-
Harga bensin di Amerika Serikat naik 35 persen akibat dampak konflik bersenjata melawan Iran.
-
Warga Amerika mengeluhkan biaya hidup yang melonjak tajam hingga harus menggunakan uang tabungan pribadi.
-
Krisis energi global menyebabkan harga minyak dunia melampaui angka US$100 per barel saat ini.
Suara.com - Kondisi ekonomi di Amerika Serikat sedang berada dalam fase yang sangat menegangkan bagi warga sipil karena perang Timur Tengah.
Kenaikan harga BBM secara mendadak memicu gelombang kekecewaan di berbagai lapisan masyarakat setempat.
Berdasarkan laporan terkini, tarif bensin di banyak wilayah terpantau merangkak naik hingga menyentuh angka 35 persen.
Lonjakan ini terjadi tepat setelah eskalasi militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan pihak Iran.
Pada penghujung Maret, harga bahan bakar bahkan telah melewati ambang batas psikologis sebesar US$4 per galon.
Jeanne Williams yang kini berusia 83 tahun merasa sangat terpukul saat melihat angka di papan pom bensin.
"Itu mengerikan. Saya tidak marah, saya hanya bingung, kacau, dan tidak senang," katanya dikutip dari France24.
Keresahan Jeanne mencerminkan kondisi batin banyak lansia yang harus berhadapan dengan biaya operasional kendaraan yang mahal.
Pensiunan pegawai negeri tersebut menekankan bahwa masyarakat sipil tidak pernah mengharapkan adanya konflik bersenjata ini.
Baca Juga: Panas! Iran Tolak Gencatan Senjata Perang
Di kawasan Falls Church, para pengemudi harus merogoh kocek minimal 3,7 dolar AS per galon jika membayar tunai.
Biaya tersebut akan menjadi jauh lebih mahal apabila konsumen memilih melakukan transaksi melalui kartu debit atau kredit.
Beberapa titik pengisian bahan bakar yang lebih jauh bahkan sudah mematok harga hingga US$4,25 per galonnya.
Situasi ini memaksa warga seperti Jeanne yang sedang berjuang melawan kanker untuk mulai menyentuh simpanan tabungannya.
Dana pensiun yang sebelumnya dianggap mencukupi kini mulai habis tergerus oleh biaya kebutuhan pokok yang terus mendaki.
Meski inflasi sempat melandai dari titik 9,1 persen, namun harga komoditas tetap bertahan di level yang tinggi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Warna Pakaian yang Dipercaya Bawa Keberuntungan untuk Shio di Tahun Kuda Api 2026
- Jokowi Sembuh dan Siap Keliling Indonesia, Pengamat: Misi Utamanya Loloskan PSI ke Senayan!
- 5 HP Xiaomi RAM Besar Termurah, Baterai Awet untuk Multitasking Harian
- 5 Lipstik Wardah Tahan Lama dan Tidak Luntur Saat Makan, Cocok untuk Daily hingga Kondangan
- 5 HP Xiaomi Paling Murah 2026, Mulai Rp1 Juta Spesifikasi Mantap untuk Harian
Pilihan
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
-
Menilik Sepatu Lari 'Anak Jaksel' di Lapangan Banteng: Brand Lokal Mulai Mendominasi?
-
SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut Lomba Ulang, Sampaikan Salam: Sampai Jumpa di LCC Tahun Depan!
Terkini
-
Warga Jakarta Catat! CFD Rasuna Said Rehat Sejenak, Bakal Comeback Lebih Kece di Juni 2026
-
Tito Karnavian Dampingi Prabowo Luncurkan Operasional 1.061 KDKMP di Jawa Timur
-
Kepala BPKP Gemetar Lapor Korupsi di Lingkaran Presiden, Prabowo: Mau Orang Saya, Tidak Ada Urusan!
-
Ketua RW Sebut Bukan Warga Lokal, Siapa Belasan Orang yang Keroyok Dico hingga Tewas di Grogol?
-
Pernyataan Prabowo Bikin Riuh, Sebut 'Mbak Titiek' Pusing Gara-gara Dolar
-
Prabowo: Selama Purbaya Bisa Senyum, Tak Perlu Khawatir Soal Dolar
-
AS Takut Disadap? Rombongan Trump Buang Semua Barang China Sebelum Naik Air Force One
-
Usai Temui JK, Anies Baswedan Beri Komentar Santai Terkait Putusan MK Soal IKN
-
Ray Rangkuti: DPN Dinilai Perkuat Dominasi Militer di Ruang Sipil
-
Prabowo Akui Program MBG Banyak Masalah, Sebut Ada Pimpinan Tidak Kuat jika Berurusan dengan Uang