-
Iran dan Amerika Serikat berselisih tajam mengenai hak militer di wilayah Selat Hormuz.
-
Militer Iran mengancam akan menyerang kapal perang Amerika jika memasuki area Selat Hormuz.
-
Perundingan diplomatik di Islamabad terus berlanjut meski dibayangi ancaman konflik bersenjata di laut.
Informasi pergerakan kapal ini segera diteruskan kepada delegasi di Islamabad untuk disampaikan kepada pihak Amerika Serikat.
Ancaman serangan fisik secara terbuka disampaikan melalui perantara diplomatik Pakistan guna menghindari eskalasi yang lebih luas.
“Setiap upaya kapal perang untuk melintasi Selat Hormuz akan dicegah secara tegas. Angkatan Laut IRGC saat ini memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz. Hanya kapal sipil yang diizinkan melintas dengan kondisi tertentu,” demikian pernyataan tersebut.
Teheran memberikan ultimatum bahwa kapal perang tersebut akan menjadi sasaran tembak jika nekat meneruskan perjalanan.
Waktu 30 menit diberikan sebagai batas toleransi sebelum tindakan militer diambil oleh pasukan penjaga pantai Iran.
Peringatan ini dimaksudkan agar proses negosiasi yang sedang berjalan tidak hancur akibat provokasi di lapangan.
Komposisi Delegasi Tingkat Tinggi
Dialog di Pakistan ini melibatkan tokoh-tokoh kunci dari struktur pemerintahan kedua negara yang saling bersitegang.
Delegasi Iran dipimpin langsung oleh Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf didampingi Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.
Baca Juga: Perundingan AS-Iran Kacau, Trump Malah Nonton UFC Ketimbang Negosiasi Selat Hormuz
Di pihak seberang, Wakil Presiden J.D. Vance memimpin delegasi Amerika Serikat bersama tokoh berpengaruh Jared Kushner.
Kehadiran para pejabat tinggi ini menunjukkan betapa krusialnya kesepakatan yang sedang diupayakan di meja perundingan.
Meskipun intensitas ketegangan tinggi, kedua belah pihak masih mencoba mencari titik temu dalam putaran ketiga.
Konfrontasi ini bermula dari pengumuman gencatan senjata sementara selama dua minggu oleh Presiden Donald Trump.
Selat Hormuz merupakan titik sumbat strategis yang dilalui sepertiga dari total perdagangan minyak bumi melalui laut.
Perselisihan mengenai siapa yang berhak mengontrol lalu lintas militer di sana telah berlangsung selama puluhan tahun.
Iran menggunakan kendali selat ini sebagai posisi tawar politik yang kuat menghadapi sanksi ekonomi Barat.
Negosiasi di Islamabad diharapkan mampu meredam potensi perang terbuka di kawasan Teluk yang sangat sensitif.
Berita Terkait
Terpopuler
- Menteri Agama RI Nasaruddin Umar Disebut Mengundurkan Diri
- Partai Kaesang Tutup Pintu Rapat untuk Ketum Projo: Tempat Budi Arie Bukan di PSI
- Desil Tak Akurat Bisa Bikin Warga Kehilangan Hak Bansos!
- Dilaporkan ke Bareskrim Polri, Gus Lilur Tantang 4 Tokoh NU Ngaji Kitab Kuning Saat Muktamar
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 7 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Dua Sepeda Motor yang Dibakar Massa di Pos Polisi Pejompongan Diduga Milik Intel
-
Sepeda Motor Dibakar Dekat Pos Polisi Pejompongan, Bentrok Pecah
-
Tolak MBG dan Kopdes, FMN: Anggaran Hanya Lari ke Prabowo dan Kroni-kroninya!
-
AMPB Pulang Usai Audiensi DPR, Relawan Ojol Curiga Ada Kesepakatan Transaksional
-
Kecewa Ditinggal Begitu Saja, Ojol Jakarta Murka Massa Pati Langsung Pulang Usai dari DPR
Terkini
-
PT DSI Ambil Alih Ekspor SDA, Akademisi Ingatkan Nasib Perusahaan Lokal Sumsel
-
Tuntas Direnovasi, 10 Warga Wonogiri Kini Dapatkan Rumah Sederhana Layak Huni
-
Mengejar Brain Gain Indonesia, Pendidikan Tinggi Perlu Perluas Akses Global
-
Hakim Sebut Ada Dugaan Febrie Terima Uang Rp40 Miliar dari Tan Kian
-
Antisipasi Dampak Kemarau, Kemenhut Evakuasi Tiga Orangutan dari Permukiman Ketapang
-
Belanja Kini Makin Seru, Kuliner Lezat dan Promo Menarik Jadi Magnet Baru Pengunjung
-
Review Viva Moisturizer Gel Hydra Lift, Ini Kandungan dan Pengalaman Pembeli
-
Muktamar ke-35 NU Teguhkan Taawun, Kemandirian Umat dan Persatuan Bangsa
-
Bonus Pulsa Telkomsel Rp17 Ribu Khusus Transaksi via BRImo, Klaim Sekarang!
-
Pos Polisi Slipi Dirusak Massa, Warga Palmerah Rasakan Pedihnya Gas Air Mata