News / Nasional
Rabu, 25 Maret 2026 | 22:38 WIB
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia di kediaman pribadi Prabowo di Hambalang, Bogor, Rabu (25/3/2026). [Suara.com/Novian]
Baca 10 detik
  • Menteri ESDM melaporkan hasil rapat di Bogor mengenai percepatan 20 proyek hilirisasi dan rencana 13 proyek baru senilai Rp239 triliun.
  • Presiden mengarahkan optimalisasi energi domestik seperti etanol dan biodiesel CPO serta percepatan transisi energi terbarukan.
  • Presiden menekankan prioritas kepentingan negara dalam pengelolaan SDA untuk menjaga aset dan mengoptimalkan penerimaan negara.

Suara.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyampaikan bahwa pemerintah terus mempercepat langkah hilirisasi dan penguatan ketahanan energi nasional.

Hal itu disampaikan Bahlil usai mengikuti rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah menteri di kediaman pribadi Prabowo di Hambalang, Bogor.

Bahlil menjelaskan, perkembangan program hilirisasi menjadi salah satu prioritas pemerintah. Dari 20 proyek hilirisasi tahap pertama, sebagian telah memasuki tahap peletakan batu pertama (groundbreaking), sementara sisanya dijadwalkan mulai bulan depan.

“Kemudian kita tambah lagi ada 13 item hilirisasi yang total investasinya kurang lebih sekitar Rp239 triliun dan akan kita bahas finalisasi,” ujar Bahlil usai rapat, Rabu (25/3/2026).

Selain hilirisasi, Bahlil juga menyampaikan terkait pengembangan energi alternatif sebagai bagian dari upaya menuju ketahanan dan swasembada energi.

Menurut Bahlil, kepala negara mengarahkan agar seluruh potensi energi domestik dioptimalkan, termasuk etanol dan biodiesel berbasis crude palm oil (CPO), serta percepatan transisi menuju energi baru dan terbarukan.

“Bapak Presiden memerintahkan untuk mengoptimalkan seluruh potensi-potensi energi yang ada di kita, baik itu etanol, baik itu biodiesel dari CPO, termasuk bagaimana kita mendorong agar transisi energi lewat energi baru terbarukan juga bisa kita lakukan,” kata Bahlil.

Dalam kesempatan tersebut, Bahlil juga melaporkan kondisi terkini harga komoditas energi dan mineral, khususnya batu bara dan nikel. Ia menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada perubahan kebijakan terkait pengelolaan kedua komoditas tersebut, sembari pemerintah terus memantau dinamika pasar global.

“Andaikan pun kalau harganya stabil terus, bagus, kita akan bagaimana membuat relaksasi, tetapi terukur terhadap perencanaan produksi. Jadi semuanya masih dalam batas-batas koordinasi dengan pasar, kemudian kebutuhan supply and demand. Yang penting adalah kita inginkan harganya bagus terus, kita doakan harga batu bara bagus, harga nikel bagus, kemudian kita akan melakukan relaksasi terukur,” tutur Bahlil, sebagaimana keterangan resmi Sekretariat Presiden.

Baca Juga: Disetujui Prabowo, Purbaya Sebut Bea Keluar Batu Bara Bisa Berlaku 1 April 2026

Prabowo sekaligus memberikan arahan khusus agar pengelolaan sumber daya alam mengutamakan kepentingan negara.

Ia menekankan pentingnya menjaga sumber daya alam sebagai aset strategis nasional sekaligus mendorong optimalisasi penerimaan negara dari sektor mineral.

“Bapak Presiden memerintahkan kepada saya untuk bagaimana memperhatikan kepentingan negara sebagai prioritas di atas segala-galanya. Kita harus menjaga sumber daya alam kita karena merupakan aset negara. Bahkan Bapak Presiden juga memerintahkan untuk mencari sumber-sumber pendapatan di sektor mineral yang selama ini belum adil bagi negara,” kata Bahlil.

Adapun target pemerintah ke depan adalah memastikan hilirisasi berjalan optimal, transisi energi terus bergerak maju, serta produksi komoditas energi tetap seimbang dengan kebutuhan pasar. Pemerintah juga berupaya menjaga agar harga komoditas tetap kompetitif tanpa mengorbankan kepentingan nasional.

Dengan arah kebijakan yang terintegrasi, mulai dari hilirisasi industri, penguatan energi domestik, hingga tata kelola sumber daya alam yang berdaulat, pemerintah menargetkan penguatan kemandirian energi nasional serta peningkatan penerimaan negara secara berkelanjutan.

Load More