- Schneider Electric meluncurkan Vivace E, rangkaian saklar dan stopkontak modern yang mengedepankan estetika serta fitur keamanan bagi keluarga.
- Produk ini dilengkapi fitur child safety shutter, material tahan panas, dan sistem grounding untuk meminimalisir risiko sengatan listrik anak.
- Vivace E tersedia di seluruh Indonesia melalui toko bangunan dan e-commerce dengan harga mulai dari Rp30 ribuan per unit.
Suara.com - Mala sedang sibuk melipat pakaian ketika anak pertamanya, Shana yang berusia tiga tahun sedang asyik bermain balok warna-warni di ruang tamu. Suara televisi terdengar pelan mengisi rumah mungil mereka di Tangerang, Banten, pagi itu.
Di sela permainan, Shana berjalan ke sudut ruangan. Pandangannya tertuju pada stopkontak yang berada rendah di sisi rak televisi. Dua lubang kecil yang memantulkan cahaya matahari itu tampak menarik rasa penasaran bocah tersebut. Perlahan, ia mengulurkan tangan hendak menyentuhnya.
"Shana jangan, nanti kesetrum!" teriak Mala berlari mendekat. Ia spontan menjatuhkan pakaian yang sedang dilipat lalu menarik tubuh anaknya menjauh dari stopkontak itu.
Saat berbincang dengan Suara.com pada awal Mei 2026, Mala masih mengingat jelas momen yang nyaris membuatnya kehilangan sang buah hati. Ia mengaku hingga kini masih merinding membayangkan apa yang bisa terjadi jika dirinya terlambat beberapa detik saja.
"Untung waktu itu aku lihat. Refleks langsung narik dia menjauh," kata Mala.
Sudah tiga tahun terakhir Mala dan suaminya menghuni rumah subsidi mereka. Sedikit demi sedikit, pasangan muda itu merenovasi hunian sederhana tersebut agar terasa lebih nyaman dipandang dan betah ditempati. Mulai dari mengganti warna dinding, menambah rak televisi minimalis hingga memilih furnitur bernuansa modern yang sedang tren di media sosial.
Namun kejadian pagi itu membuat Mala menyadari satu hal yang selama ini luput dari perhatiannya. Ia terlalu fokus mempercantik rumah tanpa benar-benar memikirkan keamanan detail kecil di dalamnya, termasuk soal instalasi listrik dan stopkontak yang mudah dijangkau anak-anak.
Tak Cuma Estetis, tapi Juga Harus Aman
Tren interior rumah pada 2026 mulai menunjukkan perubahan. Jika beberapa tahun terakhir gaya minimalis identik dengan tampilan dingin dan kaku, kini banyak keluarga muda justru mencari hunian yang terasa lebih hangat, personal, dan nyaman untuk ditinggali jangka panjang.
Prinsip less but better semakin banyak diterapkan dalam desain rumah modern. Setiap elemen dipilih tidak hanya berdasarkan fungsi, tetapi juga kemampuannya menyatu dengan karakter interior rumah.
Interior Designer Margaretha Amelia Miranti mengatakan, perhatian terhadap detail seperti saklar dan stopkontak menjadi hal penting dalam desain interior modern. Perangkat kelistrikan yang sebelumnya dianggap sekadar pelengkap kini menjadi bagian dari elemen interior yang memengaruhi keseluruhan tampilan ruang.
“Jika desainnya terlalu menonjol atau tidak selaras dengan konsep desain ruang, hal tersebut bisa mengganggu keseluruhan komposisi interior,” kata Margaretha.
Pandangan serupa disampaikan Ketua Himpunan Desainer Interior Indonesia DKI Jakarta, Ariya Sradha. Menurutnya, detail kecil seperti saklar dan stopkontak justru memiliki peran besar dalam menjaga kesatuan visual ruang.
“Pendekatan desain yang clean, slim, dan frameless menjadi pilihan utama karena memungkinkan elemen tersebut menyatu secara natural dengan berbagai konsep interior,” ujar Ariya.
Namun, kebutuhan masyarakat saat ini tidak berhenti pada aspek estetika semata. Di balik desain yang rapi dan modern, faktor keamanan tetap menjadi perhatian utama, terutama pada perangkat kelistrikan yang digunakan setiap hari di rumah.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta tahun 2025 mencatat sebanyak 66,7 persen kasus kebakaran dipicu korsleting listrik. Risiko tersebut semakin besar bagi keluarga dengan anak kecil. Sebuah studi dalam Journal of Forensic Sciences tahun 2023 menemukan 47,2 persen kasus kematian akibat sengatan listrik terjadi pada anak di bawah usia 18 tahun. Kondisi itu membuat banyak keluarga muda kini mulai mencari perangkat kelistrikan yang tidak hanya estetik, tetapi juga memiliki fitur keamanan tambahan.
Berita Terkait
-
Schneider Electric Gandeng Kreaby Hadirkan Desain Sakelar AvatarON yang Inklusif
-
Schneider Electric Perluas Pabrik di Cikarang, Dapat Kunjungan Dubes Prancis dan Kemenperin
-
Gerakan Listrik Aman Schneider Electric, Cegah Risiko Tersetrum di Rumah dengan GPAS
-
Perusahaan Asal Perancis Jadi yang Paling Berkelanjutan di Dunia
-
Martin Setiawan Resmi Nahkodai Schneider Electric
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- 3 Klub Pemain Timnas Indonesia Berhasil Raih Tiket Promosi Musim Ini
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- HP Vivo yang Bagus Seri Apa? Ini Rekomendasi Seri X, V, dan Y Sesuai Kebutuhan
- 4 Rekomendasi Sampo Urang-Aring untuk Menghitamkan dan Menyuburkan Rambut
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
Terkini
-
Relokasi Akibat Krisis Iklim: Mengapa Memindahkan Warga Tidak Sesederhana Memindahkan Rumah?
-
Asa Baru Pascabencana: Anggaran Rp100 Triliun Disetujui DPR untuk Pulihkan Sumatra!
-
Bawa Mandat Prabowo Terkait RUU Polri, Menkum: UU Sudah Berlaku Dua Dekade, Perlu Disesuaikan
-
Miris! 6 Bulan Melaut Bertaruh Nyawa, Awak Kapal Perikanan Cuma Digaji Rp500 Ribu
-
Benarkah Pertumbuhan Ekonomi Selalu Merusak Alam? Studi Baru Justru Menemukan Sebaliknya
-
DPR Beberkan Poin-poin Perubahan di RUU Polri: Ada Soal Aturan Polisi Bertugas di Luar Institusi
-
Bukan Dibacok Begal! Pria di Tambora Patah Kaki Hantam Beton Gara-gara Mabuk
-
Bukan Sabotase, Ini Alasan PLN Butuh Waktu Lama untuk Pulihkan Listrik Sumatra
-
Sisi Getir Pasca-Bencana Sumatra: Masih Ada Sekolah yang Bertahan di Tenda dan Kelas Darurat
-
Menagih Janji di Atas Puing: Sepuluh Bulan Pedagang Taman Puring Menunggu