- Sekelompok pria di Makassar viral karena mengonsumsi oli mesin dengan klaim dapat meningkatkan kesehatan dan kebugaran tubuh.
- MUI Sulawesi Selatan menyatakan mengonsumsi oli hukumnya haram karena zat tersebut bukan diperuntukkan bagi konsumsi manusia.
- Ahli kesehatan memperingatkan bahwa tindakan tersebut berbahaya karena mengandung racun yang berisiko menyebabkan kerusakan organ permanen.
Suara.com - Di sebuah serambi bangunan yang menyerupai masjid, suasana tampak begitu tenang. Sejumlah pria berbaju koko dan bersarung duduk melingkar, bercengkerama layaknya sedang menikmati kopi sore.
Namun, pemandangan berikutnya justru mengusik nalar. Sebuah botol pelumas mesin berwarna merah berpindah tangan.
Tak lama kemudian seorang pria lanjut usia, dengan tenang menuangkan cairan kental itu ke dalam gelas plastik. Tanpa ragu, ia menenggaknya hingga tandas.
"Umur saya 65 tahun. Pegal linu semua hilang, lutut yang tadinya tidak bisa angkat badan, sekarang jadi kuat," ucapnya dengan nada meyakinkan dalam video yang viral di media sosial.
Untuk membuktikannya, pria tua itu langsung turun ke lantai, melakukan beberapa kali gerakan push-up dengan lincah sementara rekan-rekan di sekelilingnya bersorak kagum.
Terbius oleh testimoni tersebut, pria-pria lain di sana, termasuk yang berusia lebih muda, akhirnya ikut menuangkan "minuman" merah itu ke gelas masing-masing.
MUI Sulsel: Oli Bukan Minuman Manusia, Hukumnya Haram
Merespons fenomena nekat ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan segera mengeluarkan pernyataan tegas.
Mereka menekankan bahwa tindakan ini melanggar prinsip dasar menjaga nyawa dalam agama.
Baca Juga: Tiba di Moskow, Ini Agenda Prabowo Selama Kunker di Rusia
Sekretaris MUI Sulsel, Muammar Bakry, menyampaikan bahwa oli merupakan zat kimia yang tidak diperuntukkan bagi manusia dalam kondisi apa pun.
“Karena oli itu bukan minuman manusia dan dipastikan berdampak buruk pada kesehatan, maka hukumnya haram,” tegas Muammar.
Menurutnya, klaim kebugaran yang muncul dalam video tidak bisa dijadikan rujukan.
Dalam pandangan agama, ia juga menjelaskan bahwa sesuatu yang bersifat merusak tubuh tidak boleh dikonsumsi, apalagi jika klaim tersebut tidak memiliki dasar ilmiah yang jelas.
Menelan "Racun Industri"
Jika di dalam video para pelakunya merasa lebih bugar, dunia medis justru melihatnya sebagai "bom waktu".
Epidemiolog dan ahli kesehatan masyarakat, Dicky Budiman, menegaskan bahwa apa yang dilakukan pria-pria tersebut sama saja dengan menelan racun industri.
“Oli mesin mengandung campuran kompleks hidrokarbon, logam berat, dan zat kimia tambahan yang bersifat toksik. Ini masuk kategori non-food grade,” kata Dicky kepada Suara.com.
Dampak yang muncul mungkin tidak langsung membunuh di tempat, namun proses perusakannya sangat mengerikan. Mulai dari iritasi akut hingga aspirasi pneumonitis.
"Ini yang bisa menyebabkan hipoksia (kekurangan oksigen), gagal napas, bahkan kematian," jelas Dicky.
Tak hanya itu, mengonsumsi oli menurut Dicky juga dapat merusak organ dalam jangka panjang. Di mana logam berat yang masuk ke aliran darah akan mengendap di ginjal dan hati, memicu kerusakan organ permanen hingga potensi kanker.
Ilusi "Stamina Mesin" dan Efek Menular
Mengapa aksi berbahaya ini justru ditiru dengan riang gembira?
Dicky menilai ini adalah contoh nyata dari pseudo-sains atau sains palsu. Ada logika sesat yang menurutnya dipercaya masyarakat.
"Kalau oli bisa bikin mesin motor yang tua jadi lancar dan kuat, maka ia bisa melakukan hal yang sama pada sendi manusia," katanya.
"Ini salah besar. Mesin motor terbuat dari baja, sementara organ manusia adalah jaringan biologis yang sangat sensitif," imbuh Dicky.
Fenomena ini semakin berbahaya karena adanya social contagion effect atau penularan sosial.
Dalam video tersebut, aksi push-up si pria tua menjadi "validasi" visual bagi orang di sekitarnya. Mereka melihat bukti fisik sesaat tanpa memahami kerusakan internal yang sedang terjadi.
Lemahnya literasi kesehatan menurut Dicky membuat testimoni pribadi, seperti "badan terasa bugar" lebih dipercaya daripada penjelasan medis.
Padahal, rasa nyaman sesaat itu bisa jadi merupakan reaksi kimia tertentu yang menekan saraf pusat, sementara organ dalam mulai mengalami keracunan.
Fenomena minum kopi yang viral di media sosial ini menurut Dicky sebuah peringatan keras. Di mana komunikasi risiko kesehatan di masyarakat terbukti masih lemah, kalah cepat dengan narasi viral yang menyesatkan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 HP Midrange Serasa Flagship 2026: Spesifikasi Premium dan Performa Juara
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 4 Sepatu Nike Tanpa Tali Serbaguna: Nyaman untuk Olahraga, Praktis buat Jalan Santai
- Danantara Sumberdaya Indonesia Batal Beroperasi Penuh, Pemerintah Mundurkan Skema Ekspor SDA di 2027
- Gugurkan Klaim Santriwati 'Hamil Tanpa Hubungan Badan', Polisi Tangkap Kiai di Pekalongan
Pilihan
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
-
Live 'Pocong Jadi-Jadian' Hebohkan Warga Sragen, 3 Pelajar Diamankan Polisi
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
Terkini
-
Satu Keluarga Rugi Rp700 Juta, Jemaah Hanania Travel Geruduk Polda Metro Jaya
-
Siapa Dalangnya? Polisi Kumpulkan Bukti Dugaan Pembubaran Ibadah di Gereja Sewon Bantul
-
Harta Karun RI Nyaris Lenyap, TNI AL Sergap 25 Kontainer Mineral Ilegal di Batam
-
Tak Peduli Lokasi Munas, HIPMI Jaya: Di Mana Pun Oke, Yang Penting Jangan Pecah!
-
Aksi Kamisan di Istana: Menagih Janji Negara yang Hobi Lupa pada Korban Penghilangan Paksa
-
PKS Salurkan Hewan Kurban hingga ke Wilayah Bencana Banjir Sumatra
-
Misteri Kematian WNA Korea di Bekasi: Ada Luka Benda Tajam dan Tumpul di Tubuh Korban
-
Keracunan atau Apa? 8 Fakta Tewasnya Sekeluarga di Tenda Kamping Temanggung
-
PDIP Remehkan Safari Politik Jokowi: Jadi Presiden Saja Tak Bisa Loloskan PSI, Apalagi Sekarang
-
PBB Dikabarkan Masukkan Israel ke Daftar Hitam Kekerasan Seksual di Zona Konflik