News / Internasional
Jum'at, 10 April 2026 | 06:17 WIB
Serangan Israel ke Lebanon (Antara)
Baca 10 detik
  • PM Australia Anthony Albanese mendesak agar Lebanon dilibatkan dalam gencatan senjata AS-Iran.

  • Serangan Israel di Lebanon menewaskan ratusan orang di tengah kesepakatan damai regional.

  • Pemimpin dunia menyerukan perluasan cakupan perdamaian demi stabilitas keamanan dan ekonomi global.

Suara.com - Pemerintah Australia memberikan pernyataan resmi mengenai situasi keamanan yang semakin memanas di wilayah Timur Tengah.

Perdana Menteri Anthony Albanese menekankan pentingnya perluasan cakupan perdamaian agar menyentuh wilayah kedaulatan Lebanon.

Pemimpin Negeri Kanguru tersebut melihat adanya kebutuhan mendesak untuk menghentikan kekerasan bersenjata yang terus berlangsung.

"Pemerintah Australia juga sangat yakin bahwa (kesepakatan gencatan senjata) ini juga harus berlaku untuk Lebanon," kata Albanese dikutip dari Sputnik.

Visi utama dari kebijakan luar negeri Canberra saat ini adalah terciptanya ketenangan yang menyeluruh.

Keinginan kuat Australia untuk menyaksikan berakhirnya pertikaian di Timur Tengah disampaikan secara terbuka oleh Albanese.

"Dan saya tahu bahwa banyak warga Australia prihatin dengan peristiwa yang terjadi di Lebanon. Ini bukan hanya masalah dampak di sana, tetapi juga dampak yang ditimbulkannya di seluruh dunia," tutur Albanese.

Dampak dari ketidakstabilan di wilayah tersebut kini telah dirasakan oleh masyarakat internasional secara luas.

Pihak Australia memberikan apresiasi terhadap langkah diplomatik yang diambil oleh Amerika Serikat dan Iran.

Baca Juga: Iran Kembali Tutup Selat Hormuz, Kapal Tanker Terpaksa Putar Balik di Oman

Kesepakatan jeda pertempuran selama dua pekan tersebut diharapkan menjadi pintu masuk bagi negosiasi jangka panjang.

Selain masalah militer, Australia juga menaruh perhatian besar pada aspek ekonomi dan logistik global.

Pemerintah sedang menjalin koordinasi intensif dengan berbagai negara mitra di tingkat internasional.

Langkah ini bertujuan untuk memastikan kelancaran arus transportasi kapal melalui Selat Hormuz yang vital.

Pemulihan jalur ini sangat krusial guna menjamin distribusi sumber daya penting tidak mengalami hambatan.

Di sisi lain, desakan serupa juga datang dari para pemimpin negara-negara kuat di benua Eropa.

Presiden Prancis Emmanuel Macron menjadi sosok terdepan dalam memperjuangkan posisi Lebanon di mata internasional.

Macron memimpin langkah diplomasi agar Lebanon diakui sebagai subjek dalam kesepakatan antara Washington dan Teheran.

Informasi ini diperkuat oleh laporan jurnalis ITV yang menyebutkan adanya koordinasi antar sumber diplomatik.

Inggris juga tidak tinggal diam melalui pernyataan tegas yang dikeluarkan oleh Menteri Luar Negeri Yvette Cooper.

Cooper meminta agar Lebanon segera dimasukkan dalam pakta penghentian serangan di tengah gempuran yang masih ada.

Kritik tajam terhadap aksi militer Israel di wilayah Lebanon juga dilontarkan oleh Jean-Noel Barrot.

Menteri Luar Negeri Prancis tersebut mengutuk keras operasi udara yang menyasar pemukiman di Lebanon.

Barrot mendesak agar ruang lingkup gencatan senjata diperluas secepat mungkin guna mencegah korban lebih banyak.

Data terbaru menunjukkan angka fatalitas yang sangat memprihatinkan akibat serangan yang terjadi pada Rabu lalu.

Sedikitnya 254 orang kehilangan nyawa dan lebih dari 1.100 individu lainnya menderita luka-luka.

Kelompok Hizbullah di Lebanon telah memberikan pernyataan bahwa mereka tidak akan membiarkan serangan tersebut.

Hizbullah berkomitmen untuk melakukan tindakan balasan atas hilangnya nyawa warga sipil dalam konflik ini.

Eskalasi besar ini terjadi tepat satu hari setelah pengumuman penting dari Presiden Amerika Serikat.

Donald Trump sebelumnya telah menyatakan adanya gencatan senjata dua minggu dengan pihak Iran.

Namun, kedamaian tersebut seolah tidak menyentuh wilayah Lebanon selatan yang terus dihujani artileri.

Pesawat tempur dan unit artileri Israel dilaporkan masih menyasar puluhan titik di kawasan Lebanon.

Kota Tyre menjadi salah satu pusat pemukiman yang terkena dampak langsung dari gempuran militer tersebut.

Situasi ini memicu perdebatan mengenai keabsahan kesepakatan damai yang sebelumnya telah diumumkan.

Trump memberikan alasan bahwa Lebanon tidak masuk hitungan karena keberadaan kekuatan militer Hizbullah.

Alasan ini menjadi dasar pengecualian Lebanon dari poin-poin kesepakatan gencatan senjata dengan Teheran.

Pihak Iran memberikan respons keras terhadap pengecualian dan serangan yang terus dilakukan Israel.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, memberikan pandangan yang bertolak belakang.

Baqaei menegaskan bahwa serangan terhadap Lebanon adalah bentuk nyata pengkhianatan terhadap komitmen damai.

Australia bersama dunia internasional kini menunggu langkah nyata agar ketegangan ini tidak meluas menjadi perang besar.

Semua pihak berharap agar meja perundingan segera membuahkan hasil yang adil bagi seluruh wilayah.

Load More