-
Iran menutup Selat Hormuz karena serangan Israel ke Lebanon melanggar kesepakatan gencatan senjata.
-
IRGC menyiapkan rute alternatif di Pulau Larak guna menghindari potensi ranjau anti kapal.
-
Teheran berencana membatasi lalu lintas hanya 12 kapal per hari dengan biaya transit khusus.
Penggunaan jalur di sekitar Pulau Larak bukanlah hal baru karena pernah dipakai saat konflik Iran dan AS.
IRGC memberikan rute khusus ini sebagai langkah proteksi dini terhadap potensi bahaya tersembunyi di dasar laut.
Keamanan pelayaran menjadi prioritas utama mengingat adanya risiko persebaran senjata peledak di jalur utama yang biasa dilalui.
"Mengingat kemungkinan adanya beragai ranjau anti kapal di jalur pelayaran utama Selat Hormuz, dengan ini kami memberitahukan kepada semua kapal yang bermaksud melewati Selat Hormuz sebagai berikut," tulis IRGC dalam pengumuman resminya.
Pihak militer Iran juga telah merilis dokumen navigasi yang sangat mendetail mengenai prosedur keselamatan di zona tersebut.
Dalam dokumen peta tersebut, terdapat instruksi visual yang sangat jelas bagi para kapten kapal tanker dunia.
Ada lingkaran besar yang menandakan zona bahaya dalam tulisan Persia di atas area Traffic Separation Scheme.
Kawasan Traffic Separation Scheme merupakan jalur tradisional yang selama ini menjadi nadi utama transportasi minyak mentah dunia.
Berdasarkan panduan IRGC, kapal masuk wajib melewati celah sempit di antara Pulau Larak dan Pulau Qeshm.
Baca Juga: Iran Ancam Batalkan Gencatan Senjata dengan AS Jika Israel Terus Bombardir Lebanon Tanpa Henti
Posisi rute ini berada sangat dekat dengan daratan utama Iran sehingga memudahkan pengawasan militer secara langsung.
Padahal, Presiden Amerika Serikat Donald Trump baru saja mengumumkan keberhasilan gencatan senjata pada tanggal 7 April.
Momentum perdamaian sempat terlihat saat dua kapal kargo sukses melewati Selat Hormuz dengan aman tanpa hambatan.
Kapal-kapal berbendera Yunani dan Liberia menjadi saksi singkat atas berlakunya kesepakatan damai yang hanya seumur jagung.
Iran bahkan sempat menawarkan skema pembatasan jumlah armada yang melintas demi menjaga keteraturan di wilayah perairan.
Mereka berencana hanya mengizinkan maksimal 12 unit kapal saja yang boleh berlayar setiap harinya di sana.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz ke Iran, Singapura: Ingat Selat Malaka Lebih Strategis!
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
- Sepeda Lipat Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Rekomendasi Terbaik untuk Gowes
Pilihan
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
-
Benjamin Netanyahu Resmi Diseret ke Pengadilan Duduk di Kursi Terdakwa
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
-
Iran Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam Batal
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
Terkini
-
Imbas Konflik Timur Tengah: Harga Plastik di Jakarta Melonjak 40 Persen, Penjual Makanan Menjerit!
-
Anak Urus Anak: KPI Bongkar Fakta Pahit di Balik Maraknya Pernikahan Dini di Indonesia
-
Sekutu Mulai Pecah Kongsi? Inggris Kecam Trump dan Tuntut Gencatan Senjata di Lebanon
-
TNI AL Latih UMKM Pesisir Olah Hasil Laut dan Kedelai, Dorong Kemandirian Ekonomi
-
Awan Gelap Gencatan Senjata Perang AS - Iran
-
KPI Konsolidasikan Gerakan Perempuan Jelang Kongres VI, Soroti Kepemimpinan dan Keadilan Iklim
-
Korupsi Petral Bikin Harga Premium Melejit, Kejagung Gandeng BPKP Hitung Total Kerugian Negara!
-
Nuklir Iran Panas Lagi, Ambisi Pengayaan Uranium Teheran Tak Akan Bisa Dihentikan Amerika Serikat
-
Iran Ancam Batalkan Gencatan Senjata dengan AS Jika Israel Terus Bombardir Lebanon Tanpa Henti
-
Pasokan Minyak Dunia Anjlok 13 Persen Akibat Perang Timur Tengah Menurut Bos IMF