-
Perang di Iran menyebabkan PHK massal dan krisis pangan yang mencekam warga Teheran.
-
Fasilitas medis mulai kekurangan obat-obatan sementara korban sipil terus berjatuhan akibat pengeboman.
-
Warga menghadapi trauma ganda dari serangan udara dan ancaman represi kekerasan dari rezim.
Suara.com - Langit Teheran Iran yang biasanya tenang mendadak berubah menjadi panggung horor bagi Setareh dan rekan kerjanya.
Getaran hebat dan suara ledakan yang memekakkan telinga meruntuhkan rasa aman yang selama ini mereka rasakan.
"Saya pikir itu adalah bom," kenang Setareh saat menggambarkan detik-detik mencekam di kantornya, dikutip dari BBC.
Asap tebal yang membumbung tinggi menjadi saksi bisu kehancuran yang lokasinya belum sempat teridentifikasi saat itu.
Kepanikan masal melanda, membuat suasana kantor berubah menjadi kekacauan total selama berjam-jam tanpa kendali.
Hari yang sama saat bom jatuh menjadi hari terakhir Setareh menyandang status sebagai seorang karyawan.
Atasannya memutuskan untuk menutup bisnis secara permanen dan memberhentikan seluruh staf karena kondisi keamanan.
Bagi Setareh, pekerjaan tersebut adalah segalanya; tempat ia bersosialisasi dan sumber penghasilan mingguan yang pasti.
Kini, suara ledakan tiap malam telah merampas ketenangan dan kemampuan tidurnya secara alami tanpa bantuan medis.
Baca Juga: Isi 10 Poin Proposal Iran ke Amerika Serikat untuk Gencatan Senjata
"Saya sejujurnya bisa katakan bahwa saya tidak tidur selama beberapa malam dan hari berturut-turut. Saya mencoba rileks dengan meminum obat pereda nyeri yang sangat kuat agar bisa tidur. Kecemasan ini begitu hebat hingga mempengaruhi tubuh saya. Ketika saya memikirkan masa depan dan membayangkan kondisi tersebut, saya benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan," ungkapnya dengan penuh keputusasaan.
Ketakutan Setareh bukan hanya soal bom, melainkan bayang-bayang kemiskinan ekstrem yang kini menjerat jutaan orang.
Sebelum konflik pecah, inflasi harga pangan di Iran sudah melonjak hingga angka 60 persen dalam setahun.
Ketiadaan tabungan akibat sanksi bertahun-tahun membuat masyarakat kehilangan bantalan ekonomi saat krisis ini datang menghantam.
"Kami bahkan tidak mampu membeli makanan pokok. Apa yang ada di kantong kami tidak sesuai dengan harga pasar... Iran juga telah berada di bawah sanksi selama bertahun-tahun, dan masalah yang diciptakan oleh Republik Islam berarti selama ini kami tidak bisa membangun tabungan apa pun, setidaknya cukup untuk bertahan hidup sekarang atau bergantung pada sesuatu. Sederhananya, orang-orang yang saya pikir mungkin punya uang untuk dipinjamkan juga tidak punya apa-apa," jelas Setareh mengenai realitas pahit di pasar.
Banyak yang memprediksi bahwa pengangguran massal akan memicu gelombang protes besar seperti pada awal tahun 2026.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- Duduk Perkara Gibran Tipu Malaysia, Anwar Ibrahim Buka Suara Parlemen Bakal Usut
- 5 Sepatu Lari yang Nyaman untuk Jalan Jauh, Sol Empuk Bisa Buat Traveling
- Siapa Chika Yenalovy? Istri Kasespri Prabowo yang Jejak Digitalnya Misterius
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
Pilihan
-
Tokyo Diguncang Gempa 5,9 M: 37 Orang Terluka, Transportasi Terganggu
-
Jet Tempur Sukhoi TNI AU Tergelincir Nyaris Hantam Jalan Raya di Maros
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
Terkini
-
Kisah Ustazah Mona: Ibu Bhayangkari Sekaligus Guru PAI yang Siap Harumkan Nama di MTQ Nasional
-
Keluar Modal Gede, DSI Tak Mungkin Jadi Perusahaan Rugi
-
Tundukkan Garudayaksa 3-2, Batam Prime FC Asuhan Okto Maniani Juara BIFS 2026
-
Investor Butuh Kepastian, 3 Hal Ini Diminta agar Eksplorasi Migas Makin Agresif
-
Sistemik dan Akut, Dosen UGM Bongkar Borok Penanganan Kekerasan Gender yang Hanya Jalan Jika Viral
-
Bukan Water Bombing, Prabowo Dorong 'Ubi Bombing' dari Singkong Atasi Karhutla
-
Hanura Desak Prabowo Sanksi Keras Korporasi Nakal Sebabkan Karhutla
-
DSI Bukan Regulator, Ekspor 3 Komoditas Dijamin Tak Akan Ribet
-
Antara Pompa Air yang Haus dan Pangkalan Gas yang Bisu di Tengah Kemarau
-
Dobrak Format Konvensional, Jakal Bookshop Fest 2026 Hadirkan 140 Aktivasi