-
IRGC menurunkan batas usia militer menjadi 12 tahun untuk melawan Amerika dan Israel.
-
Human Rights Watch mengecam kebijakan Iran tersebut sebagai bentuk kejahatan perang internasional.
-
Pejabat Iran mengeklaim perekrutan remaja dilakukan atas dasar desakan dan keinginan anak muda.
Suara.com - Langkah mengejutkan diambil oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC dalam memperkuat lini pertahanannya.
Pemerintah Iran secara resmi telah menurunkan batas usia minimum bagi warga yang ingin bergabung sebagai militer.
Laporan terbaru dari Human Rights Watch mengungkapkan bahwa kini anak berusia 12 tahun sudah bisa mendaftar.
Divisi yang menjadi tujuan para remaja belia ini dinamakan sebagai Prajurit Pembela Tanah Air Iran.
Kebijakan ini muncul di tengah eskalasi konflik yang semakin memanas antara Iran dengan blok Amerika-Israel.
Teheran sepertinya sedang berusaha keras memobilisasi ribuan personel tambahan untuk memperkuat kedaulatan wilayah mereka saat ini.
Strategi ini diambil setelah banyak tokoh penting di pemerintahan Iran tewas akibat serangan pihak lawan.
Kondisi perang yang mendesak membuat otoritas setempat mulai melirik potensi tenaga kerja dari kalangan anak-anak.
Para remaja yang bergabung nantinya akan diberikan berbagai tanggung jawab penting di lapangan maupun logistik.
Baca Juga: Selamat Tinggal Donald Trump, Amerika Serikat Mulai Dijauhi Teman Dekat yang Tolak Perang
Human Rights Watch menemukan bukti fisik berupa poster promosi yang sudah tersebar luas di media lokal.
Visualisasi dalam poster tersebut menampilkan anak laki-laki dan perempuan bersanding dengan orang dewasa berseragam lengkap.
Tugas yang menanti para prajurit kecil ini meliputi penjagaan ketat di berbagai titik pos pemeriksaan.
Mereka juga akan dilibatkan dalam kegiatan patroli operasional yang menyisir wilayah-wilayah strategis di seluruh negeri.
Selain itu, para remaja ini ditugaskan untuk melakukan pengawasan intelijen guna memantau pergerakan musuh secara diam-diam.
Terdapat pula penempatan pada konvoi kendaraan militer yang membawa perlengkapan perang menuju garis depan pertahanan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Menteri PU Panggil Pulang ASN Tugas Belajar di London Diduga Hina Program MBG
- Honor X7d Resmi Meluncur di Indonesia, HP Tangguh 512GB, Baterai Awet 6500mAh, Harga Rp4 Jutaan
- 7 Parfum Tahan Lama di Indomaret, Wangi Mewah tapi Harga Ramah
- 5 Lipstik Wardah Tahan Lama dan Tidak Luntur Saat Makan, Cocok untuk Daily hingga Kondangan
- 5 HP Xiaomi Paling Murah 2026, Mulai Rp1 Juta Spesifikasi Mantap untuk Harian
Pilihan
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
Terkini
-
Pramono Sebut Kelenteng Tian Fu Gong Bisa Jadi Ikon Wisata Religi Jakarta
-
Bidik Kursi Ketum BM PAN, Riyan Hidayat Tegaskan Tegak Lurus ke Zulhas dan Dukung Program Prabowo
-
Tensi Perang Dagang AS-Tiongkok Mereda, Stabilitas Dolar dan Pasar Saham Mulai Kalem
-
Skandal LCC 4 Pilar MPR RI 2026: Anatomi Ketidakadilan di Atas Panggung Konstitusi
-
Gubernur John Tabo Polisikan Penyebar Voice Note Tuduhan Provokasi Konflik di Wamena
-
Pernyataan Orang Desa Tak Pakai Dolar Menyesatkan, FKBI Ingatkan Prabowo RI Ketergantungan Impor
-
Wamenaker Antisipasi Gelombang PHK Dampak Konflik Timur Tengah
-
BMKG Peringatkan Hujan Lebat dan Angin Kencang Ancam Sejumlah Wilayah Aceh
-
Cegah Perang Suku Pecah Lagi, 300 Pasukan Brimob Dikirim ke Wamena
-
Prabowo: Keamanan dan Ketertiban Negara Sangat Ditentukan oleh Pangan