care Fair Diskon hingga 40 Persen
- 5 Pilihan HP Android Kamera Stabil untuk Hasil Video Minim Jitter Mei 2026, Terbaik di Kelasnya
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
AS Siapkan Karantina Militer di Nebraska Antisipasi Penularan Hantavirus Mematikan dari Kapal Pesiar
-
Putin Isyaratkan Akhir Perang Ukraina, Rusia Buka Dialog Keamanan Eropa
-
Pakar Medis Belanda Menjamin Hantavirus Bukan Ancaman Pandemi Baru Seperti COVID-19
-
Update Kericuhan Lukas Enembe: 14 Orang Diperiksa, Polisi Data Puluhan Kendaraan yang Rusak
-
Momen Akrab Presiden Prabowo Dialog di Atas Perahu: Borong Keluhan Nelayan Gorontalo
-
Nelayan Tak Boleh Dilupakan, Prabowo Janjikan Perbaikan Kesejahteraan Nasional
-
Prabowo di Gorontalo: Indonesia Kuat, Tak Panik Hadapi Gejolak Dunia karena Swasembada Pangan
-
Prabowo soal MBG: Sekolah yang Butuh Segera Diberi, yang Tidak Perlu Tidak Dipaksakan
-
Anies Baswedan dan Najelaa Shihab Soroti Bahaya AI bagi Pelajar: Otak Bisa Malas Berpikir
-
Ketua DPD Golkar DKI Sebut Jakarta Darurat Sampah, Warga Diminta Mulai Bergerak dari Rumah