Suara.com - Pemerintah mempercepat pengembangan ekosistem kendaraan listrik sebagai bagian dari upaya menekan ketergantungan pada energi fosil. Percepatan ini ditempuh melalui penguatan industri, pembangunan infrastruktur pendukung, serta pemberian berbagai insentif untuk mendorong adopsi kendaraan listrik secara lebih luas dan terintegrasi.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, usai mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam peresmian pabrik perakitan kendaraan listrik di Magelang, Jawa Tengah, mengatakan penguatan ekosistem ini ditujukan untuk mempercepat implementasi elektrifikasi sektor transportasi sekaligus menekan emisi.
“Kami mendorong pemanfaatan energi bersih dan terbarukan ini lebih cepat dijalankan, termasuk melalui elektrifikasi di sektor transportasi. Dan ini sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil dan menekan emisi,” kata Bahlil, dikutip Jumat (10/4/2026).
Sebelumnya, pemerintah juga telah menyiapkan sejumlah insentif fiskal, mulai dari tarif khusus Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), PPnBM ditanggung pemerintah, hingga pembebasan bea masuk kendaraan listrik impor, sebagaimana tercatat dalam Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan (9/4/2026). Kebijakan ini diperkuat oleh besarnya cadangan nikel Indonesia yang menjadi bahan utama baterai kendaraan listrik, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.
Namun, di balik narasi transisi menuju kendaraan nol emisi, benarkah ini sudah benar-benar bersih?
Dari knalpot ke cerobong PLTU
Dalam produksinya, kendaraan listrik membutuhkan nikel sebagai bahan utama baterai. Masalahnya, proses pengolahan nikel masih sangat bergantung pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Hingga kini, sekitar 97 persen listrik yang digunakan smelter nikel atau fasilitas pengolahan bijih nikel masih berasal dari batu bara, sebagaimana dilaporkan Yayasan Indonesia Cerah (9/4/2026).
Ketergantungan ini berlawanan dengan target penurunan emisi, dan memunculkan ironi dalam agenda transisi energi: kendaraan yang diklaim ramah lingkungan diproduksi dengan energi berbasis fosil. Alih-alih menghapus emisi, kendaraan listrik dinilai hanya memindahkan jejak karbon dari knalpot kendaraan ke cerobong asap PLTU yang tetap menghasilkan polusi udara.
Dampak pada ekosistem dan masyarakat
Baca Juga: Dorong Transisi Energi, Prabowo Minta Daerah dan TNI Serap Bus-Truk Listrik Buatan Lokal
Di luar emisi, dampak lain juga muncul pada ekosistem darat dan laut. Menurut Rosa Luxemburg Stiftung (9/4/2026), penambangan nikel umumnya menggunakan metode tambang terbuka yang memicu deforestasi dalam skala luas. Padahal, hutan berperan sebagai penyerap karbon sekaligus habitat keanekaragaman hayati.
Selain itu, limbah hasil pengolahan nikel dalam jumlah besar berpotensi mencemari wilayah pesisir dan sumber air masyarakat. Nelayan lokal menjadi salah satu kelompok yang terdampak ketika kualitas laut menurun dan ruang tangkap semakin terbatas. Di sisi lain, perubahan ekonomi di kawasan tambang juga meningkatkan kerentanan sosial, terutama bagi kelompok perempuan yang menghadapi tekanan ekonomi lebih besar.
Dengan berbagai dampak tersebut, kendaraan listrik belum sepenuhnya dapat dikategorikan sebagai solusi bersih jika rantai produksinya masih bertumpu pada energi dan praktik ekstraktif yang beremisi tinggi.
Penulis: Natasha Suhendra
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- 3 Klub Pemain Timnas Indonesia Berhasil Raih Tiket Promosi Musim Ini
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- HP Vivo yang Bagus Seri Apa? Ini Rekomendasi Seri X, V, dan Y Sesuai Kebutuhan
- 4 Rekomendasi Sampo Urang-Aring untuk Menghitamkan dan Menyuburkan Rambut
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
Terkini
-
Takut Teror Susulan, Ahmad Bahar Minta Perlindungan LPSK Usai Konflik dengan Hercules
-
'Saya Mengaku Bersalah', Penyesalan Noel ke Buruh dan Keluarga di Sidang Korupsi K3
-
TNI Disuruh Urus MBG hingga Begal, Pakar UGM: Lalu Siapa yang Menjaga Pertahanan Negara?
-
Jembatan dan Sekolah Masih Jadi PR, Muzakir Manaf Buka-bukaan Soal Kondisi Terkini Aceh Pascabencana
-
Tangis Penyesalan Noel di Sidang Korupsi K3: Saya Seharusnya Lebih Hati-hati
-
Perempuan Menjaga Pangan dan Alam, Mengapa Justru Paling Rentan terhadap Krisis Iklim?
-
Angka Kecurangan Capai 99 Persen, Ada Apa dengan Fakultas Kedokteran di SNBT 2026?
-
Ironi Awak Kapal Perikanan: Banting Tulang di Tengah Laut, Pulang Malah Nombok Utang ke Majikan
-
Biadab! Sambil Hujan-hujanan, Pria Mabuk di Tangsel Cabuli Bocah Saat Main Petak Umpet
-
Vivace E Menjawab Kebutuhan Rumah Modern yang Estetik, Aman, dan Ramah Anak