- Konflik Timur Tengah mengancam pasokan bahan baku pupuk kimia nitrogen impor yang dibutuhkan untuk produksi pangan Indonesia.
- Kelangkaan bahan baku berisiko mengganggu stok pupuk nasional untuk masa tanam mendatang jika konflik terus berlangsung lama.
- Pemerintah didorong mengoptimalkan produksi pupuk organik lokal dan menyediakan mesin pengolah pupuk bagi petani di tingkat desa.
Suara.com - Eskalasi konflik di Timur Tengah yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda mulai berdampak secara global. Salah satu yang terdampak adalah pasokan pupuk berbasis nitrogen.
Guru Besar Fakultas Pertanian UGM, Subejo, menuturkan bahwa perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran ini sangat berpotensi menimbulkan dampak bagi sektor pangan, terutama kelangkaan pasokan pupuk berbasis nitrogen untuk produksi pupuk kimia.
“Kalau misalnya pupuk organik dan pupuk hayati sesungguhnya tidak tergantung impor, tapi kalau pupuk kimia memang sebagian bahannya harus impor,” kata Subejo, dikutip, Senin (6/4/2026).
Jika konflik ini berkepanjangan dan berdampak pada pasokan bahan baku yang masuk ke Indonesia, tentu cukup berisiko, mengingat negara-negara Teluk menjadi produsen penting pupuk berbasis nitrogen.
Lebih lanjut, Subejo menerangkan bahwa kondisi tersebut, jika tidak segera membaik, akan berdampak pada stok kebutuhan pupuk pada musim berikutnya. Pasalnya, ia menyebut pemerintah sudah memiliki stok pupuk untuk musim saat ini.
“Mungkin untuk masa penanaman Juli atau Juni itu yang saya kira berisiko, kalau distribusi bahan bakunya tidak lancar,” ungkapnya.
Potensi Kembangkan Pupuk Organik
Namun di sisi lain, kondisi itu bisa dipandang sebagai sebuah momentum untuk meningkatkan produktivitas pupuk dalam negeri. Pupuk organik yang berasal dari kotoran ternak, termasuk kompos dari limbah organik, dapat dioptimalkan.
“Jadi di satu sisi tetap ada risiko kekurangan pupuk kimia, tapi kita berkesempatan untuk menggantinya dengan pupuk organik,” ujarnya.
Menurutnya, pemerintah dan pihak swasta bisa bekerja sama dalam hal tersebut, termasuk melibatkan masyarakat untuk memanfaatkan sumber daya yang ada.
Baca Juga: Pasokan Sulfur Macet: Konflik Timur Tengah Ancam Naikkan Harga Baterai EV Hingga Pupuk RI
Meskipun Indonesia memiliki potensi besar untuk memproduksi pupuk organik, kebutuhan pupuk nonorganik tidak sepenuhnya bisa digantikan. Ia mengungkapkan, jika stok pupuk tersebut benar-benar berkurang hingga 50 persen, maka akan berisiko ke depan.
Diperlukan kesiapan untuk lebih mengoptimalkan produk-produk organik. Selain itu, perlu dilakukan antisipasi di tingkat desa melalui kelompok tani maupun BUMDes.
Menurutnya, bantuan mesin pupuk tidak harus besar, tetapi cukup untuk produksi di tingkat desa.
“Ini harus diantisipasi mulai sekarang. Jika tidak disiapkan dan tiba-tiba bahan bakunya benar-benar tidak bisa masuk, pasti akan berisiko terhadap kebutuhan petani. Sehingga petani tidak bisa memproduksi berbagai komoditas dengan baik,” paparnya.
Dari sisi pemerintah, edukasi kepada masyarakat harus mulai lebih digencarkan agar tidak terlalu bergantung pada pupuk kimia dan mulai beralih ke pupuk organik.
Selain itu, strategi lainnya adalah memberikan bantuan mesin pengolah pupuk organik ke desa-desa. Langkah tersebut dapat menjadi momentum untuk mengajarkan pentingnya pupuk organik.
Berita Terkait
-
Pasokan Sulfur Macet: Konflik Timur Tengah Ancam Naikkan Harga Baterai EV Hingga Pupuk RI
-
UNIFIL Beri Penghormatan Terakhir bagi Tiga Prajurit TNI yang Gugur
-
Godzilla El Nino Ancam Ketahanan Pangan, Padi dan Jagung Paling Rentan Gagal Panen
-
Konflik Timur Tengah Ganggu Pariwisata RI, 770 Penerbangan Batal dan Potensi 60 Ribu Wisman Hilang
-
Timur Tengah Bergejolak, Petrokimia Gresik Bicara Nasib Soal Pasokan Sulfur
Terpopuler
- 6 HP 5G Terbaru Paling Murah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Jempolan
- Proyek 3 Triliun Dimulai: Makassar Bakal Kebanjiran 200 Ton Sampah dari Maros dan Gowa Setiap Hari
- 5 Sunscreen Wardah Terbaik untuk Flek Hitam Segala Usia
- Berapa Gaji Pratama Arhan? Kini Dikabarkan Bakal Balik ke Liga 1
- 3 HP Murah Rp1 Jutaan RAM 8 GB April 2026 untuk Multitasking Lancar
Pilihan
-
Banjir Rendam 40 Titik Palembang, Dua Lansia Sakit Tak Berdaya hingga Dievakuasi dari Rumah Terendam
-
Baru 17 Tahun, Siti Khumaerah Sudah Diterima di 5 Kampus Dunia
-
Sidoarjo Mencekam! Tim Jibom Turun Tangan Selidiki Ledakan Maut di Pabrik Baja Waru
-
Siap-siap, Kejari Sleman Beri Sinyal Tersangka Baru Kasus Korupsi Dana Hibah Pariwisata
-
Belajar Empati dari Peristiwa Motor Terbakar di SPBU Sriwijaya, Pakai APAR Tidak Perlu Izin
Terkini
-
Bukan Makar, Saiful Mujani Jelaskan Maksud Pernyataan 'Turunkan Prabowo'
-
Gandeng Swasta, Pemerintah Kebut Bangun 1.000 Rumah Murah
-
Denyut Nadi di Sudut Tebet: Kisah Bu Entin dan Warung Madura yang Menolak Tidur
-
Lagi, KPK Didesak Segera Selidiki Dugaan Korupsi Impor 105.000 Mobil India
-
Roy Suryo Dukung JK Polisikan Rismon Sianipar 11 Ribu Triliun Persen, Meski Yakin Itu Rekayasa AI!
-
Gus Lilur: Muktamar NU Harus Haramkan Politik Uang
-
Tenda Perlawanan Berdiri di Komnas HAM: Mahasiswa Ngecamp Demi Keadilan Andrie Yunus!
-
Iran Sampaikan Tuntutan Gencatan Senjata ke AS Lewat Perantara
-
Kemensos Pangkas Total Perjalanan Dinas Luar Negeri, Gus Ipul: Nol Persen!
-
KPK Geledah Rumah Ono Surono, Amankan Dokumen dan Barang Bukti Elektronik Kasus Suap Ijon Bekasi