- Amerika Serikat dan Israel menghapus sementara dua pejabat tinggi Iran dari target pembunuhan untuk menjajaki negosiasi damai.
- Iran secara resmi menolak proposal gencatan senjata dari Washington, menegaskan kedaulatan mereka dalam mengakhiri konflik.
- Israel menerapkan strategi dekapitasi dengan menargetkan pemimpin Iran, sementara AS fokus pada fasilitas militer utama.
Leavitt menegaskan bahwa jika kesepakatan gagal, AS akan "memukul Iran lebih keras daripada yang pernah mereka alami sebelumnya".
Strategi "Penggal Kepala" Israel dan Nasib Kepemimpinan Iran
Sejak pecahnya perang pada 28 Februari lalu, Israel telah menjalankan strategi militer yang sangat agresif.
Dengan menggunakan "strategi dekapitasi" atau pemenggalan struktur kepemimpinan—mirip dengan taktik yang mereka gunakan saat melawan Hamas dan Hizbullah—Israel telah melenyapkan banyak pejabat penting rezim Teheran melalui serangkaian serangan udara yang presisi.
Daftar pemimpin Iran yang telah tereliminasi dilaporkan mencakup nama-nama besar seperti Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, Kepala Keamanan Ali Larijani, hingga mantan menteri intelijen Esmaeil Khatib.
Israel secara terbuka mengancam akan terus memburu para pemimpin puncak Iran selama konflik berlangsung.
Berbeda dengan fokus Israel pada target personal kepemimpinan, AS selama ini lebih memfokuskan serangannya pada fasilitas militer, situs peluncuran rudal, serta pusat-pusat produksi persenjataan di seluruh Iran.
Strategi gabungan ini dirancang untuk melumpuhkan kekuatan militer Iran sekaligus meruntuhkan moral pemerintahan mereka.
Klaim Kemenangan Donald Trump
Baca Juga: Percakapan Rahasia Pangeran MBS ke Trump: Teruskan Perang, Hancurkan Iran
Presiden Donald Trump sendiri menunjukkan kepercayaan diri yang tinggi atas hasil serangan militer yang telah dilakukan.
Dalam pernyataannya kepada wartawan pada hari Selasa (24/3), Trump mengklaim bahwa serangan awal telah berhasil melenyapkan banyak kandidat penerus potensial bagi posisi Ayatollah.
Ia percaya bahwa kondisi ini memberikan Amerika Serikat posisi tawar yang jauh lebih unggul dalam negosiasi perdamaian.
Trump bahkan melontarkan pernyataan yang cukup provokatif mengenai efektivitas serangan AS dan sekutunya dalam menghancurkan struktur kepemimpinan Iran.
"Kami membunuh semua kepemimpinan mereka, lalu mereka bertemu untuk memilih pemimpin baru, dan kami membunuh mereka semua. Dan sekarang kami memiliki kelompok baru, dan kami bisa dengan mudah melakukan itu, tapi mari kita lihat bagaimana hasilnya,"** ujar Trump kepada awak media.
Pernyataan ini seolah menegaskan bahwa jeda empat hingga lima hari bagi Ghalibaf dan Araghchi adalah kesempatan terakhir yang diberikan Washington sebelum mereka kembali ke strategi militer penuh.
Berita Terkait
-
Percakapan Rahasia Pangeran MBS ke Trump: Teruskan Perang, Hancurkan Iran
-
Krisis Energi, Presiden Korsel Minta Warga Mandi Jangan Lama-lama, Cas HP Hanya Siang
-
Efek Perang Iran: Kim Jong Un Makin Yakin Nuklir Adalah Kunci Selamat
-
Darurat Panic Buying, Pemerintah Jepang Jamin Pasokan Tisu Aman
-
Trump Jadi Pinokio di Karikatur Media Iran: Klaim Negosiasi Damai Hanya Kebohongan Besar
Terpopuler
- REDMI 15 Resmi Dijual di Indonesia, Baterai 7.000 mAh dan Fitur Cerdas untuk Gen Z
- Peta 30 Suara Mulai Terbaca, Munafri Unggul Sementara di Musda Golkar Sulsel
- Kehabisan Uang Usai Mudik di Jogja, Ratusan Perantau Berburu Program Balik Kerja Gratis
- 55 Kode Redeem FF Max Terbaru 23 Maret 2026: Klaim THR, Diamond, dan SG2 Tengkorak
- Mobil Alphard Termurah, 100 Jutaan Dapat Tahun Berapa?
Pilihan
-
Video Jusuf Kalla di Pesawat Menuju Iran adalah Hoaks
-
Kabais Dicopot Buntut Aksi Penyiraman Air Keras Terhadap Andrie Yunus
-
Puncak Arus Balik! 50 Ribu Orang Padati Jakarta, KAI Daop 1 Tebar Diskon Tiket 20 Persen
-
Arus Balik, Penumpang Asal Jawa Tengah Hingga Sumatera Masih Padati Terminal Bus Kalideres
-
Ogah Terjebak Kemacetan di Pantura, Ratusan Pemudik Motor Pilih Tidur di Kapal Perang TNI AL
Terkini
-
Celios: Konversi Motor Listrik Tingkatkan Efisiensi Energi dan Ekonomi Lokal
-
3 Pendamping PKH Kemensos Dipecat, Gus Ipul Sentil ASN Sia-siakan Kesempatan
-
Lalu Lintas Tol Regional Nusantara Tembus 2,6 Juta Kendaraan hingga H+3 Lebaran 2026
-
Gus Ipul Sentil Ada ASN Kemensos Cuma 'Haha-Hihi' saat Jam Kerja
-
Dikabarkan Menyerah dan Merapat ke Solo, dr Tifa Beri Jawaban Menohok Lewat 'Senjata' Baru!
-
Percakapan Rahasia Pangeran MBS ke Trump: Teruskan Perang, Hancurkan Iran
-
Tarif Rp1 Picu Lonjakan, Penumpang Transjakarta Tembus 697 Ribu dalam Sehari saat Lebaran
-
Terapkan Operasional Ramah Lingkungan, BNI Hemat Energi 559 Ribu Giga Joule Sepanjang 2025
-
Perang Hari ke-27: Ratusan Pesawat Tempur AS-Israel Rontok di Tangan Iran
-
Video Jusuf Kalla di Pesawat Menuju Iran adalah Hoaks