News / Nasional
Rabu, 25 Maret 2026 | 16:09 WIB
Presiden Prabowo Subianto menerima Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (19/3/2026). Pertemuan itu digelar berkat komunikasi Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad. [ANTARA/Instagram/@prabowo/aa]
Baca 10 detik
  • Pertemuan Megawati dan Prabowo di Istana Merdeka pada 19 Maret dimediasi oleh Sufmi Dasco Ahmad sebagai aktor intelektual utama.
  • Manuver Dasco dinilai sebagai diplomasi elite strategis untuk merespons tantangan geopolitik dan menstabilkan politik dalam negeri.
  • Aksi ini bertujuan mengatasi sekat politik dan sejarah panjang kedua tokoh demi kepentingan persatuan nasional yang lebih besar.

Dalam pandangannya, ketegangan internasional memerlukan fondasi internal yang sangat solid agar Indonesia tidak mudah terombang-ambing.

“Dunia saat ini sedang tak stabil. Indonesia tidak boleh terpecah belah, itu kuncinya. Maka, simbol-simbol politik harus disatukan sebagai kekuatan politik nasional. Dasco tampaknya membaca momentum itu," kata dia.

Langkah ini disebut sebagai sebuah "operasi stabilisasi politik" yang dilakukan secara halus namun memiliki dampak yang sangat efektif.

Dengan menyatukan dua kutub besar yang selama ini menjadi simbol kekuatan politik di Indonesia, potensi gesekan di akar rumput dapat diminimalisir.

Kehadiran Dasco sebagai pengatur ritme pertemuan memastikan bahwa setiap pesan yang disampaikan memiliki resonansi yang positif bagi pasar dan stabilitas keamanan nasional.

Melampaui Ego dan Sejarah Politik

Menyatukan Megawati dan Prabowo bukanlah perkara mudah. Keduanya memiliki dimensi historis yang panjang, mulai dari masa kerja sama hingga periode persaingan yang ketat.

Proses ini membutuhkan tingkat kepercayaan (trust) yang sangat tinggi, sesuatu yang berhasil dibangun oleh Dasco melalui komunikasi intensif yang jauh dari hiruk-pikuk kamera media.

Amir Hamzah menegaskan, apa yang dilakukan Dasco adalah upaya mengatasi hambatan-hambatan psikologis dan politik yang kompleks.

Baca Juga: Diplomasi Idulfitri: Prabowo Telepon Pemimpin Dunia Bahas Konflik Iran-Israel

Rekonsiliasi ini bukan sekadar pembagian kursi atau koalisi praktis, melainkan penyamaan visi besar untuk masa depan Indonesia.

“Jadi, pertemuan itu bukan sekadar politik praktis, ini soal sejarah dan kepentingan besar kebangsaan," tegasnya.

Load More