- Kemenkes mendesak penertiban promosi film kontroversial karena narasi yang meromantisasi bunuh diri berisiko memicu peniruan oleh individu rentan.
- Data menunjukkan peningkatan kasus kematian bunuh diri di Indonesia, yakni 1.350 kejadian pada 2023 menjadi 1.450 pada 2024.
- Pihak terkait diminta berkonsultasi dengan ahli kesehatan jiwa serta mencantumkan layanan dukungan pencegahan pada setiap konten film sensitif.
Suara.com - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menekankan pentingnya penertiban materi promosi film yang dinilai kontroversial, seperti Aku Harus Mati, karena berpotensi memicu peniruan bunuh diri, terutama pada individu yang rentan.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, menjelaskan bahwa media dan materi promosi memiliki pengaruh besar dalam membentuk cara masyarakat memahami suatu isu. Judul, visual, maupun narasi yang menyederhanakan bunuh diri sebagai solusi atas penderitaan dinilai berisiko menurunkan ambang resistensi, khususnya bagi mereka yang sedang berada dalam kondisi psikologis rapuh.
“Paparan berulang terhadap pesan yang meromantisasi atau menormalisasi tindakan tersebut dapat menjadi pemicu, terutama bagi individu dengan riwayat depresi, impulsivitas, atau pengalaman traumatis,” ujar Imran, Senin (6/4), dikutip dari ANTARA.
Ia menegaskan, perdebatan publik yang muncul bukan sekadar soal estetika atau kebebasan berekspresi. Ketika tema bunuh diri diangkat tanpa kehati-hatian, dampaknya bisa menyentuh aspek keselamatan publik. Karena itu, penyajian materi iklan harus mengikuti prinsip etika, termasuk dalam etika pariwara.
Menurutnya, konteks menjadi kunci utama: apakah pesan yang disampaikan mampu menempatkan bunuh diri dalam kerangka kompleksitas kesehatan jiwa dan pencegahan, atau justru menonjolkan unsur dramatis yang berpotensi memuliakan tindakan tersebut.
“Kata-kata yang tampak sederhana, seperti menggambarkan bunuh diri sebagai ‘pilihan’ atau ‘pembebasan’, bisa ditafsirkan sebagai legitimasi oleh orang yang sedang putus asa,” jelasnya.
Sebaliknya, pendekatan yang menekankan adanya bantuan, mengulas faktor penyebab secara komprehensif, serta mengarahkan audiens pada layanan dukungan dapat membantu menekan risiko peniruan sekaligus menggeser narasi dari sensasi menjadi pencegahan.
Kemenkes juga menyoroti peningkatan kasus bunuh diri dan kebutuhan layanan kesehatan jiwa di masyarakat. Berdasarkan data Kepolisian, terdapat 1.350 kasus kematian akibat bunuh diri pada 2023, yang meningkat menjadi 1.450 kasus pada 2024.
Di sisi lain, layanan krisis kesehatan jiwa juga menunjukkan lonjakan signifikan. Jumlah panggilan dan pesan ke layanan Sejiwa 119 meningkat dari sekitar 400 panggilan per hari pada Agustus 2025 menjadi 550 panggilan per hari pada 2026.
Baca Juga: Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026
Imran menilai, angka tersebut mencerminkan dua hal sekaligus: meningkatnya jumlah individu yang mengalami krisis kesehatan jiwa, serta bertambahnya kesadaran untuk mencari bantuan. Namun, kenaikan angka kematian menunjukkan bahwa upaya pencegahan masih perlu diperkuat.
Penelitian terkait suicide exposure bahkan menunjukkan bahwa satu kasus bunuh diri dapat berdampak pada sekitar 135 orang, baik dalam bentuk duka mendalam, stres, maupun peningkatan risiko gangguan kesehatan jiwa.
Untuk itu, Kemenkes mendorong adanya tanggung jawab kolektif dari berbagai pihak, mulai dari pembuat film, tim pemasaran, pengelola ruang publik, hingga media.
Langkah yang disarankan antara lain konsultasi dengan ahli kesehatan jiwa dalam perancangan kampanye, revisi atau penarikan materi promosi yang berisiko, serta penyertaan pesan dukungan dan rujukan layanan bantuan dalam setiap konten yang mengangkat tema sensitif.
Di tingkat masyarakat, Imran mengingatkan bahwa bunuh diri jarang disebabkan oleh satu faktor tunggal. Umumnya, kondisi tersebut merupakan hasil dari kombinasi gangguan suasana hati, tekanan sosial, krisis situasional, serta faktor biologis atau riwayat individu.
“Ketika media menghadirkan konteks yang tepat, menyoroti pencegahan, dan mengarahkan pada bantuan, mereka turut membuka jalan bagi intervensi yang bisa menyelamatkan nyawa,” pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan, Bakal Dipanggil Polisi Minggu Depan
- 20 Kode Redeem FF Aktif 20 Agustus 2026: Klaim Item Langka dan Bundle Spesial
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
- 4 Shio Beruntung Hari ini 21 Agustus 2026 yang Diprediksi Terbebas dari Masalah Keuangan
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Harga Tiket Masuk Goa Safarwadi Tasikmalaya yang Mitosnya Bisa Tembus Mekkah
-
Kelemahan Mesin Rotary yang Dihilangkan Mazda di Generasi Terbaru
-
Film Animasi Indonesia Ajisaka Menuju Pasar Global, Sony Pictures hingga Netflix Mulai Melirik
-
Bukan Sekadar Isu Elite, Botok Pati Sebut Korupsi Sebagai Perusak Masa Depan Bangsa
-
Igor Tolic Punya 8 Hari untuk Selamatkan Persib dari Badai Cedera Jelang ACL II
-
Drama 4 Babak Wamen Dahnil vs Anak Mario Teguh Soal Plat Vespa, Berujung Laporan Polisi
-
Sejarah Goa Safarwadi Tasikmalaya yang Mitosnya Tembus ke Mekkah Dalam 1,5 Jam
-
Persoalan Karhutla di Kalimantan, Pakar Kehutanan: Jangan Bikin Panik Masyarakat
-
Indonesia Dapat Kategori E untuk Kesejahteraan Hewan, Kok Bisa?
-
Ulasan Drakor Snowdrop: Debut Akting Jisoo Blackpink yang Tercoreng Kontroversi