-
Hizbullah menuntut penarikan total pasukan Israel dan rekonstruksi Lebanon sebagai syarat damai.
-
Naim Qassem menolak dialog langsung dengan Israel dan menyebut perundingan tersebut tidak bermakna.
-
Pertemuan diplomatik di Washington menjadi upaya terbaru guna mengakhiri agresi militer di Lebanon.
Setiap peluang operasional di lapangan akan dimanfaatkan untuk memukul mundur unit tempur musuh.
Selama kurun waktu 15 bulan terakhir, Israel dinilai terus mengabaikan komitmen perdamaian yang ada.
Ketidakpatuhan terhadap kesepakatan tertanggal 17 November 2024 menjadi batu sandungan utama bagi stabilitas.
Naim Qassem berpendapat bahwa satu-satunya solusi perang hanyalah penghormatan penuh terhadap dokumen gencatan senjata.
Eskalasi militer yang berlarut-larut terjadi karena minimnya itikad baik dari pihak militer pendudukan.
Hizbullah menutup rapat peluang untuk berkomunikasi secara formal dengan otoritas yang dianggap sebagai penjajah.
Desakan Terhadap Pemerintah Lebanon
Pimpinan Hizbullah tersebut menegaskan penolakan dialog dengan "entitas penjajah" serta mengecamnya sebagai langkah yang "tak bermakna".
Hizbullah menuntut adanya sinkronisasi langkah antara kelompok perlawanan dengan otoritas resmi Lebanon.
Baca Juga: Polling, Warga Israel Mulai Capek Sama Perang: Putus Asa Bingung, dan Marah
Pemerintah setempat diminta untuk segera melegalkan kembali seluruh aktivitas militer kelompok tersebut.
Sinergi antara kekuatan rakyat dan militer nasional dianggap krusial dalam menghadapi serangan eksternal.
Keadaan konflik internal antara faksi militer domestik harus segera diakhiri demi fokus pertahanan negara.
Kini mata dunia tertuju pada pertemuan tingkat tinggi yang akan berlangsung di Washington.
Duta Besar Israel Yechiel Leiter dijadwalkan bertemu dengan Dubes Lebanon Nada Hamadeh-Moawad.
Pertemuan tersebut merupakan inisiatif Lebanon yang difasilitasi oleh pihak ketiga sebagai mediator global.
Sentimen publik di Beirut terlihat jelas melalui gelombang unjuk rasa besar yang mendukung langkah Hizbullah.
Konflik ini berakar dari sengketa perbatasan dan agresi militer yang telah berlangsung selama lebih dari setahun.
Kegagalan gencatan senjata tahun 2024 memicu krisis kemanusiaan hebat di wilayah Lebanon Selatan hingga saat ini.
Berita Terkait
Terpopuler
- LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan 12 Juli 2026, Masa Sulit Diprediksi Berakhir
- HP Murah Tapi Bagus HP Apa? Ini 9 Rekomendasi Terbaik Mulai Rp1 Jutaan
- 5 Sepatu Kanky Warna Putih Mulai Rp160 Ribuan, Nyaman dan Stylish
- 5 Pilihan Motor Anti Low Back Pain, Cocok Buat Touring di Akhir Pekan
Pilihan
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
-
Iran Luncurkan Serangan Balasan ke Amerika, Serbuan Drone Meluncur
Terkini
-
Penghentian Pendataan MBG oleh Kejaksaan Dipertanyakan, Diduga Ada Tarik Ulur Politik
-
Skincare Kian Laris di TikTok Shop, BPOM Malah Temukan 9.042 Tautan Kosmetik Ilegal
-
Jawab Kritik DPR, Menkeu Purbaya Pastikan Dana Pendidikan 20 Persen Tak Diganggu
-
Detik-Detik Evakuasi Truk Towing yang Tersangkut JPO Tendean, Crane Besar Diterjunkan
-
'Jangan Ada Dusta!', Pesan Menohok Jaksa KPK di Sidang Suap Bea Cukai Rp78 Miliar
-
Rekayasa Lalu Lintas Imbas Penanganan JPO Tendean, Ini Rute Pengalihan Kendaraan
-
Donald Trump Resmi Kirim Surat ke Kongres AS, Perang Dimulai Kembali
-
Di Balik Alih Status RUU Perampasan Aset, DPR Klaim Punya Cara Mempercepat Pembahasan
-
Lawan Narasi 'Lagi Apes', Jaksa KPK Siapkan 40 Saksi di Sidang Suap Bea Cukai
-
Kementerian HAM Kawal Kasus Pembakaran Tiga Santri di Lombok, Dorong Pemulihan Korban