-
Konflik Timur Tengah mengganggu pasokan helium yang menjadi bahan vital dalam produksi chip.
-
Harga konsol PS5 naik signifikan akibat lonjakan biaya komponen semikonduktor di pasar global.
-
Produksi elektronik dan otomotif terancam berhenti total jika krisis helium terus berlangsung lama.
Jika pabrik benar-benar berhenti beroperasi, maka rantai pasok global dipastikan akan mengalami kelumpuhan total.
Sektor transportasi yang kini sangat bergantung pada komponen digital akan merasakan dampak kenaikan harga signifikan.
Jerry Zhang dari perusahaan komponen VAT menegaskan bahwa pengetatan pasokan helium sudah mulai dirasakan.
Efek negatif ini sudah menjalar ke berbagai perusahaan manufaktur yang berbasis di wilayah Asia dan Eropa.
Distribusi barang yang terhambat menjadi faktor tambahan yang memperkeruh suasana perdagangan komponen dunia saat ini.
Serangan yang diluncurkan Iran pada pertengahan Maret lalu menjadi pemicu utama matinya ekspor gas Qatar.
Penutupan fasilitas ekspor tersebut secara otomatis memangkas ketersediaan helium di tingkat internasional secara drastis.
Kapasitas pengiriman luar negeri dari Qatar dilaporkan akan mengalami penurunan yang sangat signifikan ke depannya.
Dikutip dari The Guardian, perusahaan gas milik negara Qatar mengatakan beberapa waktu lalu bahwa penutupan tersebut akan memangkas ekspor helium sebesar 14 persen.
Baca Juga: Pasokan Bakal Langka, Harga Minyak Dunia Terbang Lagi 3%
Sony menjadi salah satu raksasa teknologi yang paling cepat bereaksi terhadap perubahan harga komponen tersebut.
Konsol PlayStation 5 secara resmi mengalami penyesuaian harga jual karena biaya chip memori yang membengkak.
Mulai awal April ini, para konsumen di Amerika Serikat harus merogoh kocek lebih dalam untuk memilikinya.
Varian standar kini dibanderol dengan angka yang jauh lebih tinggi dibandingkan harga peluncuran sebelumnya.
Kenaikan ini merupakan konsekuensi logis dari mahalnya biaya pengadaan bahan baku yang terdampak krisis global.
Untuk versi digital, kenaikan harga juga diberlakukan guna menyeimbangkan neraca pengeluaran perusahaan yang terus meningkat.
Berita Terkait
Terpopuler
- Promo Long Weekend Alfamart, Diskon Camilan untuk Liburan sampai 60 Persen
- Jokowi Sembuh dan Siap Keliling Indonesia, Pengamat: Misi Utamanya Loloskan PSI ke Senayan!
- Siapa Ayu Aulia? Bongkar Ciri-ciri Bupati R yang Membuatnya Kehilangan Rahim
- 3 Sepatu Lari Skechers Terbaik untuk Pemula dan Pelari Harian
- 6 Warna Pakaian yang Dipercaya Bawa Keberuntungan untuk Shio di Tahun Kuda Api 2026
Pilihan
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
-
Menilik Sepatu Lari 'Anak Jaksel' di Lapangan Banteng: Brand Lokal Mulai Mendominasi?
-
SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut Lomba Ulang, Sampaikan Salam: Sampai Jumpa di LCC Tahun Depan!
-
Keluar Kau Setan! Ricuh di Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping
Terkini
-
Ketua DPRD Jember: Sekali Lagi Langgar Aturan, Achmad Syahri Otomatis Dipecat
-
Sobary Kritik Cara Prabowo Mengagumi Bung Karno: Kagum, tapi Tak Pahami Political Wisdom-nya
-
KPK Bongkar 3 Perusahaan yang Setor Miliaran ke Oknum Kemnaker demi Urus K3
-
Kapal Migran Indonesia Tenggelam di Malaysia: Korban Tewas Kini 11 Orang, 3 Masih Hilang
-
Gerindra Jatuhkan 'Kartu Kuning' Terakhir ke Achmad Syahri: Saya Taat dan Menyesal
-
Mata Berkaca-kaca, Legislator Gerindra Jember Akui Khilaf Main Game Sambil Merokok saat Rapat
-
Tindak Lanjut Usai Kirab Budaya, KDM Bakal Tata Fasilitas Seni dan Budaya di Jabar
-
Guru Besar UMY Warning Pemerintah: Jangan Nekat Pindah ke IKN Kalau Belum Siap!
-
Peringatan Terakhir! Gerindra Tak Segan Copot Achmad Syahri dari DPRD Jember Usai Viral Merokok
-
Menakar Wacana Dedi Mulyadi: Mungkinkah Jawa Barat Hidup Tanpa Pajak Kendaraan?