-
Perang di Iran menyebabkan PHK massal dan krisis pangan yang mencekam warga Teheran.
-
Fasilitas medis mulai kekurangan obat-obatan sementara korban sipil terus berjatuhan akibat pengeboman.
-
Warga menghadapi trauma ganda dari serangan udara dan ancaman represi kekerasan dari rezim.
"Saya tidak tahu bagaimana gelombang pengangguran besar-besaran ini akan ditangani. Tidak ada sistem pendukung dan pemerintah tidak akan melakukan apa pun untuk semua orang yang menganggur ini. Saya percaya perang yang sebenarnya akan dimulai jika perang ini berakhir tanpa hasil apa pun," tegasnya mengenai harapannya akan perubahan rezim.
Di sudut lain, Tina yang bekerja sebagai perawat mulai merasakan krisis pasokan medis yang mengancam nyawa pasien.
Kekhawatiran terbesarnya adalah jika infrastruktur kesehatan mulai menjadi target serangan udara secara langsung dalam waktu dekat.
"Kekurangan itu belum meluas, tetapi sudah mulai terjadi," ujar Tina memberikan peringatan dini dari garis depan medis.
Ia menambahkan, "Masalah yang paling penting adalah perang ini tidak boleh menjangkau rumah sakit. Jika konflik berlanjut dan infrastruktur menjadi sasaran serta obat-obatan tidak dapat diimpor, maka kita akan menghadapi masalah yang sangat serius."
Tina menjadi saksi mata betapa mengerikannya luka-luka yang dialami warga sipil akibat ledakan bom yang tidak terduga.
Ia melihat korban berdatangan dalam kondisi yang tidak lagi bisa dikenali dengan anggota tubuh yang sudah tidak utuh.
Salah satu memori paling menyakitkan bagi Tina adalah kematian seorang ibu muda yang tengah hamil dua bulan.
"Karena pemboman di daerahnya - rumahnya dekat dengan pusat militer - rumah mereka rusak. Ketika mereka membawanya ke rumah sakit, baik ibu maupun janinnya tidak hidup," kenang Tina dengan nada pedih.
Baca Juga: Isi 10 Poin Proposal Iran ke Amerika Serikat untuk Gencatan Senjata
Ia melanjutkan, "Keduanya telah meninggal. Dia hanya terpaut dua bulan dari melahirkan, namun sayangnya baik dia maupun bayinya tidak selamat. Itu adalah situasi yang sangat mengerikan."
Tragedi ini membawa kembali cerita masa lalu saat ibunya mengandung dirinya di tengah perang Iran-Irak tahun 1980-an.
Dahulu ibunya harus bersembunyi di bunker, dan kini Tina menghadapi nasib serupa dalam siklus kekerasan yang sama.
"Mendengar cerita-cerita itu selalu membuat saya berhenti dan berpikir, membayangkan diri saya dalam keadaan itu dan menempatkan diri saya dalam situasinya. Sekarang, saya menemukan diri saya dalam situasi yang sama dengan yang pernah dihadapi ibu saya. Saya tidak percaya betapa cepatnya sejarah berulang," tuturnya.
Berbicara menentang pemerintah di Iran adalah tindakan yang bisa berujung pada eksekusi atau penyiksaan di dalam penjara.
Pasukan keamanan terus berpatroli, siap menindak siapapun yang dianggap melakukan pembangkangan terhadap otoritas negara di tengah perang.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
- 5 Serum Penumbuh Rambut Terbaik untuk Rambut Menipis dan Area Botak
Pilihan
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
Terkini
-
Terdakwa Militer Dituntut Ringan, Keluarga Kacab BRI Gugat Pasal Peradilan Koneksitas ke MK
-
Hujan Lebat Disertai Petir Ancam Akhir Pekan Warga Jakarta Selatan dan Timur Jelang Petang
-
Program MBG Serap 1,28 Juta Tenaga Kerja, Ribuan UMKM hingga Peternak Ikut Kecipratan
-
Jateng Genjot Investasi EBT dan Pengelolaan Sampah, Ahmad Luthfi Tawarkan ke Para Pengusaha Tiongkok
-
'Kan Bisa di-Google', Jimly Asshiddiqie Sindir Pansel yang Loloskan Hery Susanto
-
Pansel Dinilai Kecolongan Loloskan Hery Susanto Jadi Ketua Ombudsman
-
Studi Temukan Mikroplastik Menyusup ke Sperma dan Ketuban, Apa Dampaknya?
-
Momen Prabowo Mau Reshuffle Zulhas Gara-Gara Salah Kasih Info Nama Desa, Ternyata Cuma Guyon
-
Hindari Area Kuningan, Dishub DKI Terapkan Buka-Tutup Jalan Hingga 26 Mei 2026
-
Usai 9 WNI Dipulangkan, Wanda Hamidah Serukan Konvoi Lebih Besar ke Palestina