-
Trump menarik pasukan dari Iran karena tujuan mencegah nuklir dianggap sudah berhasil tercapai.
-
Konflik bersenjata ini menewaskan ribuan orang dan memicu krisis harga energi secara global.
-
Amerika mengklaim terjadi perubahan rezim di Iran setelah Pemimpin Tertinggi dilaporkan telah wafat.
Sebagai kilas balik, konfrontasi militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran ini telah berlangsung sejak akhir Februari.
Selama satu bulan penuh, serangan udara gencar dilakukan yang mengakibatkan dampak kerusakan infrastruktur dan jatuhnya korban jiwa.
Laporan dari otoritas pemerintah di Iran menyebutkan bahwa jumlah warga yang tewas telah melampaui angka 1.340 orang.
Di sisi lain, Iran tidak tinggal diam dan memberikan perlawanan balik menggunakan teknologi drone serta peluru kendali jarak jauh.
Serangan balasan tersebut menyasar langsung ke wilayah kedaulatan Israel serta pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat di negara Teluk.
Pihak Washington sendiri mengakui adanya kerugian personil yang cukup signifikan selama berlangsungnya operasi militer di padang pasir tersebut.
Berdasarkan data yang dirilis secara resmi, tercatat sebanyak 13 prajurit Amerika Serikat kehilangan nyawa dalam palagan perang ini.
Efek domino dari bentrokan ini juga merembet pada stabilitas ekonomi makro global, terutama pada sektor komoditas energi dunia.
Harga minyak mentah melonjak tajam karena ketakutan pasar akan terganggunya jalur pelayaran di sekitar Selat Hormuz yang vital.
Baca Juga: Efek Perang Iran: Tak Hanya BBM, Harga HP di Indonesia Terancam Naik!
Ketidakpastian ini akhirnya memaksa adanya tinjauan ulang terhadap strategi militer Amerika di kawasan yang penuh ketegangan tersebut.
Presiden Trump memiliki alasan kuat mengapa dirinya merasa sangat percaya diri untuk segera memulangkan seluruh pasukannya saat ini.
Ia beranggapan bahwa misi utama pemerintahannya untuk memandulkan ambisi nuklir Iran telah berhasil dieksekusi dengan sangat sempurna.
"Mereka tak akan memiliki senjata nuklir. Dan tujuan itu telah tercapai," katanya.
Menurut analisis kepresidenan, kekuatan tempur Iran saat ini sudah berada pada titik terendah akibat gempuran yang dilakukan secara bertubi-tubi.
Trump memprediksi bahwa Teheran akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk bisa memulihkan kembali kapabilitas pertahanan nasional mereka.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 HP Xiaomi dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5, Terkencang di 2026!
- 7 Sepatu Lari Tahan Air Selevel Nike Vomero 18 GTX, Kualitas Top
- Sunscreen SPF 50 Apa yang Bagus? Ini 5 Pilihan untuk Perlindungan Maksimal
- Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
- Foto Pangakalan Militer AS di Arab Saudi Hancur Beredar, Balas Dendam Usai Trump Hina MBS
Pilihan
-
Mulai Besok! BPH Migas Resmi Batasi Pembelian Pertalite dan Solar, Cek Aturan Mainnya
-
Masyarakat Diminta Tak Resah, Mensesneg Prasetyo Hadi Tegaskan Harga BBM Belum Ada Kenaikan
-
Clara Shinta Minta Tolong, Nyawanya Terancam karena Suami Bawa Senjata Api
-
Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
-
Petir Bikin Duel Kepulauan Solomon vs Saint Kitts and Nevis di Stadion GBK Ditunda
Terkini
-
BBM Batal Naik per 1 April 2026, Antrean SPBU Kembali Normal
-
China dan Pakistan Gabung Perang Timur Tengah! Beijing Masih Tahan Diri Kirim Bantuan ke Iran
-
Skandal Cukai Rokok, KPK Periksa Pengusaha Liem Eng Hwie Terkait Dugaan Suap di Bea Cukai
-
Jurus Pramono Cegah ASN Jakarta 'Keluyuran' Saat WFH Jumat, Ini yang Bakal Dilakukan
-
Serbuan Perantau Pasca Lebaran: Jakarta Masih Jadi Ladang Emas atau Jebakan Kemiskinan?
-
Terkuak, Pelaku Mutilasi Bekasi Jual Motor Vario dan Beat Milik Korban Lewat Facebook
-
Pramono Anung: Pelayanan Publik Jakarta Tak Ikut WFH Tiap Jumat
-
Versi PBB, Israel Biang Kerok Prajurit TNI Gugur di Lebanon
-
Perang Iran Vs AS-Israel Terus Memanas, BEM SI Desak Program MBG Dievaluasi Tapi Jangan Disetop
-
Ambisi Perang AS-Zionis Bikin Rakyat Israel Sengsara, Muncul Seruan Gulingkan Netanyahu