-
Prancis, Italia, dan Spanyol resmi menolak membantu operasi militer Amerika Serikat melawan Iran.
-
Pangkalan militer Sigonella ditutup bagi pesawat Amerika karena dianggap melanggar perjanjian logistik formal.
-
Spanyol mengecam rencana serangan militer Amerika Serikat dan Israel sebagai tindakan sangat ilegal.
Suara.com - Perang militer di Timur Tengah kini memicu keretakan serius di dalam internal aliansi negara-negara Barat.
Tiga negara utama yang merupakan mitra dekat Amerika Serikat mulai menunjukkan sikap pembangkangan secara terbuka dan tegas.
Langkah ini diambil untuk mencegah keterlibatan mereka dalam pusaran konflik bersenjata melawan Republik Islam Iran.
Prancis menjadi negara pertama yang secara resmi menutup akses bagi pengiriman logistik tempur menuju wilayah konflik.
Pemerintah di Paris melarang penggunaan ruang udaranya bagi Israel yang membawa persenjataan bantuan dari Amerika Serikat.
Langkah ini dianggap sebagai sinyal penolakan paling berani di tengah tekanan kuat dari Presiden Donald Trump.
Seorang diplomat Barat mengungkapkan bahwa Trump terus mendesak sekutu Eropa dan NATO untuk terlibat lebih jauh.
Prancis tidak ingin wilayahnya menjadi bagian dari rantai logistik serangan balasan yang ditujukan kepada pihak Iran.
Data menunjukkan bahwa ini adalah kali pertama Prancis mengambil tindakan ekstrem sejak pecahnya konflik Februari lalu.
Baca Juga: 'Hilal' Perang Iran Berakhir Sudah Terlihat
Meski demikian, hingga saat ini otoritas resmi di Paris masih memilih bungkam seribu bahasa terkait kebijakan tersebut.
Sikap serupa ternyata juga diikuti oleh pemerintah Italia yang menunjukkan otoritas penuh atas wilayah kedaulatan mereka.
Otoritas Italia baru saja melarang pesawat tempur Amerika Serikat mendarat di pangkalan militer strategis di Sisilia.
Menteri Pertahanan Italia, Guido Crosetto, secara langsung menolak permohonan penggunaan fasilitas pangkalan udara Sigonella tersebut.
Penolakan mendadak ini terjadi saat armada udara Amerika Serikat sebenarnya sudah dalam posisi terbang menuju Italia.
Lembaga penyiaran RAI melaporkan bahwa proses koordinasi militer dari pihak Amerika Serikat dianggap sangat tidak profesional.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Lari Skechers yang Diskon sampai 50 Persen di Sport Station, Mulai Rp500 Ribuan
- 10 Promo Sepatu Lari di Sports Station: Adidas, Reebok, dan New Balance Mulai Rp299 Ribuan
- 6 Sunscreen di Alfamart untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
Pilihan
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
-
Prabowo: Hukum Tak Boleh Dipakai untuk Balas Dendam Politik
-
Kompak Turun: Ini Harga BBM di Pertamina hingga Shell
-
Hakim Andi Sebut Nadiem Makarim Seharusnya Dibebaskan
Terkini
-
Keluarga Keisya Levronka Gugat Untar Rp1 M, Soroti Tak Ada Ambulans usai Lexi Jatuh dari Lantai 6
-
Komdigi dan Universitas Brawijaya Bangun Sistem AI Pendukung Sekolah Rakyat
-
Geger Kelompok Society of Saint Pius X Angkat 4 Uskup Tanpa Persetujuan Paus Leo, Siapa Mereka?
-
Prabowo Puji Peran Polri Dukung Ketahanan Pangan dan Program MBG
-
Usulan Pilkada Lewat DPRD Kandas? Golkar Respons Putusan MK
-
Pesawat Tabrak Menara di Beijing, Pemerintah China Sibuk Sensor Peristiwa Itu
-
Gerindra Santai Hadapi Safari Politik Jokowi, Pilih Fokus Kawal Program Prabowo
-
Momen Keajaiban Bayi 3 Tahun Selamat Usai 6 Hari Tertimbun Puing Gempa Bumi Venezuela
-
Momen Saling Hormat Prabowo-Jokowi Jadi Sorotan, Gerindra Beri Penjelasan Ini!
-
KPK Gagal Periksa Bos Maktour, Fuad Hasan Masyhur Pilih ke Luar Negeri Saat Kasus Haji Diusut