-
Iran mengancam batalkan gencatan senjata jika Israel terus melancarkan serangan udara di Lebanon.
-
Serangan Israel di Lebanon menewaskan ratusan orang saat periode gencatan senjata AS-Iran berlangsung.
-
Netanyahu mengklaim Lebanon tidak termasuk wilayah kesepakatan damai antara pihak Amerika dan Iran.
Suara.com - Perang di Timur Tengah kembali memanas setelah Teheran mengeluarkan peringatan keras terkait keberlangsungan kesepakatan damai.
Pemerintah Iran secara terbuka mengancam akan menarik diri dari komitmen gencatan senjata yang telah disepakati bersama Amerika Serikat.
Langkah ini diambil sebagai respons atas tindakan militer Israel yang dianggap terus menggempur wilayah Lebanon tanpa jeda.
Melalui laporan kantor berita Tasnim News, seorang sumber internal Iran menegaskan posisi tegas negara tersebut dalam menghadapi situasi ini.
"Iran akan keluar dari perjanjian jika rezim Israel terus melanggar gencatan senjata dengan menyerang Lebanon," kata sumber tersebut dikutip dari MEMO.
Teheran saat ini dikabarkan tengah melakukan evaluasi mendalam terhadap rentetan aksi militer yang dilakukan oleh pihak Israel.
Tindakan Israel di Lebanon dinilai oleh otoritas Iran sebagai bentuk pelanggaran yang berlangsung secara terus-menerus dan sistematis.
Pihak Iran beranggapan bahwa serangan tersebut mencederai poin-poin krusial dalam kesepakatan yang sebelumnya difasilitasi oleh Washington.
Bagi Iran, stabilitas di Lebanon merupakan bagian integral dari komitmen penghentian permusuhan yang telah disetujui bersama pemerintah AS.
Baca Juga: Dunia Desak Israel Segera Berhenti Serang Lebanon
Hal ini berkaitan erat dengan perlindungan terhadap elemen Poros Perlawanan yang selama ini menjadi sekutu strategis bagi Teheran.
Padahal, Amerika Serikat dan Iran baru saja memulai periode gencatan senjata yang direncanakan berlangsung selama dua pekan.
Kesepakatan bersejarah ini mulai berlaku sejak hari Rabu, tanggal 8 April 2026, berdasarkan pengumuman resmi pemerintah.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebelumnya telah menyebarkan informasi positif ini melalui akun pribadinya di media sosial Truth Social.
Pengumuman yang dilakukan pada Selasa, 7 April tersebut sempat membawa angin segar bagi upaya perdamaian di kawasan tersebut.
Rencana besarnya, gencatan senjata ini akan menjadi landasan untuk memulai dialog diplomasi yang lebih formal dan mendalam.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Desil Mendadak Melonjak, Warga Jogja Terancam Kehilangan Bansos
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Momen Spektakuler Pagelaran Sabang Merauke 2026: Raisa Jadi Srikandi hingga Yura Yunita Naik Naga
-
Rekening Aktivis Diblokir, JCW Curiga Ada Operasi Membungkam Suara Kritis
-
Review Yona of the Dawn: Transformasi Epik dari Putri Manja Menjadi Pejuang Tangguh
-
Mengapa Langit Berwarna Biru di Siang Hari?
-
Liburan di Bali Berujung Bui, Turis Swiss Divonis Penjara karena Hina Nyepi
-
Menteri Luar Negeri Iran Nilai Sanksi Ekonomi Amerika Serikat Bentuk Keputusasaan
-
Guru Besar UGM Kritik Penanganan Karhutla: Negara Baru Kompak Saat Api Membesar
-
Review Awarapan 2: Sinema Noir India Terbaik yang Penuh Ketegangan Seru!
-
Situ Cileunca Menyusut 40 Meter, Ancaman Air Bersih Mengintai Bandung Raya
-
Gaya Hidup Paycheck to Paycheck Bikin Finansial Gen Z Makin Rentan