- Donald Trump mengklaim sedang bernegosiasi dengan tokoh penting Iran dan menerima "hadiah besar" dari sektor komoditas energi.
- Laporan koresponden di Teheran menyebut pejabat lokal membantah keras klaim tersebut dan memastikan tidak ada perundingan politik sama sekali.
- Warga Iran kini dilanda kebingungan karena di saat AS mengklaim ada negosiasi, militer mereka justru sedang meluncurkan serangan gelombang ke-79.
Suara.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu kehebohan global melalui pernyataan sepihaknya yang ternyata bertolak belakang dengan sikap resmi para Petinggi Iran.
Pernyataan kontroversial mengenai adanya proses perundingan rahasia tersebut langsung menjadi sorotan tajam dalam laporan eksklusif yang disiarkan oleh Jaringan Berita Al Jazeera.
Di saat sang presiden sesumbar telah menerima hadiah dari Sektor Minyak dan Gas, para Komandan Militer di Teheran justru sibuk melancarkan gelombang serangan udara mematikan.
Dalam serangkaian pernyataan terbarunya, pemimpin Amerika Serikat itu dengan sangat percaya diri mengumumkan bahwa ia sedang mengadakan pembicaraan dengan orang-orang yang tepat di negara rivalnya tersebut.
Ia bahkan terang-terangan mengeklaim bahwa pihak Teheran saat ini sangat mendambakan sebuah kesepakatan damai untuk mengakhiri ketegangan.
Selain itu, ia ikut mengagumi sebuah keuntungan besar yang disebutnya sebagai hadiah luar biasa dari musuhnya yang berkaitan dengan komoditas energi dunia.
Namun, situasi di ibu kota Republik Islam tersebut justru menunjukkan kenyataan yang sangat membingungkan bagi masyarakat sipil setempat.
Koresponden yang melaporkan langsung dari Teheran mengungkapkan rasa herannya terhadap klaim sepihak dari pihak Washington.
"Bertentangan dengan keterusterangan yang tampaknya ditunjukkan Donald Trump, ada ambiguitas di Iran. Orang-orang tidak tahu apa yang sedang terjadi. Mereka tidak tahu siapa yang bernegosiasi atas nama mereka. Siapakah pria yang digambarkan Trump sebagai "sangat dihormati" di Iran dan yang diajak bicara oleh Amerika?," tulis seorang koresponden dikutip dari Radio Farda.
Baca Juga: Media Arab Telanjangi Kasus Mohammad Bagher Ghalibaf: Berkali-kali Gagal Jadi Presiden Iran
Laporan tersebut juga mengkritik bentuk pasti dari keuntungan energi yang dibanggakan oleh kepala negara Amerika Serikat.
"Kami tidak tahu apa hadiah yang dikatakan Trump diberikan kepada Amerika Serikat oleh Iran dalam hal minyak dan gas. Sebaliknya, apa yang kami dengar dari para pejabat dan politisi di sini adalah kebalikannya," jelas koresponden tersebut.
"Mereka mengatakan tidak ada negosiasi, langsung atau tidak langsung, yang terjadi. Sementara itu, komandan militer hanya berbicara tentang pengeboman, rudal, drone, dan melanjutkan perang untuk mempertahankan negara. Gelombang serangan terbaru - Gelombang 79 - dimulai beberapa jam yang lalu terhadap Israel dan target di seluruh wilayah, yang mencerminkan wacana dan narasi yang sama sekali berbeda di Iran."
Berdasarkan laporan yang dikirimkan pada Rabu pagi waktu setempat, para pejabat tinggi setempat dengan tegas menjelaskan segala rumor terkait perundingan damai.
Prioritas utama negara saat ini murni terfokus pada pertempuran bersenjata guna mempertahankan kedaulatan wilayah mereka.
"Kemarin, para pejabat menyangkal adanya negosiasi apa pun, dan posisi ini tidak berubah hingga hari ini. Pertempuran telah menjadi prioritas di sini dan tidak ada yang membicarakan konsultasi politik," ucap sumber Radio Farda.
Menyimpan informasi di tingkat elite ini pada akhirnya menciptakan kebingungan massal yang belum pernah terjadi sebelumnya di tengah masyarakat.
"Sampai saat ini, semua orang hanya mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Ada kebingungan dan ambiguitas, dan itulah yang membuat situasi saat ini sangat menarik dan sangat aneh."
Berita Terkait
-
Ribuan Tentara Amerika Serikat Siap Serang Iran Lewat Darat
-
Arab Saudi Marah ke Iran, Singgung Serangan Rudal Kiamat ke Negara Islam
-
2000 Tentara AS Dikirim Donald Trump ke Timur Tengah, Bersiap Masuki Iran
-
Serangan Balik, Iran Hujan Rudal Israel Hingga 12 Orang Tewas
-
Iran Makin Terdesak, Negara Teluk Mulai Izinkan Militer Amerika Serikat Gunakan Pangkalan Udara
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- 3 HP Infinix Memori 256 GB dan NFC Harga Rp1 Jutaan, Solusi Multitasking hingga Gaming
- KPAI Desak Audit Total MBG: Tata Kelola Gagal, Anak-anak Jadi Korban Ambisi Program
- Ramalan Shio 9 Agustus 2026: 5 Shio Bakal Buang Kesialan dan Buka Jalan Keberuntungan
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Kebakaran Empat Lawang, 20 Rumah Terdampak dan Kerugian Tembus Rp5,2 Miliar
-
3 Pelaku Begal Polisi di Palembang Ternyata Ayah, Anak dan Seorang Perempuan
-
Jadi Ojek Pangkalan, Polisi di Palembang Ditusuk 4 Kali dan Motornya Dibawa Kabur Begal
-
Kemiskinan Sumsel Turun, Garis Kemiskinan Naik 3,15 Persen Jadi Rp628 Ribu Per Bulan
-
Kasus Iklan BJB, Ada Dugaan Aliran Dana ke Lisa Mariana Lewat Pihak Nominee
-
KPK Tahan Bos-Bos Iklan Bank BJB, Dirut Yuddy Renaldi Mendadak Sakit Saat Akan Dibui
-
BRI Beri Diskon Spesial Seminar Johnny Andrean Lewat Aplikasi BRImo
-
Menuju IFRC 2026, ERT NHM Perdalam Teknik dan Strategi Penyelamatan
-
Gelar Dicopot! Profil Menantu Sultan Brunei yang Bikin Penasaran Publik, Ternyata Ini Kasusnya
-
PSSI Murka! Justin Hubner dan Keluarga Jadi Sasaran Ancaman, Publik Diminta Hentikan Serangan