- Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran bersaing memperebutkan pengaruh terhadap Partai NasDem guna kepentingan politik tahun 2029.
- Gibran melakukan konsolidasi politik personal melalui pembentukan relawan serta gerilya menggembosi NasDem untuk memperkuat basis dukungannya di Indonesia.
- Prabowo menemui Surya Paloh di Hambalang pada 11 April 2026 untuk merangkul NasDem masuk ke dalam orbit kekuasaannya.
Suara.com - Dinamika politik pasca-Pilpres 2024 mulai memanas dengan munculnya sinyal persaingan pengaruh antara Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Keduanya disebut-sebut tengah memperebutkan pengaruh terhadap Partai Nasional Demokrat (NasDem) sebagai bagian dari reposisi kekuatan politik menuju 2029.
Analis politik dan militer, Doktor Selamat Ginting, mengungkapkan bahwa pembentukan 34 relawan Gibran di seluruh provinsi Indonesia merupakan sinyal kuat konsolidasi basis politik personal. Menurutnya, Gibran tengah menjalankan pola "pre-presidential positioning" yang dulu pernah dilakukan ayahnya, Joko Widodo (Jokowi).
"Ini adalah sebuah sinyal bahwa Gibran sedang melakukan konsolidasi basis politiknya. Artinya tidak cukup hanya mengandalkan PSI. Saya membaca ini konsolidasi basis politik personal yang dilakukan oleh Gibran untuk early positioning 2029 mendatang," ujar Selamat Ginting dalam kanal YouTube Forum Keadilan TV, Selasa (14/4/2026).
Taktik Gerilya Gibran Gembosi NasDem
Selamat Ginting menyoroti manuver Gibran yang mulai merambah ke partai politik menengah seperti NasDem. Alih-alih membangun partai dari nol, Gibran dinilai lebih tertarik mengambil alih atau "menggembosi" partai yang sudah memiliki kursi di Senayan melalui tokoh-tokoh kuat.
Ia mengungkapkan adanya eksodus sejumlah pentolan NasDem ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI), partai yang kini dipimpin adik Gibran, Kaesang Pangarep. Tokoh-tokoh kuat di Sulawesi Selatan dan Sumatera Barat disebut mulai merapat ke gerbong PSI.
"Gibran menggunakan orang-orang Nasdem yang dulu masuk di dalam untuk gerilya. Gerilya menggembosi Nasdem," ujarnya.
Strategi ini dianggap lebih realistis bagi Gibran daripada mengandalkan PSI yang dalam dua kali pemilu gagal menembus ambang batas parlemen.
Muncul Isu ‘Gren Dam’ dan Pertemuan Hambalang
Di sisi lain, Prabowo Subianto juga tidak tinggal diam. Selamat Ginting membeberkan informasi mengenai pertemuan antara Prabowo dan Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh, di Hambalang pada 11 April lalu yang tidak diketahui pers.
Baca Juga: Dapat Kejutan Ultah di DPR, Titiek Soeharto Senyum-senyum Ditanya Ucapan 'Spesial' dari Prabowo
Pertemuan tersebut memicu spekulasi di media sosial mengenai kemungkinan penggabungan atau akuisisi Partai NasDem oleh Gerindra, yang kemudian memunculkan istilah "Gren Dam" (Gerindra-NasDem).
"Pendekatan Gerindra kira-kira 11 April lalu, berkembang informasi Prabowo menjumpai Surya Paloh tanpa diketahui pers. Pertemuan di Hambalang bisa dibilang posisi Surya Paloh ini kan relatif terjepit setelah di dalam kontestasi Pemilu 2024 lalu berseberangan dengan Jokowi,” ujarnya.
Menurutnya, Surya Paloh saat ini berada dalam posisi dilematis setelah berseberangan dengan Jokowi dalam Pilpres 2024. Namun, adanya ikatan sejarah sesama alumni Golkar, baik dari jalur birokrasi, partai, maupun militer, menjadi jembatan bagi Prabowo untuk merangkul NasDem masuk ke dalam orbit kekuasaannya.
Perebutan Pengaruh Menuju 2029
Selamat Ginting menilai fragmentasi internal di tubuh NasDem tak terelakkan. Para elite partai mulai mencari posisi baru yang lebih dekat dengan lingkar kekuasaan. Mengingat pada pertengahan 2026 mendatang, konstelasi politik diperkirakan kembali berubah menyambut persiapan pemilu berikutnya.
"Partai-partai ini mencari posisi baru dalam orbit kekuasaan dan jika ini benar akan ada eksodus besar-besaran dari tokoh-tokoh Nasdem ke PSI atau ke Gerindra, ini bisa mengindikasikan memang ada fragmentasi internal di tubuh Nasdem," ujarnya.
Reporter: Tsabita Aulia
Berita Terkait
-
Dapat Kejutan Ultah di DPR, Titiek Soeharto Senyum-senyum Ditanya Ucapan 'Spesial' dari Prabowo
-
Siswi 15 Tahun di Langkat Jadi Tersangka Usai Bela Ayah, Curhat ke Prabowo Subianto
-
Geger Isu Dicaplok Gerindra, Nasdem Sebut Tempo Telah Minta Maaf
-
Protes Pemberitaan dan Karikatur Surya Paloh, Massa Partai Nasdem Kepung Kantor Tempo di Palmerah
-
Benarkah Langit RI akan Dibuka untuk Pesawat Tempur AS? Kemhan Tegaskan Perjanjian Belum Final
Terpopuler
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Gugurkan Klaim Santriwati 'Hamil Tanpa Hubungan Badan', Polisi Tangkap Kiai di Pekalongan
- Persija Sudah Temukan Pengganti Mauricio Souza, Target Juara Super League Musim Depan
- 5 Moisturizer Mengandung SPF untuk Pagi Hari, Melembapkan dan Mencerahkan Kulit
Pilihan
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
-
Live 'Pocong Jadi-Jadian' Hebohkan Warga Sragen, 3 Pelajar Diamankan Polisi
Terkini
-
Modus Pungli dan Titipan dalam SPMB 2026, dari Uang Bangku hingga Rekayasa Domisili
-
Tragedi Jip Wisata Bromo: Rem Blong di Tikungan Letter S Wonokitri, Dua Orang Tewas
-
Bahaya Gas N2O Whip Pink: Konsumen Alami Lumpuh Temporer hingga Kerusakan Saraf Tepi
-
Polisi Ungkap Kronologi dan Penyebab Sementara Ledakan PT MCCI Cilegon
-
Polemik Kurban Uang Negara: Dasar Hukum, Pandangan MUI, dan Alasan Pemerintah
-
Geger Eks Pegawai Sudin LH Jakpus Tewas Usai Diduga Lompat dari Jembatan Cawang
-
Gen Z Lebih Berani dan Tak Kenal Takut Dibanding Generasi Orde Baru
-
Kejagung Seret Marcella Santoso ke Kasasi, Incar Pencabutan Izin Praktik Advokat
-
Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
-
MAKI Desak Jaksa Tak Gentar Usut Dugaan Tambang Ilegal Kaltara yang Seret Nama Karuna Murdaya