News / Internasional
Minggu, 12 April 2026 | 08:20 WIB
Donald Trump (Tangkapan layar X)
Baca 10 detik
  • Donald Trump mengancam China akan hadapi masalah besar jika memasok senjata kepada militer Iran.

  • Amerika Serikat mengklaim telah melumpuhkan kekuatan udara dan laut Iran secara total baru-baru ini.

  • Negosiasi damai antara JD Vance dan delegasi Iran berlangsung intens di Islamabad, Pakistan.

Suara.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump melayangkan ancaman diplomatik serius terhadap China jika terbukti memberikan bantuan persenjataan kepada Iran.

Langkah tegas ini diambil Washington setelah munculnya laporan intelijen yang mengendus rencana Beijing untuk memperkuat lini militer Teheran secara ilegal.

Dikutip dari New York Post, pemerintah Amerika Serikat memandang campur tangan China tersebut sebagai ancaman langsung terhadap stabilitas global yang sedang diupayakan saat ini.

Presiden AS Donald Trump dan Menteri Perang Pete Hegseth. [RollingStone]

Trump menyatakan bahwa dominasi militer Amerika telah berhasil melumpuhkan kekuatan pertahanan Republik Islam Iran hingga pada level terendah.

Keberhasilan melumpuhkan aset strategis lawan menjadi modal utama Gedung Putih dalam menekan pengaruh Teheran di kawasan Timur Tengah.

Gedung Putih memberikan sinyal bahwa hubungan perdagangan dengan Beijing bisa terganggu jika mereka nekat membantu musuh Amerika Serikat.

Donald Trump secara terbuka memperingatkan risiko besar yang akan dihadapi oleh pemerintahan Xi Jinping dalam waktu dekat ini.

"Jika China melakukan itu, China akan menghadapi masalah besar," tegas Presiden Trump.

Posisi tawar Amerika Serikat saat ini dinilai berada di atas angin setelah serangkaian aksi militer yang melemahkan lawan.

Baca Juga: Iran: Tak Ada Keistimewaan, Kapal Pertamina Bisa Bebas Jika Indonesia Negosiasi dengan IRGC

Washington merasa tidak perlu berkompromi dengan pihak manapun yang mencoba mengganggu peta kekuatan militer yang telah mereka bentuk.

Klaim Kemenangan Militer Mutlak Atas Iran

Presiden Trump memaparkan bahwa infrastruktur pertahanan Iran saat ini dalam kondisi yang sangat memprihatinkan dan tidak berdaya.

Ia merinci bahwa negara tersebut tidak lagi memiliki kekuatan armada laut, sistem radar, maupun angkatan udara yang mumpuni.

Kehancuran struktur kepemimpinan dan militer tersebut dianggap sebagai bukti autentik kemenangan total Amerika Serikat dalam konflik berkepanjangan ini.

Oleh karena itu, intervensi negara lain seperti China dianggap sebagai tindakan yang hanya akan menambah komplikasi ekonomi bagi Beijing.

Meskipun tensi militer tetap tinggi, delegasi tingkat tinggi dari kedua negara mulai bertemu di Islamabad untuk mencari solusi damai.

Wakil Presiden JD Vance memimpin langsung perundingan maraton tersebut guna membahas masa depan stabilitas keamanan di wilayah Selat Hormuz.

Tim negosiasi Amerika Serikat juga melibatkan tokoh-tokoh berpengaruh seperti Steve Witkoff dan Jared Kushner dalam meja diplomasi di Pakistan.

Fokus utama Amerika adalah memastikan kelancaran distribusi energi global tanpa gangguan dari blokade militer yang sempat terjadi sebelumnya.

Nasib Aset Iran dan Penguasaan Selat Hormuz

Status aset keuangan Iran yang dibekukan di bank internasional menjadi salah satu poin krusial dalam pembicaraan diplomatik di Islamabad.

Saat ditanya oleh media Asian News International (ANI) pada Minggu (12/4/2026), Trump belum memberikan jawaban pasti mengenai pencairan dana tersebut.

"Kita akan lihat apa yang terjadi. Kita sedang dalam negosiasi mendalam dengan Iran, kita menang apa pun yang terjadi," jawabnya dengan penuh percaya diri.

Strategi Amerika Serikat saat ini lebih berfokus pada penguasaan fisik jalur perdagangan internasional di perairan strategis tersebut.

Trump menegaskan bahwa pasukan Amerika Serikat kini memiliki kontrol penuh terhadap arus lalu lintas logistik di jalur pelayaran dunia.

Amerika Serikat menekankan bahwa seluruh pencapaian militer dan penguasaan wilayah ini dilakukan secara mandiri tanpa bantuan pakta pertahanan.

Klaim kemenangan ini menjadi dasar bagi Amerika untuk tidak merasa terburu-buru dalam mencapai kesepakatan tertulis dengan pihak Iran.

Kedaulatan ekonomi melalui pengangkutan minyak dan gas secara masif menjadi prioritas utama yang sedang dijalankan oleh armada Amerika.

Negosiasi di Pakistan diharapkan mampu menjaga gencatan senjata yang masih sangat rapuh di tengah panasnya retorika politik global.

Konflik ini memuncak setelah satu bulan agresi militer skala penuh yang melumpuhkan sebagian besar infrastruktur strategis di kawasan tersebut.

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran sebelumnya sempat memicu guncangan hebat pada stabilitas harga energi dan perdagangan internasional secara umum.

Pakistan akhirnya turun tangan sebagai mediator untuk memfasilitasi pertemuan tatap muka antara pejabat tinggi Washington dan Teheran secara langsung.

Delegasi Iran dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dalam upaya diplomasi di Islamabad.

Pertemuan ini menjadi momen langka bagi kedua negara untuk duduk bersama setelah periode ketegangan militer yang sangat destruktif bagi kawasan.

Load More