-
Donald Trump memerintahkan blokade laut total terhadap Iran setelah perundingan nuklir di Islamabad gagal.
-
Militer Amerika Serikat disiagakan dalam posisi siap tempur untuk menjaga keamanan navigasi Selat Hormuz.
-
Kebijakan blokade ini memicu kekhawatiran atas kenaikan harga minyak dan stabilitas ekonomi global mendatang.
Kondisi ini menciptakan dilema besar bagi negara-negara konsumen minyak besar, terutama China, yang sangat bergantung pada pasokan Iran.
Senator Mark Warner dari Partai Demokrat mempertanyakan efektivitas blokade dalam membuka kembali akses jalur internasional yang tersumbat.
"Saya tidak memahami bagaimana memblokade selat itu akan mendorong Iran untuk membukanya kembali," kritik Warner dalam wawancara resminya.
Namun, anggota Kongres Mike Turner menilai kebijakan ini sebagai instrumen paksa agar semua pihak kembali ke meja perundingan.
"Presiden, dengan mengatakan bahwa kami tidak akan begitu saja membiarkan mereka menentukan siapa yang boleh melintas, jelas sedang memanggil seluruh sekutu dan semua pihak untuk duduk di meja perundingan," ujar Turner.
"Masalah ini perlu ditangani," tambahnya mengenai urgensi penyelesaian krisis di kawasan Timur Tengah tersebut.
Pertaruhan Ekonomi di Tengah Konflik
Trump tetap optimis bahwa ekonomi Amerika Serikat sanggup bertahan meski harga minyak dunia berisiko melonjak akibat blokade.
Ia meyakini bahwa pada akhirnya Iran akan menyerah dan memberikan segala tuntutan yang diminta oleh pihak Washington.
Baca Juga: Donald Trump: Saya Tidak Mau Paus Mengkritik Presiden Amerika Serikat
"Iran pada akhirnya akan memberikan kepada AS 'segala sesuatu' yang diinginkannya," kata Trump dengan penuh percaya diri.
Keyakinan ini merupakan pertaruhan besar mengingat pemilihan paruh waktu (midterm) akan segera digelar pada bulan November mendatang.
Kegagalan dalam kalkulasi ekonomi dapat berakibat fatal bagi dukungan politik Partai Republik di tingkat domestik.
Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran ini telah memasuki bulan kedua tanpa tanda-tanda deeskalasi yang permanen.
Awalnya, kedua negara sempat menyepakati gencatan senjata selama dua pekan untuk memberi ruang bagi proses diplomasi formal.
Namun, kegagalan di Islamabad memicu Trump untuk kembali menggunakan kekuatan militer dan tekanan ekonomi melalui jalur maritim.
Sebanyak 59 persen warga Amerika Serikat dalam jajak pendapat terbaru menyatakan ketidakpuasan atas jalannya perang yang dianggap merugikan negara.
Kini, nasib stabilitas global bergantung pada adu keteguhan antara ketahanan nasional Iran dan ambisi politik Donald Trump.
Berita Terkait
Terpopuler
- LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan 12 Juli 2026, Masa Sulit Diprediksi Berakhir
- HP Murah Tapi Bagus HP Apa? Ini 9 Rekomendasi Terbaik Mulai Rp1 Jutaan
- 5 Sepatu Kanky Warna Putih Mulai Rp160 Ribuan, Nyaman dan Stylish
- 5 Pilihan Motor Anti Low Back Pain, Cocok Buat Touring di Akhir Pekan
Pilihan
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
-
Iran Luncurkan Serangan Balasan ke Amerika, Serbuan Drone Meluncur
Terkini
-
Bukan Cuma Iseng, Pelaku Teror Bom SDN Srengseng Sawah Ternyata Pernah Ancam Pak RT
-
Pilu! Korban Rudapaksa Jagakarsa Melahirkan, Bayi Terpaksa Diserahkan ke Dinsos
-
Jadi Tersangka, Kejagung Klaim Febrie Adriansyah Mundur Sukarela dan Tak Lagi Dikawal TNI
-
Skandal Korupsi Lingkaran Prabowo, Uji Transparansi dan Integritas Penegakan Hukum
-
Prabowo Perintahkan Harga Khusus BBM untuk Nelayan Kapal 30200 GT
-
Pimpinan Ponpes Pembakar Santri Segera Ditahan, Polisi Ungkap Fakta Miris Sejak 2005
-
DPR Cium Aroma Intervensi Elite Kasus Pembakaran Santri Lombok, Singgung Jaringan Nahdlatul Wathan
-
BNI Lakukan Serangkaian Penguatan Tata Kelola Penyaluran KUR
-
Kejagung Bantah Febrie Adriansyah Umrah Usai Tersangka: Sudah Dicekal, Masih di Indonesia
-
KPK Masih Buka Peluang Supervisi Kasus Eks Jampidsus Febrie Adriansyah, Siap Pantau