News / Internasional
Selasa, 14 April 2026 | 15:17 WIB
Blokade Selat Hormuz oleh AS (freepik)

Suara.com - Keputusan Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump untuk memblokade Selat Hormuz menjadi salah satu eskalasi paling signifikan dalam konflik dengan Iran. Langkah ini diumumkan setelah perundingan antara Washington dan Teheran di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan.

Melalui pernyataan di media sosial, Trump menegaskan bahwa Angkatan Laut AS akan mulai memblokir semua kapal yang mencoba masuk atau keluar dari selat strategis tersebut.

Blokade resmi dimulai pada pukul 10.00 waktu Washington, DC (14.00 GMT) pada hari Senin. Kebijakan ini langsung memicu kekhawatiran global, terutama terkait keberlanjutan gencatan senjata dua minggu antara AS dan Iran yang baru saja disepakati sebelumnya.

Selat Hormuz bukan jalur biasa. Sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia melewati wilayah ini sebelum konflik memanas. Karena itu, setiap gangguan di selat ini hampir pasti berdampak langsung pada stabilitas energi global.

Setelah serangan militer AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari, Teheran praktis mengambil kendali atas Selat Hormuz. Selama periode konflik, hanya kapal dari negara-negara tertentu yang dianggap “ramah” serta kapal yang membayar biaya tertentu yang diizinkan melintas dengan aman.

Ketika gencatan senjata mulai berlaku, Iran sempat membuka kembali jalur pelayaran. Namun, volume lalu lintas tetap jauh menurun dibandingkan kondisi normal, menunjukkan bahwa ketegangan belum benar-benar mereda. 

Bentuk Blokade 

Manuver AS blokade Selat Hormuz tidak sepenuhnya menyerupai blokade militer klasik. Menurut pakar hukum maritim, tindakan ini lebih mendekati penerapan sanksi yang didukung kekuatan militer. AS melalui Central Command (CENTCOM) menyatakan akan membatasi kapal yang menuju atau berasal dari Iran, termasuk pelabuhan di Teluk Persia dan Teluk Oman.

Namun, terdapat perbedaan pesan. Di satu sisi, Trump menyebut semua kapal akan diblokir, sementara pernyataan militer AS kemudian memperjelas bahwa hanya kapal terkait Iran yang akan menjadi target. Hal ini menimbulkan ketidakpastian di kalangan pelaku industri pelayaran dan energi.

Baca Juga: Kapal Perang AS USS George HW Bush Bermanuver Jauh ke Afrika Demi Hindari Selat Hormuz

Iran sendiri mengecam langkah tersebut sebagai tindakan ilegal yang setara dengan pembajakan di perairan internasional. Ketegangan hukum internasional pun ikut meningkat, karena belum ada konsensus global mengenai legitimasi tindakan tersebut.

Berikut potensi efek blokade selat Hormuz oleh AS seperti telah Suara.com rangkum dari Al Jazeera:

Angkatan Laut AS bertindak sebagai polisi lalu lintas di Selat Hormuz. [Suara.com/AI]

1. Dampak Ekonomi

Efek paling cepat terasa adalah lonjakan harga minyak dunia. Setelah pengumuman blokade, harga minyak mentah Brent naik lebih dari 8 persen dan menembus angka 103 dolar AS per barel. Ini merupakan kenaikan signifikan setelah sebelumnya harga sempat turun akibat gencatan senjata.

Fluktuasi harga ini menunjukkan betapa sensitifnya pasar energi terhadap situasi geopolitik di Selat Hormuz. Dalam beberapa pekan terakhir saja, harga minyak sempat menyentuh 119 dolar per barel sebelum turun ke bawah 92 dolar, lalu kembali melonjak.

Kenaikan harga energi ini berpotensi memicu efek domino, mulai dari inflasi global, kenaikan harga bahan bakar, hingga meningkatnya biaya logistik dan produksi di berbagai sektor industri.

2. Gangguan Rantai Pasok Global

Selain harga, blokade juga berdampak pada kelancaran distribusi energi. Data menunjukkan bahwa hanya 17 kapal yang melintasi Selat Hormuz dalam satu hari, jauh menurun dari sekitar 130 kapal per hari sebelum konflik.

Penurunan drastis ini menandakan gangguan serius dalam rantai pasok global. Negara-negara yang sangat bergantung pada impor energi melalui jalur ini, seperti Jepang, Korea Selatan, dan China, akan menghadapi tekanan besar jika situasi berlarut-larut.

Bahkan, pasar saham di Asia langsung merespons negatif. Indeks Nikkei Jepang dan KOSPI Korea Selatan mengalami penurunan, sementara kontrak berjangka saham AS juga ikut melemah.

3. Risiko Militer dan Keamanan

Blokade ini juga meningkatkan risiko konflik militer langsung. Iran dilaporkan telah menempatkan ranjau laut di beberapa bagian Selat Hormuz dan bahkan merilis peta jalur aman baru bagi kapal yang ingin melintas.

Sebagai respons, Trump menyatakan bahwa AS akan membersihkan ranjau tersebut dengan bantuan negara NATO. Namun, sekutu seperti Inggris justru mengambil sikap hati-hati dan menolak terlibat dalam operasi militer langsung, meskipun memiliki kemampuan penyapuan ranjau.

Perbedaan sikap ini menunjukkan bahwa dukungan internasional terhadap langkah AS tidak solid. Banyak negara lebih memilih mendorong stabilitas dan pembukaan kembali jalur pelayaran daripada terlibat dalam eskalasi konflik.

Gencatan senjata antara AS-Iran ternyata belum sepenuhnya membuat Selat Hormuz dibuka untuk lalu lintas kapal tanker. [Bartarinha.ir]

4. Dampak Politik Global

Secara politik, blokade ini memperdalam ketegangan antara AS dan Iran sekaligus memperumit hubungan dengan sekutu. Inggris, misalnya, secara terbuka menyatakan fokusnya adalah membuka kembali Selat Hormuz demi menekan harga energi global.

China juga menekankan pentingnya menjaga jalur tersebut tetap aman dan bebas hambatan, serta menyatakan kesiapan untuk bekerja sama dengan semua pihak demi menjaga stabilitas pasokan energi. Minimnya dukungan dari sekutu utama menjadi sinyal bahwa kebijakan blokade ini berpotensi mengisolasi AS dalam panggung diplomasi internasional.

5. Tekanan terhadap Ekonomi Iran

Di sisi lain, blokade ini jelas ditujukan untuk menekan ekonomi Iran. Meski berada dalam kondisi perang, Iran masih mampu mempertahankan ekspor minyaknya melalui Selat Hormuz.

Dengan adanya pembatasan baru, kemampuan tersebut bisa terganggu signifikan. Namun, strategi ini juga berisiko memicu respons balik dari Iran, baik dalam bentuk militer maupun kebijakan ekonomi yang lebih agresif.

Demikian itu beberapa kemungkinan efek blokade Selat Hormuz oleh AS. Blokade Selat Hormuz oleh AS membawa dampak luas, mulai dari lonjakan harga minyak, gangguan distribusi energi, hingga meningkatnya ketegangan geopolitik.

Jalur yang menjadi urat nadi energi dunia ini kini berada di pusat konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Jika situasi terus memburuk, dunia tidak hanya menghadapi krisis energi, tetapi juga potensi konflik yang lebih besar dengan dampak global yang sulit diprediksi.

Kontributor : Mutaya Saroh

Load More