News / Metropolitan
Minggu, 12 April 2026 | 15:00 WIB
Pedagang melayani pembeli plastik di Pasar Minggu, Jakarta, Kamis (9/4/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Gubernur Jakarta Pramono Anung merespons kenaikan harga plastik yang membebani pelaku UMKM di Jakarta.
  • Pemerintah Provinsi Jakarta tidak memiliki kewenangan mengatur harga plastik yang melonjak akibat faktor global seperti harga minyak mentah.
  • Pelaku usaha disarankan beralih menggunakan kemasan tradisional berbahan daun pisang guna menekan biaya produksi dan mengurangi ketergantungan plastik.

Suara.com - Gubernur Jakarta Pramono Anung menanggapi lonjakan tajam harga plastik yang kini membebani para pelaku usaha rumahan dan UMKM. Ia mendorong masyarakat untuk mulai mengurangi ketergantungan pada plastik dan beralih ke bahan kemasan alternatif yang lebih ekonomis.

Pramono mengakui bahwa regulasi penetapan harga plastik berada di luar kewenangan Pemerintah Provinsi Jakarta. Namun, ia menekankan perlunya langkah inovasi agar biaya produksi pedagang tidak terus membengkak.

“Jadi harga plastik ini memang naik, dan harga plastik ini terus terang ketentuan-ketentuannya bukan di Pemerintah DKI Jakarta,” ujar Pramono di Jakarta Timur, Minggu (12/4/2026).

Menurutnya, penggunaan plastik harus dikurangi secara bertahap. Jika pelaku usaha tetap memaksakan penggunaan plastik di tengah harga yang melambung, maka hal tersebut dipastikan akan menjadi beban finansial yang berat.

“Tetapi tentunya kami harus melakukan inovasi karena sekarang ini kebutuhan plastik ini kan pelan-pelan harus dikurangi, harus ada substitusinya. Kalau kondisinya tetap seperti ini, pasti akan menjadi beban,” jelasnya.

Sebagai solusi praktis, Pramono menyarankan para pedagang untuk melirik kembali kemasan tradisional yang lebih ramah lingkungan dan terjangkau, seperti daun pisang. Strategi ini dinilai mampu menekan ongkos produksi bagi usaha kecil.

“Maka untuk itu ya kita kadang-kadang harus kembali ke cara tradisional, pakai bungkus daun pisang dan sebagainya,” imbaunya.

Infografis Harga Plastik Ikut Naik Gara-Gara Perang Timur Tengah. (Suara.com/Rochmat)

Berdasarkan data pasar pada kuartal kedua tahun 2026, industri plastik di Indonesia memang mengalami dinamika harga yang signifikan dengan kenaikan berkisar antara 30 persen hingga 80 persen. Lonjakan ini dipicu oleh sejumlah faktor global yang saling berkaitan.

Pertama, harga minyak mentah dunia yang kini menyentuh level US$110–115 per barel secara otomatis mendongkrak harga biji plastik sebagai produk turunannya. Kedua, gangguan logistik akibat ketegangan di wilayah Timur Tengah menghambat jalur pengiriman bahan baku ke produsen lokal.

Baca Juga: Proyek Dikebut! Stasiun JIS Siap Beroperasi Juni 2026, Warga Bisa Naik KRL Langsung ke Stadion

Selain itu, implementasi kebijakan pajak karbon dan regulasi lingkungan yang lebih ketat turut memberikan kontribusi terhadap kenaikan biaya produksi plastik berbahan dasar virgin resin (murni).

Kondisi inilah yang menuntut para pelaku bisnis untuk segera menyesuaikan strategi kemasan mereka agar tetap kompetitif.

Load More