-
PM Albanese mewajibkan warga Australia beralih ke transportasi umum demi menghemat energi.
-
Australia memesan cadangan bensin darurat dari Amerika Serikat akibat blokade Selat Hormuz.
-
Konflik Iran menyebabkan kenaikan harga bensin dan solar terbesar dalam sejarah Australia.
Suara.com - Kondisi geopolitik perang di Timur Tengah yang kian memanas kini mulai memberikan dampak nyata bagi penduduk Australia.
Pemerintah Australia secara resmi mengimbau masyarakatnya untuk mulai memprioritaskan penggunaan sarana transportasi publik.
Langkah ini diambil setelah jalur pasokan energi menuju kawasan Asia mengalami gangguan serius akibat peperangan tersebut.
Perdana Menteri Anthony Albanese memberikan peringatan terbuka mengenai situasi sulit yang akan dihadapi beberapa waktu ke depan.
Beliau menyampaikan pesan khusus agar masyarakat tidak melakukan pembelian bahan bakar secara berlebihan atau menimbun stok.
Upaya Penghematan Cadangan Energi Nasional
Albanese menyarankan warga untuk mulai meninggalkan kendaraan pribadi saat melakukan aktivitas pekerjaan sehari-hari di kantor.
Penggunaan moda transportasi seperti kereta api, bus, hingga trem dianggap menjadi solusi paling efektif saat ini.
"Jika Anda dapat beralih menggunakan kereta api, bus, atau trem untuk bekerja, lakukanlah. Itu akan membangun cadangan kita dan menghemat bahan bakar bagi masyarakat," kata Albanese.
Baca Juga: 4 Negara yang Lawan Timnas Indonesia di Kualifikasi Lolos ke Piala Dunia 2026
Langkah penghematan ini krusial karena Australia kini telah menyentuh stok cadangan energi strategis milik negara.
Untuk mengantisipasi kelangkaan, Pemerintah Canberra juga telah menjalin kesepakatan darurat dengan pihak Amerika Serikat.
Kerja Sama Impor Bahan Bakar Darurat
Australia memutuskan untuk memesan bahan bakar dalam jumlah besar dari AS untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun.
Padahal selama ini Australia hanya menggantungkan sekitar 2 persen kebutuhan energinya dari wilayah Timur Tengah.
Nilai transaksi produk energi tersebut tercatat mencapai angka 37 miliar dolar pada periode tahun 2024 lalu.
Berita Terkait
Terpopuler
- Link Download Logo dan Tema HUT Bhayangkara ke-80 2026 untuk Ulang Tahun Polri
- 5 Sepeda Gunung MTB Polygon Termurah, Tangguh dan Awet Untuk Harian
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 HP Samsung 5G Termurah 2026, Fitur Lengkap dan Performa Stabil untuk Jangka Panjang
- Golkar Sulsel Memanas, Ini Alasan Pendukung Appi Alihkan Dukungan ke IAS
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Gelombang Panas Ekstrem Serang New York, Samai Rekor Suhu Terpanas 60 Tahun Silam
-
Kelakuan Keluarga George Soros Borong Tanah di New York Picu Amarah Warga: Mereka Rakus!
-
Gelombang Panas di Eropa Tewaskan 1300 Orang, Pejabat Prancis Salahkan Warga AS dan Pengguna AC
-
Terjebak di Bawah Bangunan Runtuh Gempa Venezuela, Pria Ini 8 Hari Melawan Maut
-
Bom Meledak di Jantung Damaskus, Korban Bergelimpangan di Lokasi
-
Pilot Tabrak Gedung Tertinggi Beijing Diduga Bunuh Diri, Tinggalkan Catatan Harian Mengejutkan
-
Kualitas Udara di TPA Jatiwaringin Capai Level Berbahaya, 64 Warga Dievakuasi
-
KPK Perluas Kasus Pemerasan Izin Tinggal WNA Silmy Karim, Kini Bidik Imigrasi Depok
-
Satu Polisi Gugur dan 2 Hilang saat Gerebek Bandar Narkoba di Kalteng
-
Flyover Latumenten Capai 55,2 Persen, Ditargetkan Pangkas Kemacetan hingga 40 Persen