-
Trump menarik pasukan dari Iran karena tujuan mencegah nuklir dianggap sudah berhasil tercapai.
-
Konflik bersenjata ini menewaskan ribuan orang dan memicu krisis harga energi secara global.
-
Amerika mengklaim terjadi perubahan rezim di Iran setelah Pemimpin Tertinggi dilaporkan telah wafat.
Suara.com - Keputusan besar baru saja diambil oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait keberadaan militer mereka di wilayah Iran.
Pasukan bersenjata Negeri Paman Sam dijadwalkan bakal segera angkat kaki dari teritorial Iran dalam durasi waktu yang sangat singkat.
Estimasi waktu yang diberikan oleh orang nomor satu di Amerika Serikat tersebut berkisar antara dua hingga tiga minggu ke depan.
Langkah ini dipandang sebagai titik balik krusial yang mengakhiri rangkaian operasi militer panjang di kawasan Timur Tengah tersebut.
Pengumuman ini disampaikan secara langsung oleh sang presiden kepada awak media di sela-sela kegiatannya pada akhir Maret.
"Yang harus saya lakukan hanya meninggalkan Iran, dan kami akan segera melakukannya," kata Trump kepada wartawan pada Selasa (31/3).
Pernyataan tegas ini memberikan sinyal bahwa intervensi bersenjata Amerika Serikat di Iran telah memasuki babak penghujung.
Kejelasan mengenai durasi waktu kepulangan ini ditegaskan kembali untuk memberikan kepastian bagi opini publik internasional yang mengamati konflik.
"Kami akan segera pergi," katanya, seraya menambahkan hal itu akan terjadi dalam "mungkin dua minggu, mungkin tiga minggu."
Baca Juga: Efek Perang Iran: Tak Hanya BBM, Harga HP di Indonesia Terancam Naik!
Penarikan ini juga menyangkut tanggung jawab keamanan jalur perdagangan internasional yang selama ini menjadi titik panas ketegangan.
Trump menekankan bahwa negara-negara lain seperti Prancis kini memiliki tanggung jawab mandiri untuk melindungi kepentingan ekonomi mereka sendiri.
Kedaulatan keamanan di jalur perairan tersebut kini dikembalikan kepada negara-negara yang memang bergantung pada pasokan energi dari sana.
"Jika Prancis atau negara lain ingin mendapatkan minyak atau gas, mereka akan melalui Selat (Hormuz). Mereka akan mampu membela diri sendiri. Saya pikir itu akan sangat aman, tetapi kami tak ada hubungannya dengan itu," katanya.
Logika ini menunjukkan bahwa Amerika Serikat tidak lagi ingin terikat pada beban biaya keamanan di jalur navigasi Selat Hormuz.
Kawasan tersebut memang menjadi jantung utama bagi distribusi minyak mentah dunia yang sangat sensitif terhadap gejolak peperangan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Demi Ketenangan Almarhum, Orang Tua Affan Kurniawan Mohon Tak Ada Peringatan Setahun Kematian
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- 12 Ikan Hias Pembawa Keberuntungan Menurut Feng Shui, Cocok untuk Akuarium di Rumah
- Jelang FIFA ASEAN Cup 2026, Kevin Diks Tegas Sistem Empat Bek Lebih Cocok
- Mau Terlihat Lebih Muda? Ini 5 Pilihan Warna Lipstik yang Bisa Dicoba
Pilihan
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
-
Info Terbaru Gempa NTT: 15 Warga Manggarai Tewas, 280 Bangunan Jadi Puing
-
5 Bandara Rusak Diguncang Gempa NTT, Landasan Pacu Sampai Retak
-
Pesona Masjid Pancasila Kediri: Sederhana di Luar, Bikin Pangling di Dalam
Terkini
-
Serentak di 131 Cabang, BRI KKB Expo 2026 Buka Jalan Punya Mobil Impian
-
BRI KKB Expo 2026 Digelar di 131 Cabang, Saatnya Wujudkan Mobil Impian
-
Mau Punya Mobil Impian? BRI KKB Expo 2026 Hadir di 131 Cabang
-
CIMB Niaga Ungkap Potensi Ekonomi Daerah Sektor Sawit dan Migas di Riau
-
Rayakan HUT Ke-81 RI Lebih Hemat dengan Ragam Promo Spesial dari BRI
-
Daftar Harga HP TECNO Agustus 2026, Lengkap POVA hingga Camon
-
BRI Tebar Promo HUT Ke-81 RI, Ada Cashback hingga Diskon Rp810 Ribu
-
Penjualan Mobil Hybrid Suzuki Tembus 70 Persen, Ini Model Paling Diminati...
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Bukan Sekadar Nyanyi dan Tepuk Tangan: Sisi Lain Perjuangan Menjadi Guru TK