- Islah Bahrawi membantah tuduhan makar atas pernyataannya mengenai urgensi pergantian kepemimpinan demi memulihkan ruang demokrasi yang intimidatif.
- Ia mengkritik hilangnya sistem pengawasan antarlembaga negara yang kini cenderung mengarah pada praktik otoritarianisme satu komando pusat.
- Islah menegaskan kritik tersebut merupakan bentuk nasionalisme warga negara, bukan kebencian terhadap negara maupun upaya penggulingan pemerintahan.
Suara.com - Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia, Islah Bahrawi merespons tudingan makar yang dialamatkan kepadanya. Isu ini memanas setelah Islah melontarkan pernyataan tajam bahwa "teror politik hanya akan berhenti jika kepemimpinan saat ini berganti."
Dalam bincang-bincang di kanal YouTube Rhenald Kasali, Islah menegaskan bahwa kalimat tersebut bukanlah seruan untuk menggulingkan kekuasaan secara ilegal. Sebaliknya, itu adalah ekspresi kekecewaan mendalam atas ruang demokrasi yang kian sesak oleh intimidasi.
“Kalau kita ingin menghentikan upaya-upaya intimidatif dan koersif terhadap orang-orang yang kritis ini, karena ruang itu diberikan oleh kekuasaan, ya makanya memang harus ada pergantian kekuasaan itu,” ujar Islah, dikutip Jumat (10/4/2026).
Islah juga menolak keras jika kritiknya disamakan dengan tindakan makar. Baginya, makar memerlukan eskalasi kekuatan untuk meruntuhkan struktur pemerintahan secara inkonstitusional, sedangkan apa yang ia lakukan adalah murni peran warga negara dalam mimbar demokrasi.
"Makar itu kan pasti ada eskalasi yang dibangun, berusaha untuk mengganti pemerintahan, struktur pemerintahan, dan melakukan pekerjaan-pekerjaan atau aksi-aksi yang melawan hukum. Tapi ini kan mimbar dalam sebuah negara yang konon berada dalam, hampir berada dalam the third wave of democracy gitu kalau istilahnya Fukuyama," tegasnya.
Ia pun menyoroti hilangnya sistem pengawasan (check and balances) antarlembaga negara yang kini dirasakannya mulai memudar dan bergeser ke arah otoritarianisme.
“Hari ini kita rasakan check and balances itu sudah tidak bisa dirasakan dari instansi-instansi yang seharusnya berfungsi. Semuanya sudah betul-betul one man show in a single command, sehingga semua orang terasa takut,” ungkapnya.
Cinta Negara 1000 Persen
Meski vokal mengkritik, Islah meluruskan bahwa dirinya bukanlah pembenci negara. Ia memisahkan antara rasa nasionalisme terhadap tanah air dengan dukungan terhadap rezim penguasa.
“Saya cinta kepada negara ini 1000 persen, 2000 persen. Tapi saya belum tentu cinta kepada pemerintahan,” jelas Islah.
Baca Juga: Prabowo-Bahlil Gas Pol Ekosistem Kendaraan Listrik
Ia menambahkan, mendukung pemerintahan yang sah adalah kewajiban setelah pemilu usai, namun bukan berarti menutup mata terhadap penyimpangan.
“Ini negara demokrasi. Once kita sudah memutuskan presidennya adalah ini, ya harus kita dukung. Tapi bukan berarti ketika ada penyimpangan, masa kita harus diam saja?” imbuhnya.
Islah juga menyentil fenomena meningkatnya rasa takut di masyarakat, di mana suara kritis sering kali langsung dicap sebagai upaya kudeta.
Secara khusus, ia memberikan "pesan" untuk Presiden Prabowo Subianto agar lebih jeli melihat siapa yang sebenarnya merusak reputasi kepemimpinannya.
Bagi Islah, ancaman sesungguhnya bukan berasal dari para kritikus, melainkan dari oknum aparat yang melakukan tindakan intimidasi di luar batas terhadap warga sipil.
“Kalau saya jadi Pak Prabowo, jangan gerah dengan suara-suara seperti kita, gerahlah kepada tentara-tentara yang melakukan aksi-aksi konyol itu. Itu menjatuhkan wibawa Presiden,” pungkasnya.
Reporter: Dinda Pramesti K
Berita Terkait
Terpopuler
- Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz ke Iran, Singapura: Ingat Selat Malaka Lebih Strategis!
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
- Sepeda Lipat Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Rekomendasi Terbaik untuk Gowes
Pilihan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
-
Benjamin Netanyahu Resmi Diseret ke Pengadilan Duduk di Kursi Terdakwa
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
Terkini
-
Prabowo Resmi Lantik Andi Rahadian Sebagai Dubes RI untuk Oman dan Yaman
-
Pimpinan Komisi III Ahmad Sahroni Jadi Korban Pemerasan, Pelaku Catut Nama KPK Minta Rp300 Juta!
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Prabowo Pimpin Sumpah Hakim MK Pengganti Anwar Usman, Anggota Ombudsman dan Duta Besar
-
Polda Metro Dalami Laporan Terhadap Saiful Mujani Buntut Seruan Gulingkan Prabowo
-
Bukan di Hari Jumat, Pemda DIY Pilih Rabu Jadi Hari WFH bagi ASN, Ini Alasannya
-
Ternyata Parkir Resmi! Dishub Akui Kesalahan Pola Parkir di Akses MRT Lebak Bulus yang Bikin Macet
-
Connie Bakrie Duga Kuat Kasus Andrie Yunus Operasi Intelijen Terstruktur, Ini Indikatornya
-
Bisakah Taman Kota Kurangi Banjir? Memahami Solusi Berbasis Alam di Jabodetabek
-
Iran Bantah Serangan Drone ke Negara Teluk Saat Gencatan Senjata