-
Donald Trump menargetkan serangan militer ke Iran berakhir dalam waktu dua hingga tiga minggu.
-
Amerika Serikat tetap menarik pasukan meski tidak ada kesepakatan damai formal dengan pihak Iran.
-
Trump menolak membantu sekutu mengamankan stok minyak karena kurangnya dukungan selama konflik berlangsung.
Visi misi militer ini dianggap sudah berada pada jalur yang tepat menuju penyelesaian akhir operasi tempur.
Baginya, status formal sebuah perjanjian damai sama sekali tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap keputusan penarikan unit militer.
Pernyataan ini muncul sebagai jawaban atas keresahan masyarakat internasional mengenai stabilitas harga energi yang terus bergejolak.
Perang yang melibatkan koalisi Amerika Serikat dan Israel melawan Iran telah memicu kepanikan di bursa komoditas.
Konflik yang pecah sejak akhir Februari tersebut membuat biaya pengadaan energi melonjak sangat drastis bagi banyak negara.
Nilai jual minyak mentah di pasar internasional kerap kali menembus angka seratus dolar untuk setiap barelnya.
Trump optimis bahwa mundurnya militer Amerika Serikat dari wilayah konflik akan menjadi solusi bagi krisis energi.
Namun, sebelum meninggalkan lokasi, Trump bersikeras bahwa posisi Washington harus benar-benar aman dari segala bentuk pembalasan.
Presiden juga menyinggung ketidakpuasan terhadap sikap negara-negara Barat dalam menjaga stabilitas keamanan di Selat Hormuz.
Baca Juga: Harga BBM Amerika Meroket, Rakyat Mulai Ngamuk ke Donald Trump: karena Perang Bodoh!
Ia melontarkan kritik pedas bagi para sekutu yang dianggap enggan berkontribusi dalam mengawal kapal tanker internasional.
Amerika Serikat menyatakan tidak akan lagi memberikan perlindungan gratis bagi kelancaran arus logistik minyak negara lain.
Sentimen serupa juga terlihat dalam tulisan pribadinya di platform media sosial miliknya pada pagi hari yang sama.
Trump menekankan prinsip timbal balik dalam menjalin hubungan kerjasama internasional dengan negara-negara sahabat Amerika Serikat.
Ia merasa kecewa karena banyak negara tidak hadir saat Amerika Serikat sedang memerlukan dukungan dalam operasi militer.
Oleh karena itu, Amerika Serikat tidak merasa memiliki kewajiban untuk membantu mengatasi kelangkaan bahan bakar di Eropa.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Warna Pakaian yang Dipercaya Bawa Keberuntungan untuk Shio di Tahun Kuda Api 2026
- Jokowi Sembuh dan Siap Keliling Indonesia, Pengamat: Misi Utamanya Loloskan PSI ke Senayan!
- 5 HP Xiaomi RAM Besar Termurah, Baterai Awet untuk Multitasking Harian
- 5 Lipstik Wardah Tahan Lama dan Tidak Luntur Saat Makan, Cocok untuk Daily hingga Kondangan
- 5 HP Xiaomi Paling Murah 2026, Mulai Rp1 Juta Spesifikasi Mantap untuk Harian
Pilihan
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
-
Menilik Sepatu Lari 'Anak Jaksel' di Lapangan Banteng: Brand Lokal Mulai Mendominasi?
-
SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut Lomba Ulang, Sampaikan Salam: Sampai Jumpa di LCC Tahun Depan!
Terkini
-
Viral Pedofil WN Jepang di Indonesia: Lecehkan WNI, Sebarkan Penyakit Menular Seksual
-
Warga Jakarta Catat! CFD Rasuna Said Rehat Sejenak, Bakal Comeback Lebih Kece di Juni 2026
-
Tito Karnavian Dampingi Prabowo Luncurkan Operasional 1.061 KDKMP di Jawa Timur
-
Kepala BPKP Gemetar Lapor Korupsi di Lingkaran Presiden, Prabowo: Mau Orang Saya, Tidak Ada Urusan!
-
Ketua RW Sebut Bukan Warga Lokal, Siapa Belasan Orang yang Keroyok Dico hingga Tewas di Grogol?
-
Pernyataan Prabowo Bikin Riuh, Sebut 'Mbak Titiek' Pusing Gara-gara Dolar
-
Prabowo: Selama Purbaya Bisa Senyum, Tak Perlu Khawatir Soal Dolar
-
AS Takut Disadap? Rombongan Trump Buang Semua Barang China Sebelum Naik Air Force One
-
Usai Temui JK, Anies Baswedan Beri Komentar Santai Terkait Putusan MK Soal IKN
-
Ray Rangkuti: DPN Dinilai Perkuat Dominasi Militer di Ruang Sipil