News / Internasional
Senin, 06 April 2026 | 12:31 WIB
Kedutaan Besar Iran di berbagai negara menjadi media sosial sebagai "perang urat saraf" terhadap ancaman-ancaman yang dilontarkan Presiden AS Donald Trump. [Suara.com]
Baca 10 detik
  • Presiden AS Donald Trump mengancam akan menghancurkan infrastruktur Iran pada Selasa (7/4) jika Selat Hormuz tetap ditutup.
  • Korps diplomatik Iran merespons ancaman verbal kasar Trump melalui unggahan sindiran, meme, dan kritik tajam di media sosial.
  • Pejabat tinggi Iran memperingatkan bahwa agresi militer AS tersebut berisiko memicu konflik besar dan melanggar hukum internasional.

Sebelumnya, Kedubes Iran di Arab Saudi juga membuat meme yang mengejek Trump terkait pergantian rezim, dan viral seantero dunia.

Lalu, Kedubes Iran di Zimbabwe juga tak ketinggalan. Mereka mengunggah satu kalimat pendek, "Trump, tolong bicara, kami bosan."

Peringatan Serius: AS Akan Menuju Neraka yang Nyata

Di balik ejekan dan meme tersebut, para pejabat tinggi Iran tetap memberikan peringatan keras mengenai dampak nyata dari kebijakan agresif Trump.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, memperingatkan bahwa langkah sembrono Washington dapat membakar seluruh kawasan Timur Tengah.

“Langkah sembrono Anda menyeret Amerika Serikat ke dalam NERAKA yang nyata bagi setiap keluarga, dan seluruh wilayah kita akan terbakar karena Anda bersikeras mengikuti perintah Netanyahu... Jangan salah: Anda tidak akan mendapatkan apa pun melalui kejahatan perang.” tegas Ghalibaf melalui akun X miliknya.

Bahkan akun resmi mendiang Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei—yang dilaporkan gugur dalam serangan udara gabungan AS-Israel di hari pertama perang—masih mengunggah pesan yang berbunyi, “Tamparan demi tamparan…” sebagai bentuk perlawanan simbolis yang terus berlanjut.

Serangan Balik Statistik: Siapa yang Sebenarnya 'Bastard'?

Salah satu bagian yang paling viral dalam perang urat syaraf ini adalah cara akun True Promise milik Garda Revolusi Iran (IRGC) menanggapi hinaan Trump yang menyebut orang Iran sebagai "bastards" (anak haram/orang bejat).

Baca Juga: Harga Produk di Jakarta Berangsur Naik Imbas Perang Iran, Pramono Anung: Inflasi Masih Terjaga

Alih-alih membalas dengan umpatan serupa, mereka justru menyajikan data statistik kelahiran di Amerika Serikat sebagai bentuk sindiran balik.

“Kira-kira 40% anak-anak di AS lahir dari ibu yang tidak menikah, dengan angka mencapai puncaknya sekitar 40,7% pada tahun 2012... Keberanian yang luar biasa untuk memanggil orang lain ‘Bastards’,” tulis akun tersebut sambil menyertakan emoji tertawa.

Di sisi lain, Misi Tetap Iran untuk PBB mendesak dunia internasional agar tidak menutup mata terhadap ancaman serangan infrastruktur sipil yang jelas-jelas melanggar hukum perang.

“Jika hati nurani Perserikatan Bangsa-Bangsa masih hidup, ia tidak akan tinggal diam menghadapi ancaman terang-terangan dan tidak tahu malu dari Presiden Amerika Serikat yang haus perang untuk menargetkan infrastruktur sipil. Trump berupaya menyeret kawasan ini ke dalam perang tanpa akhir.” tulis pernyataan resmi mereka.

Load More