News / Internasional
Jum'at, 03 April 2026 | 08:10 WIB
Rudal Iran
Baca 10 detik

 

  • IRGC menguasai penuh Selat Hormuz dan menolak membukanya karena tekanan politik Donald Trump.

  • Serangan rudal dan drone Iran menyebabkan kenaikan harga minyak dunia secara signifikan.

  • Pangkalan militer serta kapal induk Amerika Serikat dilaporkan mundur akibat gempuran Iran.

Suara.com - Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC memberikan pernyataan tegas mengenai kondisi terkini di wilayah perairan Selat Hormuz.

Pihak Teheran mengklaim bahwa jalur perdagangan laut paling vital di dunia tersebut saat ini berada di bawah kendali penuh mereka.

Pernyataan ini sekaligus menjadi jawaban telak untuk membantah klaim sepihak yang sempat dilontarkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Melalui laporan resmi pada hari Rabu, IRGC memastikan kekuatan angkatan laut mereka masih mendominasi kawasan tersebut tanpa tandingan.

Kedaulatan maritim di wilayah itu disebut tidak akan goyah meskipun mendapatkan tekanan politik dari pihak Gedung Putih.

IRGC menegaskan Selat Hormuz tak akan dibuka kembali "di bawah sandiwara" Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap bangsa Iran.

Kebijakan penutupan jalur air ini telah diberlakukan secara efektif sejak pecahnya peperangan pada tanggal 28 Februari lalu.

Dampaknya sangat masif bagi stabilitas ekonomi dunia karena ribuan kapal logistik komersial terjebak dan tidak bisa melanjutkan perjalanan.

Banyak perusahaan pelayaran memilih berhenti beroperasi karena ketakutan akan potensi serangan rudal yang bisa datang sewaktu-waktu.

Baca Juga: Negara Timur Tengah Siaga Satu Hadapi Hujan Drone Iran, Sasar Bandara Kuwait Hingga Perbankan Arab

Keberanian militer Iran dalam mengunci jalur ini telah membuat distribusi barang di pasar internasional mengalami hambatan yang sangat serius.

Iran tercatat telah melakukan puluhan aksi penyerangan terhadap kapal dagang yang dianggap memiliki kaitan erat dengan aliansi AS dan Israel.

Tindakan tegas ini diambil sebagai bentuk sanksi bagi pihak-pihak yang tidak patuh terhadap aturan maritim yang ditetapkan Teheran.

Akibat dari blokade berkepanjangan ini, nilai jual minyak mentah di pasar global melonjak hingga menyentuh angka tertinggi sejak dua tahun lalu.

IRGC menuding bahwa pihak Washington dan Tel Aviv selama ini hanya menyebarkan kebohongan kepada masyarakat internasional.

Klaim Amerika yang menyatakan kekuatan serangan Iran mulai melemah disebut sebagai propaganda kosong yang tidak sesuai dengan fakta lapangan.

Angkatan bersenjata Iran masih berdiri tegap melawan agresi dan sudah meluncurkan gelombang ke-89 Operasi True Promise 4.

Dalam operasi besar ini, militer Iran mengerahkan berbagai teknologi mutakhir untuk melumpuhkan titik-titik pertahanan musuh secara presisi.

"(IRGC) menggunakan kombinasi rudal balistik dan jelajah Qadeer serta drone serang untuk menghancurkan target militer utama milik pasukan AS dan Israel," tulis laporan Tasnim.

Salah satu prestasi militer yang diklaim adalah penghancuran dua sistem peringatan dini milik AS yang berada di wilayah Uni Emirat Arab.

Sistem canggih tersebut hancur total setelah dihantam proyektil Iran yang memiliki tingkat akurasi sangat tinggi dalam mengenai sasaran.

Pihak IRGC juga secara terbuka mengaku bertanggung jawab atas insiden yang menimpa kapal tanker Aqua 1 milik QatarEnergy.

Kapal tersebut menjadi sasaran karena diidentifikasi sebagai aset yang terafiliasi dengan rezim yang dianggap tidak sah oleh pihak Teheran.

Selain di laut, serangan juga menyasar markas intelijen tersembunyi milik militer Amerika Serikat yang berada di luar jangkauan Armada Kelima.

Lokasi strategis di Bahrain itu luluh lantak setelah dihujani oleh kawanan drone tempur dan rudal balistik jarak jauh.

Efek ledakan di pangkalan tersebut dikabarkan membuat sejumlah petinggi militer laut AS harus segera dilarikan ke fasilitas kesehatan.

Berdasarkan data intelijen, pusat perbaikan helikopter jenis Chinook di pangkalan Al Udeiri juga tidak luput dari amukan senjata Iran.

Gudang penyimpanan persenjataan milik pasukan koalisi di lokasi yang sama dilaporkan mengalami kerusakan yang sangat parah.

Bahkan, gugus tempur kapal induk USS Abraham Lincoln terpaksa melakukan manuver mundur di kawasan Samudra Hindia bagian utara.

Citra dari satelit memperlihatkan armada raksasa Amerika tersebut menjauh dari posisi awalnya untuk menghindari jangkauan drone Iran.

Serangan udara ke pangkalan di Uni Emirat Arab pun dilaporkan telah merenggut nyawa puluhan personel militer dari pihak lawan.

Konflik bersenjata antara aliansi AS-Israel melawan Iran ini kini telah memasuki masa krusial pada minggu kelima pelaksanaannya.

Tragedi ini telah memakan korban jiwa dalam jumlah yang sangat besar, termasuk figur sentral yakni Ayatollah Ali Khamenei.

Awalnya, militer Iran hanya memfokuskan serangan pada instalasi perang milik Amerika Serikat dan Israel di Timur Tengah.

Namun strategi berubah drastis setelah fasilitas energi milik Iran menjadi target penghancuran oleh pihak pasukan koalisi pimpinan Washington.

Kini Teheran membalas dengan menyerang balik pusat energi Israel dan negara-negara yang memberikan dukungan logistik bagi serangan ke wilayah Iran.

Load More